Mohon tunggu...
Mohammad Rasyid Ridha
Mohammad Rasyid Ridha Mohon Tunggu... Buruh - Bukan siapa-siapa namun ingin berbuat apa-apa

Pekerja di NKRI Pengamat Sosial, pecinta kebenaran...Masih berusaha menjadi orang baik....tak kenal menyerah

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Antara Sempurna dan Cukup

8 Februari 2019   10:58 Diperbarui: 8 Februari 2019   11:21 54
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pada Tahun 70-an, Soichiro Honda, pendiri dan presiden Honda, melompat gembira dan menyatakan akan membuat pernyataan publik tentang mesin rendah emisi yang baru mereka hasilkan setelah sebelumnya menjAlani serangkaian riset. 

Saat itu para peneliti merasa kecewa karena mereka menganggap mesin itu belum sepenuhnya selesai, bahkan permohonan hak patennya sedang mereka proses. 

Untuk membenarkan alasan mengumumkan mesin sebelum selesai, Honda memberitahu insinyur-insinyurnya, "Jika saya bertanya kapan mesin ini akan selesai kepada kalian, hampir dapat dipastikan kalian akan selalu menjawab, "Masih belum', dan perusahaan akan segera bangkrut sebelum mesin itu selesai." (Yozo Hazegawa, Green Car Wars, Hal 82).

Seorang pemimpin kharismatik seperti Honda pasti mengetahui keadaan sesungguhnya dari mesin yang akan diumumkannya, juga perasaan anak buahnya. Namun dia berani memutuskan untuk segera mengumumkan karena punya visi dan kalkulasi. Dengan mengumumkan penemuan mesin tersebut, maka akan menambah semangat kerja para insinyurnya dan memberikan sasaran bersama yang harus dikerjakan sehingga bisa merampungkan mesin tersebut pada kondisi sepatutnya.

Seringkali kita menginginkan kesempurnaan dalam berbagai hal. Sebagai contoh adalah kegiatan menghias rumah. Coba pikirkan apa yang ingin kita lakukan agar rumah kita terlihat lebih indah, rapi, nyaman untuk ditempati. 

Kita mungkin berpikir bahwa rumah harus ada teras, kolam ikan, home teater, sofa lipat. Saat yang lain kita akan berpikir bahwa rumah tidak perlu kolam ikan, namun perlu ditambahkan gorden penyekat. Di saat yang lain lagi mungkin kita akan berpikir sebaliknya atau bahkan yang lain lagi. Semakin lama kita berpikir, maka semakin banyak keinginan dan perubahan yang diperlukan.

Jadi kalau ditanyakan apakah design apapun yang sedang kita kerjakan sudah sempurna, pasti jawabannya belum, persis sama seperti insyinyur-insinyur Honda di atas. Karena sejatinya naluri alamiah manusia itu menginginkan yang terbaik, sempurna untuk semua hal. Namun seperti kita ketahui bahwa tidak ada yang sempurna, tetapi yang ada hanyalah proses menuju ke kesempurnaan.

Jalur pikiran anak buah, insinyur dan kebanyakan orang yang mengejar kesempurnaan dalam mengerjakan sesuatu hal tidak lantas menjadi salah. Justru kalau dalam pekerjaan mereka tidak memikirkan kesempurnaan, patut kita pertanyakan hasil dan kualitas kerjanya. Bagi seorang pemimpin, maka dia harus tahu di titik mana kompromi antara kata "sempurna" dan "cukup". 

Mungkin produk yang dihasilkan masih jauh dari sempurna dari yang diangan-angankan, namun saat ini sudah cukup untuk diterima dan dipasarkan di tengah masyarakat. Kalau mengejar kesempurnaan, maka produk tersebut bisa jadi tidak pernah terwujud, hanya ada dalam angan-angan, pikiran, atau design saja.

Toh meskipun kita menganggap produk yang kita hasilkan saat ini sudah bagus benar, top, sempurna, sebetulnya kita sedang meletakannya dalam konteks dan situasi saat ini. Ketika jaman berubah, teknologi baru ditemukan, kebutuhan manusia berubah, situasi sosial tidak sama, bisa jadi produk tersebut yang awalnya dikatakan sempurna menjadi suatu produk yang sudah usang dan jauh dari kata cukup apalagi sempurna. 

Analoginya dulu telepon rumah sudah sangat sempurna di jamannya, bisa menghubungkan komunikasi orang dari satu benua ke benua lainnya. Namun coba saat ini, sudah sangat ketinggalan sekali dengan Handphone yang bisa dibawa kemana-mana dengan kemampuan yang jauh di atas telepon rumah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun