Mohon tunggu...
Seniya
Seniya Mohon Tunggu... .

Tulisan dariku ini mencoba mengabadikan, mungkin akan dilupakan atau untuk dikenang....

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Waisak: Tiga Peristiwa Biografis Sang Buddha dalam Tipitaka Pali

5 Mei 2012   05:31 Diperbarui: 25 Juni 2015   05:40 0 0 0 Mohon Tunggu...
Waisak: Tiga Peristiwa Biografis Sang Buddha dalam Tipitaka Pali
Tiga Peristiwa Waisak

Tak terasa sebentar lagi umat Buddha akan memperingati hari Waisak pada tanggal 6 Mei 2012 besok. Hari Waisak merupakan hari peringatan kelahiran Bodhisatta Siddhattha Gotama, pencapaian pencerahan Pertapa Gotama, dan wafatnya Sang Buddha Gotama. Secara tradisi Buddhis diyakini bahwa ketiga peristiwa ini terjadi pada hari yang sama, yaitu ketika purnama bulan Vesak (Sanskerta: Vaisak), yang jatuh pada bulan Mei penanggalan Masehi. Bagi kebanyakan umat Buddha tentunya sudah bosan dan bahkan sudah hafal tentang kejadian dalam ketiga peristiwa Waisak ini. Kelahiran Bodhisatta terjadi di sebuah hutan yang disebut Taman Lumbini (sekarang Rumminde di Pejwar, Nepal) pada tahun 623 SM. Begitu dilahirkan bayi Bodhisatta yang tidak terkotori oleh noda apa pun langsung dapat berjalan tujuh langkah dan mengucapkan kata-kata berani bahwa ialah yang teragung di dunia ini. Kemudian pada usia 29 tahun, Pangeran Siddhattha meninggalkan istana dan menjadi pertapa; melakukan pertapaan keras selama enam tahun lamanya hanya membawa pada kelemahan fisik sehingga akhirnya beliau mengubah cara dengan bermeditasi di tepi sungai Neranjana di Gaya tepatnya di bawah pohon assattha (Ficus reliogosa) yang kelak dikenal sebagai pohon Bodhi dan mencapai Kebuddhaan setelah menaklukkan Mara, simbol kekotoran batin. Ini terjadi pada tahun 588 SM. Selama 45 tahun kemudian Sang Buddha berkeliling mengajarkan pencerahan  yang Beliau peroleh kepada semua orang demi kesejahteraan dan kebahagiaan semua makhluk. Pada usia 80 tahun Beliau mengalami sakit karena kondisi fisik yang sudah tua renta dan akhirnya wafat dengan sempurna (Parinibbana) di bawah dua pohon sala kembar di Kusinara, Baranasi (sekarang Benares) pada tahun 543 SM dan dijadikan awal perhitungan tahun Buddhis (Buddhist Era atau disingkat BE). [caption id="" align="aligncenter" width="433" caption="Tiga Peristiwa Waisak"][/caption] Namun kebanyakan kisah biografis yang telah kita ketahui ini merupakan kisah yang diceritakan dalam teks-teks yang muncul belakang, yaitu dalam kitab komentar atau penjelasan yang melengkapi teks kanon Tipitaka. Namun bagaimana sesungguhnya peristiwa-peristiwa ini terjadi menurut ucapan Sang Buddha sendiri? Pada artikel ini penulis akan memberikan beberapa kutipan sutta (kotbah Sang Buddha) dari teks Pali tentang ketiga peristiwa penting yang telah diperingati umat Buddha seluruh dunia selama berabad-abad ini. Kelahiran Bodhisatta Ketika Bodhisatta dilahirkan, para dewa bersukacita dan Pertapa Asita yang berdiam di Himalaya melihat hal ini dalam kunjungannya ke surga. Dari para dewa itu ia mengetahui bahwa seorang calon Buddha (Bodhisatta) telah dilahirkan di negeri Sakya. Inilah deskripsi kejadian ini dalam Nalaka Sutta, Sutta Nipata sebagai berikut:

Suatu hari pada saat istirahat siang, pertapa Asita melihat bahwa tiga puluh dewa telah berkumpul. Dipenuhi suka cita sambil memuji-muji Indra [Sakka, pemimpin para dewa], dengan pakaian putih cemerlang mereka melambai-lambaikan jubah dan bendera mereka dengan amat gembira.
Melihat semua kegembiraan ini, dengan penuh hormat Asita bertanya kepada para dewa tentang hal yang sedang mereka rayakan. "Mengapa engkau semua amat bahagia dan penuh suka cita? Untuk apa semua lambaian dan kibaran bendera-bendera ini?
Belum pernah kulihat kegembiraan seperti ini, bahkan tidak juga ketika para dewa memenangkan pertempuran melawan para asura. Apa yang mungkin mereka lihat sekarang? Pasti ada sesuatu yang luar biasa yang menyebabkan segala suka cita ini.
Mereka menyanyi dan bersorak-sorai, memainkan musik, menari-nari, bertepuk dan melambai-lambai — beritahukanlah mengapa, hai semua makhluk dari puncak Gunung Meru! Jawablah pertanyaanku, agar pikiranku tenang!" "Di suatu desa bernama Lumbini, di negeri Sakya," jawab para dewa, "seorang bodhisatta telah dilahirkan! Seorang makhluk yang akan menjadi Buddha telah dilahirkan, makhluk agung tanpa banding, mutiara berharga bagi kesejahteraan dan manfaat dunia umat manusia. Itulah sebabnya kami amat gembira, amat bergairah, amat senang. Dari semua makhluk, inilah yang sempurna, manusia ini adalah yang teratas, yang tertinggi, pahlawan para makhluk! Inilah manusia yang, dari hutan para Guru, akan memutar Roda ajaran — auman singa, Raja para Binatang!" Ketika mendengar berita ini, Asita meninggalkan surga Tusita dan langsung menuju istana Suddhodana, Raja Sakya. Di sana, sesudah duduk, dia berkata kepada rakyat Sakya: "Di manakah Putra Mahkota? Saya ingin melihatnya." Maka mereka membawa pertapa Asita, yang dijuluki Yang Tak Melekat, dan menunjukkan Pangeran yang baru lahir. Pangeran itu bersinar, berkilau dan elok rupawan. Indah bagaikan melihat emas cair di tangan pengrajin ulung ketika dia mengeluarkannya dari perapian. Melihat Pangeran itu bagaikan melihat terang — terangnya nyala api; terangnya konstelasi bintang yang bergerak di langit malam; terangnya dan bersihnya matahari musim gugur yang bersinar pada hari tak berawan. Pemandangan itu membuat sang pertapa dipenuhi suka cita dan dia merasakan kegembiraan yang luar biasa. Di langit, makhluk-makhluk yang tak terlihat memegangi payung yang dari pusatnya terbentang seribu jeruji. Dewa-dewa lain melambaikan kipas dari ekor yak yang bertangkai emas, dan dewa-dewa ini juga tak tampak. Si pertapa berambut panjang, "Kemegahan yang gelap," demikianlah dia dinamakan, memandangi bayi yang terbaring di kain oranye, yang bersinar bagaikan mata uang emas, di bawah pelindung putih yang dibentangkan di atasnya. Dengan kegembiran yang besar, dia menggendong bayi tersebut. Sekarang singa Sakya berada di dalam gendongan lelaki yang telah menunggunya, manusia yang dapat mengenali semua tanda di tubuhnya — manusia yang dengan amat gembira kemudian mengumandangkan suaranya demikian: "Tidak ada sesuatu pun yang dapat dibandingkan dengan manusia ini; inilah yang tertinggi, inilah manusia yang sempurna!" Pada saat itu pertapa itu ingat bahwa dia akan mati segera — dan dia merasa amat sedih sehingga dia mulai menangis. Orang-orang Sakya bertanya mengapa dia menangis: "Apakah Pangeran berada dalam bahaya?" tanya mereka. Untuk menenangkan mereka dari kecemasan, pertapa itu menjelaskan kepada mereka mengapa dia merasa sedih. "Tidak," katanya, "tidak akan ada bahaya maupun ancaman bagi kehidupan Pangeran, sejauh yang dapat saya lihat. Sebenarnya, baginya tidak akan ada rintangan apa pun sama sekali. Tidak mungkin ada; Dia bukannya makhluk biasa. [Dengarkan dengan cermat:] Pangeran ini akan datang untuk terpenuhinya Pencerahan Sempurna; pangeran dengan pandangan yang sangat murni ini akan mulai memutar roda Kebenaran karena welas asihnya bagi kesejahteraan banyak makhluk. Kehidupan religius akan terbabarkan sepenuhnya. Tetapi bagiku, terbersit sedikit kesedihan dan penderitaan di sini. Karena saya tidak akan hidup lama lagi, dan semasa hidup manusia ini saya akan mati. Jadi saya tidak akan dapat melihat manusia dengan kekuatan yang tak tertandingi ini mengajarkan hal-hal sebagaimana adanya. Itulah satu- satunya alasan saya merasa sedih. Orang-orang Sakya sangat terharu mendengar apa yang dikatakannya, dan dia meninggalkan mereka, keluar dari ruangan-ruangan di dalam istana dan mulai menjalankan praktek kehidupan yang luhur dan bermoral. Tetapi ketika sedang berjalan keluar, dia mulai berpikir tentang kemenakannya, Nalaka. Maka dengan penuh kasih sayang, pertapa Asita berhenti untuk memberitahu tentang manusia dengan kekuatan yang tak ada bandingnya ini serta ajarannya. Dia berkata kepada kemenakannya, "Suatu hari kamu akan mendengar seseorang berbicara tentang 'Buddha'. Kamu akan mendengar tentang orang yang telah mencapai pencerahan sempurna karena mengikuti jalan yang benar. Jika kamu mendengar ini, pergi dan carilah semua hal tentang ajarannya — pergi dan hiduplah dengan Guru ini, dan ikuti praktek-praktek kehidupan suci." Maka Nalaka, karena jasa-jasa perbuatan yang telah dia kumpulkan selama bertahun-tahun lewat tindakan yang baik dan bermanfaat, selalu waspada dan tenang, selalu menjaga keseimbangan inderanya, menanti-nanti munculnya pahlawan penakluk ini. Pada saatnya berita itu benar-benar datang: Sang Buddha mulai memutar roda ajaran. Mengingat nasehat Asita, Nalaka pun pergi untuk menemui pertapa agung ini. Setelah bertemu, dia bertanya kepada manusia yang memiliki kebijaksanaan itu tentang kebijaksanaan tertinggi.

Tak hanya para dewa yang bergembira atas kelahiran Bodhisatta, tetapi banyak hal mengagumkan dan menakjubkan yang terjadi ketika Bodhisatta dilahirkan. Hal ini dijelaskan Bhikkhu Ananda berdasarkan apa yang ia dengar dari Sang Buddha sendiri dalam Acchariya-abbhuta Sutta, Majjhima Nikaya 123 sebagai berikut:

Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Pada saat itu sejumlah bhikkhu sedang duduk di aula pertemuam, di mana mereka berkumpul setelah kembali dari perjalanan menerima dana makanan, setelah makan, ketika diskusi ini muncul di antara mereka: "Sungguh mengagumkan, Teman-teman, sungguh menakjubkan, betapa sakti dan berkuasanya Sang Tathāgata! Karena Beliau mampu mengetahui tentang para Buddha masa lampau – yang mencapai Nibbāna akhir, memotong [kekusutan] proliferasi, mematahkan siklus, mengakhiri lingkaran, dan mengatasi segala penderitaan – bahwa kelahiran para Bhagavā itu adalah seperti demikian, nama mereka adalah demikian, suku mereka adalah deikian, moralitas mereka adalah denikian, kondisi [konsentrasi] mereka adalah demikian, kebijaksanaan mereka adalah demikian, kediaman mereka [di dalam pencapaian] adalah demikian, kebebasan mereka adalah demikian. " Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Ānanda berkata kepada para bhikkhu: “Teman-teman, Para Tathāgata adalah mengagumkan dan memiliki kualitas-kualitas mengagumkan. Para Tathāgata adalah menakjubkan dan memiliki kualitas-kualitas menakjubkan.” [Kemampuan ini ditunjukkan dalam Digha Nikaya 14, di mana Sang Buddha memberikan informasi terperinci mengenai enam Buddha sebelum Beliau.] Akan tetapi, diskusi mereka terhenti; karena Sang Bhagavā bangun dari meditasiNya pada malam itu, memasuki aula pertemuan, dan duduk di tempat yang telah dipersiapkan. Kemudian Beliau bertanya kepada para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu, untuk mendiskusikan apakah kalian duduk bersama di sini saat ini? Dan diskusi apakah yang terhenti?” “Di sini, Yang Mulia, kami sedang duduk di aula pertemuan, di mana kami berkumpul setelah kembali dari perjalanan menerima dana makanan, setelah makan, diskusi ini muncul di antara kami: ‘Sungguh mengagumkan, Teman-teman, sungguh menakjubkan ... kebebasan mereka adalah demikian.’ Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Ānanda berkata kepada kami: “Teman-teman, Para Tathāgata adalah mengagumkan dan memiliki kualitas-kualitas mengagumkan. Para Tathāgata adalah menakjubkan dan memiliki kualitas-kualitas menakjubkan.” Ini adalah diskusi kami, Yang Mulia, yang terhenti ketika Sang Bhagavā datang.” Kemudian Sang Bhagavā berkaat kepada Yang Mulia Ānanda: “Kalau begitu, Ānanda, jelaskanlah dengan lebih lengkap tentang kualitas-kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Tathāgata.” “Aku mendengar dan mempelajari ini, Yang Mulia, dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Dengan penuh perhatian dan penuh kewaspadaan, Ānanda, Sang Bodhisatta muncul di alam surga Tusita.’  Bahwa dengan penuh perhatian dan penuh kewaspadaan, Ānanda, Sang Bodhisatta muncul di alam surga Tusita. Ini kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā. [Ini merujuk pada kelahiran kembali Sang Bodhisatta di alam surga Tusita, setelah kehidupannya di alam manusia sebagai Vessantara dan sebelum kelahirannya di alam manusia sebagai Siddhattha Gotama.] “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Dengan penuh perhatian dan penuh kewaspadaan Sang Bodhisatta berada di alam surga Tusita.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Sepanjang umur kehidupan penuh Sang Bodhisatta berada di alam surga Tusita.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Dengan penuh perhatian dan penuh kewaspadaan Sang Bodhisatta meninggal dunia dari alam surga Tusita dan masuk ke dalam rahim ibunya.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta meninggal dunia dari alam surga Tusita dan masuk ke dalam rahim ibunya, suatu cahaya yang tidak terukur yang melampaui para dewa muncul di dunia ini bersama dengan para dewa, Māra, dan Brahmā, dalam generasi ini bersama dengan para pertapa dan brahmana, dengan para raja dan rakyatnya. Dan alam ruang antara yang tanpa dasar, kelam, gelap gulita, di mana bulan dan matahari, yang kuat dan perkasa, tidak dapat menjangkaunya – cahaya terang yang tidak terukur melampaui kemegahan para dewa juga muncul di sana.  Dan makhluk-makhluk yang terlahir kembali di sana dapat saling melihat karena cahaya itu: “Sesungguhnya, Tuan, ada makhluk-makhluk lain yang terlahir kembali di sini!” Dan sepuluh ribu sistem dunia ini bergoyang dan bergoncang dan bergetar, dan di sana juga muncul cahaya terang yang tidak terukur melampaui kemegahan para dewa.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā. [Di antara setiap tiga sistem dunia terdapat sebuah ruang antara berukuran 8,000 yojana; ini seperti ruang antara ketiga roda kereta atau mangkuk yang saling bersentuhan. Makhluk-makhluk terlahir kembali di sana karena melakukan pelanggaran berat terhadap orang tua mereka atau para pertapa dan brahmana baik, atau karena kebiasaan-kebiasaan jahat seperti membunuh binatang, dan lain-lain.] “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta telah memasuki rahim ibunya, empat dewa muda datang untuk menjaganya di empat penjuru agar tidak ada manusia atau bukan-manusia atau siapapun dapat mencelakai Sang Bodhisatta atau ibunya.’  Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā. [Empat dewa adalah Empat Raja Dewa (para dewa yang menetap di alam surga Empat Raja Dewa)] “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta telah memasuki rahim ibunya, sang ibu menjadi sungguh-sungguh bermoral, menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, perilaku salah dalam kenikmatan indria, kebohongan, dan anggur, meniman keras, dan minuman memabukkan, yang menjadi landasan kelengahan.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta telah memasuki rahim ibunya, tidak ada pikiran indriawi yang muncul pada ibunya sehubungan dengan laki-laki, dan ia tidak tersentuh oleh laki-laki manapun yang memiliki pikiran bernafsu.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta telah memasuki rahim ibunya, sang ibu memperoleh kelima utas kenikmatan indria, dan memilikinya, ia menikmatinya.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta telah memasuki rahim ibunya, tidak ada penderitaan apapun yang muncul pada sang ibu; ia bahagia dan bebas dari kelelahan jasmani. Ia melihat Sang Bodhisatta di dalam rahimnya dengan seluruh bagian-bagian tubuhnya, lengkap dengan organ-organ indria. Misalkan terdapat seutas benang berwarna biru, kuning, merah, putih, atau coklat menembus mengikat sebuah permata beryl yang indah sebening air yang paling jernih, bersisi-delapan, dipotong dengan baik, dan seseorang yang berpenglihatan baik, memegangnya dengan tangannya, mengamatinya sebagai berikut: “Ini adalah permata beryl yang indah sebening air yang paling jernih, bersisi-delapan, dipotong dengan baik, jernih dan cemerlang, memiliki segala kualitas baik, dan seutas benang berwarna biru, kuning, merah, putih, atau coklat menembus mengikatnya.” Demikian pula, ketika Sang Bodhisatta telah memasuki rahim ibunya ... lengkap dengan organ-organ indria.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ’Tujuh hari setelah kelahiran Sang Bodhisatta, sang ibu meninggal dunia dan muncul kembali di alam surga Tusita.’  Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā. [Hal ini terjadi, bukan karena kegagalan dalam persalinan, melainkan karena habisnya umur kehidupannya; karena tempat (di dalam rahim) yang ditempati oleh Sang Bodhisatta, yang menyerupai kamar bagian dalam dari sebuah cetiya, tidak dapat digunakan oleh orang lain.] “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ’Para perempuan lain melahirkan setelah mengandung anaknya dalam rahim selama sembilan atau sepuluh bulan, tetapi tidak demikian dengan ibu Sang Bodhisatta. Ibu Sang Bodhisatta melahirkanNya setelah mengandungNya selama tepat sepuluh bulan.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ’Para perempuan lain melahirkan dalam posisi duduk atau berbaring, tetapi tidak demikian dengan ibu Sang Bodhisatta. Ibu Sang Bodhisatta melahirkanNya dalam posisi berdiri.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta keluar dari rahim ibunya, pertama-tama para dewa menerimaNya, kemudian manusia.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta keluar dari rahim ibunya, Beliau tidak menyentuh tanah. Empat dewa muda menerimanya dan mengangkatnya di depan sang ibu dengan mengatakan: “Bergembiralah, O Ratu, seorang putera dengan kekuasaan luar biasa telah engkau lahirkan.”’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta keluar dari rahim ibunya, Beliau keluar dalam keadaan bersih, tidak berlumuran air atau cairan atau darah atau kotoran apapun juga, bersih, dan tanpa noda. Misalkan terdapat sebutir permata yang diletakkan di atas sehelai kain Kāsi, maak permata itu tidak mengotori kain atau kain mengotori permata. Mengapakah? Karena kemurnian keduanya. Demikian pula Sang Bodhisatta keluar ... bersih, dan tanpa noda.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta keluar dari rahim ibunya, dua pancuran air memancar dari angkasa, satu sejuk dan satu hangat, untuk memandikan Sang Bodhisatta dan ibunya.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Segera setelah Sang Bodhisatta lahir, Beliau berdiri tegak dengan kaki menginjak tanah; kemudian Beliau berjalan tujuh langkah ke arah utara, dan dengan payung putih memayungiNya, Beliau mengamati tiap-tiap penjuru dan mengucapkan kata-kata seorang Pemimpin Kelompok: “Akulah yang tertinggi di dunia; Akulah yang terbaik di dunia; Akulah yang terkemuka di dunia. Inilah kelahiranKu yang terakhir; sekarang tidak ada lagi penjelmaan baru bagiKu.”’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā. [Masing-masing aspek dari peristiwa ini sebagai simbol dari pencapaian Sang Buddha kelak. Demikianlah, berdiri pada kedua kakinya (pāda) dengan tegak di atas tanah adalah simbol dari pencapaian empat landasan kekuatan batin (iddhipāda); Beliau menghadap ke utara, melambangkan Beliau mengarah ke atas dan melampaui banyak makhluk; tujuh langkahNya, melambangkan Beliau memperoleh tujuh faktor pencerahan sempurna; payung putih, melambangkan Beliau memperoleh payung kebebasan; mengamati segala penjuru, melambangkan Beliau memperoleh pengetahuan kemahatahuan yang tanpa halangan; mengucapkan kata-kata seorang Pemimpin Kelompok, melambangkan Beliau memutar Rioda Dhamma yang tidak bisa dihalangi; pernyataan “Inilah kelahiranKu yang terakhir,” melambangkan Beliau meninggal dunia dan memasuki unsur Nibbāna tanpa sisa (dari faktor-faktor kehidupan).] “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta keluar dari rahim ibunya, suatu cahaya yang tidak terukur yang melampaui para dewa muncul di dunia ini bersama dengan para dewa, Māra, dan Brahmā, dalam generasi ini bersama dengan para pertapa dan brahmana, dengan para raja dan rakyatnya. Dan bahkan alam ruang antara yang tanpa dasar, kelam, gelap gulita, di mana bulan dan matahari, yang kuat dan perkasa, tidak dapat menjangkaunya – cahaya terang yang tidak terukur melampaui kemegahan para dewa juga muncul di sana.’ Dan makhluk-makhluk yang terlahir kembali di sana dapat saling melihat karena cahaya itu: “Sesungguhnya, Tuan, ada makhluk-makhluk lain yang terlahir kembali di sini!” Dan sepuluh ribu sistem dunia ini bergoyang dan bergoncang dan bergetar, dan di sana juga muncul cahaya terang yang tidak terukur melampaui kemegahan para dewa ... Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.” [Kemudian Sang Buddha berkata:] “Karena itu, Ānanda, ingatlah ini juga sebagai kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Tathāgata: Di sini, Ānanda, bagi Sang Tathāgata perasaan-perasaan dikenali pada saat munculnya, pada saat berlangsungnya, pada saat lenyapnya; persepsi-persepsi dikenali pada saat munculnya, pada saat berlangsungnya, pada saat lenyapnya; pikiran-pikiran dikenali pada saat munculnya, pada saat berlangsungnya, pada saat lenyapnya.  Ingatlah ini juga, Ānanda, sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.” [Pernyataan ini  tampaknya adalah cara Sang Buddha dalam menilai kualitas yang Beliau anggap sebagai yang sungguh-sungguh mengagumkan dan menakjubkan, bukan semata-mata dari peristiwa-peristiwa luar biasa yang Beliau alami dalam kehidupan-Nya, tetapi kualitas batin yang sempurna dari seorang Buddha.] “Yang Mulia, karena bagi Sang Bhagavā perasaan-perasaan dikenali pada saat munculnya, pada saat berlangsungnya, pada saat lenyapnya; persepsi-persepsi dikenali pada saat munculnya, pada saat berlangsungnya, pada saat lenyapnya; pikiran-pikiran dikenali pada saat munculnya, pada saat berlangsungnya, pada saat lenyapnya - Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.” Ini adalah apa yang dikatakan oleh Yang Mulia Ānanda. Sang Guru menyetujuinya. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Yang Mulia Ānanda.

Pencerahan Sempurna Pertapa Gotama Pada usia 29 tahun setelah menyadari adanya kondisi yang tidak memuaskan (dukkha) dalam kehidupannya dalam istana, Pangeran Siddhattha memutuskan untuk meninggalkan istana dan menjadi pertapa. Setelah tidak menemukan jawaban atas pertanyaan bagaimana membebaskan diri dari lingkaran kehidupan dan kematian (samsara) dari kedua gurunya (Alara Kalama dan Uddaka Ramaputta), Pertapa Gotama pergi bertapa di hutan Uruvela untuk mencari jalannya sendiri. Dalam Ariyapariyesana Sutta, Majjhima Nikaya 26, Sang Buddha menceritakan hal ini kepada para bhikkhu:

“Para bhikkhu, sebelum pencerahanKu, sewaktu Aku masih menjadi seorang Bodhisatta yang belum tercerahkan, Aku juga, dengan diriKu yang tunduk pada kelahiran, mencari apa yang juga tunduk pada kelahiran; dengan diriKu yang tunduk pada penuaan, penyakit, kematian, dukacita, dan kekotoran, Aku mencari apa yang juga tunduk pada penuaan, penyakit, kematian, dukacita, dan kekotoran. Kemudian Aku merenungkan: ‘Mengapa, dengan diriku sendiri tunduk pada kelahiran, Aku mencari apa yang juga tunduk pada kelahiran? Mengapa, dengan diriKu sendiri yang tunduk pada penuaan, penyakit, kematian, dukacita, dan kekotoran, Aku mencari apa yang juga tunduk pada penuaan, penyakit, kematian, dukacita, dan kekotoran? Bagaimana jika, dengan diriKu sendiri tunduk pada kelahiran, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada kelahiran, Aku mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak terlahirkan, Nibbāna. Bagaimana jika, dengan diriKu sendiri yang tunduk pada penuaan, penyakit, kematian, dukacita, dan kekotoran, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada penuaan, penyakit, kematian, dukacita, dan kekotoran, Aku mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak mengalami penuaan, penyakit, kematian, dukacita, dan kekotoran, Nibbāna.’“Kemudian, sewaktu Aku masih muda, seorang pemuda berambut hitam memiliki berkah kemudaan, dalam tahap kehidupan utama, walaupun ibu dan ayahku menginginkan sebaliknya dan menangis dengan wajah basah oleh air mata, Aku mencukur rambut dan janggutKu, mengenakan jubah kuning, dan pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. “Setelah meninggalkan keduniawian, para bhikkhu, dalam mencari apa yang bermanfaat, mencari kondisi tertinggi dari kedamaian tertinggi, Aku mendatangi Āḷāra Kālāma dan berkata kepadanya: ‘Teman Kālāma, Aku ingin menjalani kehidupan suci dalam Dhamma dan Disiplin ini.’ Āḷāra Kālāma menjawab: ‘Yang Mulia boleh menetap di sini. Dhamma ini adalah sedemikian sehingga seorang bijaksana dapat segera memasuki dan berdiam di dalamnya, menembus doktrin gurunya sendiri untuk dirinya sendiri melalui pengetahuan langsung.’ Aku dengan segera mempelajari Dhamma itu. Sejauh hanya mengulangi dan melafalkan ajarannya melalui mulut, Aku dapat mengatakan dengan pengetahuan dan kepastian, dan Aku mengakui, ‘Aku mengetahui dan melihat’ – dan ada orang-orang lain yang juga melakukan demikian. “Aku merenungkan: ‘Bukan hanya sekadar keyakinan saja maka Āḷāra Kālāma menyatakan: “Dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung, Aku memasuki dan berdiam dalam Dhamma ini.” Āḷāra Kālāma pasti berdiam dengan mengetahui dan melihat Dhamma ini.’ Kemudian Aku mendatangi Āḷāra Kālāma dan bertanya: ‘Teman Kālāma, dalam cara bagaimanakah engkau menyatakan bahwa dengan menembusnya untuk dirimu sendiri dengan pengetahuan langsung engkau masuk dan berdiam dalam Dhamma ini?’ sebagai jawaban ia menyatakan landasan kekosongan. [Ia mengajarkan Beliau tujuh pencapaian (meditasi ketenangan) yang berakhir pada landasan kekosongan, ketiga dari empat pencapaian tanpa-materi. Walaupun pencapaian-pencapaian ini adalah luhur secara spiritual, namun masih dalam lingkup duniawi dan tidak secara langsung mengarah pada Nibbāna.] “Aku merenungkan: ‘Bukan hanya Āḷāra Kālāma yang memiliki keyakinan, kegigihan, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Aku juga memiliki keyakinan, kegigihan, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Bagaimana jika Aku berjuang untuk menembus Dhamma yang dinyatakan oleh Āḷāra Kālāma bahwa ia telah memasuki dan berdiam dalamnya dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung?’ “Aku dengan cepat memasuki dan berdiam dalam Dhamma dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung. Kemudian Aku mendatangi Āḷāra Kālāma dan bertanya: ‘Teman Kālāma, apakah dengan cara ini engkau menyatakan bahwa engkau masuk dan berdiam dalam Dhamma ini dengan menembusnya untuk dirimu sendiri dengan pengetahuan langsung?’ – ‘Demikianlah, teman.’ – ‘Adalah dengan cara ini, teman, bahwa Aku juga masuk dan berdiam dalam Dhamma ini dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung.’ – ‘Suatu keuntungan bagi kita, teman, suatu keuntungan besar bagi kita bahwa kita memiliki seorang mulia demikian bagi teman-teman kita dalam kehidupan suci. jadi Dhamma yang kunyatakan telah kumasuki dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk diriku sendiri dengan pengetahuan langsung adalah juga Dhamma yang engkau masuki dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk dirimu sendiri dengan pengetahuan langsung. Dan Dhamma yang engkau masuki dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk dirimu sendiri dengan pengetahuan langsung adalah Dhamma yang kunyatakan telah aku masuki dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk diriku sendiri dengan pengetahuan langsung. Jadi Engkau mengetahui Dhamma yang kuketahui dan aku mengetahui Dhamma yang Engkau ketahui. Sebagaimana aku, demikian pula Engkau; sebagaimana Engkau, demikian pula aku. Marilah, teman, mari kita memimpin komunitas ini bersama-sama. “Demikianlah Āḷāra Kālāma, guruKu, menempatkan Aku, muridnya, setara dengan dirinya dan menganugerahi diriku dengan penghormatan tertinggi. Tetapi aku berpikir: ‘Dhamma ini tidak menuntun menuju kekecewaan, tidak menuntun menuju kebosanan, tidak menuntun menuju lenyapnya, tidak menuntun menuju kedamaian, tidak menuntun menuju pengetahuan langsung, tidak menuntun menuju Nibbāna, tetapi hanya menuntun menuju kemunculan kembali dalam landasan kekosongan.’  Karena tidak puas dengan Dhamma itu, Aku pergi dan meninggalkan tempat itu. [Yaitu, menuntun menuju kelahiran kembali di alam kehidupan yang disebut landasan kekosongan, tujuan dari pencapaian meditatif ke tujuh. Di sini umur kehidupannya adalah 60,000 kappa, tetapi ketika jangka waktu itu telah berlalu, seseorang akan meninggal dunia dan kembali ke alam yang lebih rendah. Dengan demikian seseorang yang mencapai ini masih belum terbebas dari kelahiran dan kematian namun terperangkap dalam jebakan Māra] “Masih dalam pencarian, para bhikkhu, terhadap apa yang bermanfaat, mencari kondisi tertinggi dari kedamaian tertinggi, Aku mendatangi Uddaka Rāmaputta dan berkata kepadanya: ‘Teman, Aku ingin menjalani kehidupan suci dalam Dhamma dan Disiplin ini.’  Uddaka Rāmaputta menjawab: ‘Yang Mulia boleh menetap di sini. Dhamma ini adalah sedemikian sehingga seorang bijaksana dapat segera memasuki dan berdiam di dalamnya, menembus doktrin gurunya sendiri untuk dirinya sendiri melalui pengetahuan langsung.’ Aku dengan segera mempelajari Dhamma itu. Sejauh hanya mengulangi dan melafalkan ajarannya melalui mulut, Aku dapat mengatakan dengan pengetahuan dan kepastian, dan Aku mengakui, ‘Aku mengetahui dan melihat’ – dan ada orang-orang lain yang juga melakukan demikian. “Aku merenungkan: ‘Bukan hanya sekadar keyakinan saja maka Rāma menyatakan: “Dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung, Aku memasuki dan berdiam dalam Dhamma ini.” Rāma pasti berdiam dengan mengetahui dan melihat Dhamma ini.’ Kemudian Aku mendatangi Uddaka Rāmaputta dan bertanya: ‘Teman, dalam cara bagaimanakah Rāma menyatakan bahwa dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung ia masuk dan berdiam dalam Dhamma ini?’ sebagai jawaban ia menyatakan landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. “Aku merenungkan: ‘Bukan hanya Rāma yang memiliki keyakinan,  kegigihan, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Aku juga memiliki keyakinan, kegigihan, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Bagaimana jika Aku berjuang untuk menembus Dhamma yang dinyatakan oleh Rāma bahwa ia telah memasuki dan berdiam dalamnya dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung?’ “Aku dengan cepat memasuki dan berdiam dalam Dhamma dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung. Kemudian Aku mendatangi Uddaka Rāmaputta dan bertanya: ‘Teman, apakah dengan cara ini Rāma menyatakan bahwa ia masuk dan berdiam dalam Dhamma ini dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung?’ – ‘Demikianlah, teman.’ – ‘Adalah dengan cara ini, teman, bahwa Aku juga masuk dan berdiam dalam Dhamma ini dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung.’ – ‘Suatu keuntungan bagi kita, teman, suatu keuntungan besar bagi kita bahwa kita memiliki seorang mulia demikian bagi teman-teman kita dalam kehidupan suci. jadi Dhamma yang dinyatakan oleh Rāma telah ia masuki dan diami di dalamnya dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung adalah juga Dhamma yang engkau masuki dan diami di dalamnya dengan menembusnya untuk dirimu sendiri dengan pengetahuan langsung. Dan Dhamma yang engkau masuki dan diami di dalamnya dengan menembusnya untuk dirimu sendiri dengan pengetahuan langsung adalah Dhamma yang dinyatakan oleh Rāma telah ia masuki dan diami di dalamnya dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung. Jadi Engkau mengetahui Dhamma yang diketahui oleh Rāma dan Rāma mengetahui Dhamma yang Engkau ketahui. Sebagaimana Rāma, demikian pula Engkau; sebagaimana Engkau, demikian pula Rāma. Marilah, teman, mari kita memimpin komunitas ini bersama-sama. “Demikianlah Uddaka Rāmaputta, temanKu dalam kehidupan suci, menempatkan Aku dalam posisi seorang guru dan menganugerahi diriku dengan penghormatan tertinggi. Tetapi aku berpikir: ‘Dhamma ini tidak menuntun menuju kekecewaan, menuju kebosanan, menuju lenyapnya, menuju kedamaian, menuju pengetahuan langsung, menuju Nibbāna, tetapi hanya menuju kemunculan kembali dalam landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.’ Karena tidak puas dengan Dhamma itu, Aku pergi dan meninggalkan tempat itu. [Seperti ditunjukkan oleh namanya, Uddaka adalah putera (putta) dari Rāma, yang pasti telah meninggal dunia sebelum kedatangan Sang Bodhisatta. Perhatikan bahwa semua rujukan pada Rāma dituliskan dalam bentuk lampau dan sebagai orang ketiga, dan bahwa Uddaka pada akhirnya menempatkan Sang Bodhisatta dalam posisi guru. Walaupun teks tidak memberikan akhir yang pasti, namun ini menyiratkan bahwa ia sendiri belum mencapai pencapaian keempat landasan meditatif tanpa-materi itu.] “Masih dalam pencarian, para bhikkhu, terhadap apa yang bermanfaat, mencari kondisi tertinggi dari kedamaian tertinggi, Aku mengembara secara bertahap melewati Negeri Magadha hingga akhirnya Aku sampai di Senānigama di dekat Uruvelā. Di sana Aku melihat sepetak tanah yang nyaman, hutan yang indah dengan aliran sungai yang jernih dengan pantai yang halus dan menyenangkan dan di dekat sana terdapat sebuah desa sebagai sumber dana makanan. Aku merenungkan: ‘Ini adalah sepetak tanah yang nyaman, ini adalah hutan yang indah dengan aliran sungai yang jernih dengan pantai yang halus dan menyenangkan dan di dekat sana terdapat sebuah desa sebagai sumber dana makanan. Ini akan membantu usaha seseorang yang bersungguh-sungguh untuk berusaha.’ Dan Aku duduk di sana berpikir: ‘Ini akan membantu usaha.’

Di hutan itu bersama dengan lima pertapa lainnya, Pertapa Gotama melakukan praktek penyiksaan diri yang ekstrem, seperti dengan mengertakkan gigiku dan menekan lidahku ke langit-langit mulut, meditasi menahan napas yang keluar dari mulut, hidung dan telinga, serta hanya makan sangat sedikit hingga tubuhnya menyerupai kerangka hidup, seperti yang dikisahkan Sang Buddha dalam Mahasaccaka Sutta, Majjhima Nikaya 36 berikut:

“Aku berpikir: ‘Bagaimana jika aku berlatih sepenuhnya tidak makan.’ Kemudian para dewa mendatangiKu dan berkata: ‘Tuan, jangan berlatih sepenuhnya tidak makan. Jika Engkau melakukan hal itu, kami akan memasukkan makanan surgawi ke dalam pori-pori kulitMu dan Engkau akan hidup dengan itu.’ Aku mempertimbangkan: ‘Jika Aku mengaku sepenuhnya tidak makan sementara para dewa ini memasukkan makan-makanan surgawi ke dalam pori-pori kulitku dan Aku akan hidup dengan itu, maka artinya Aku berbohong.’ Maka aku mengusir para dewa itu, dan berkata: ‘Tidak perlu.’“Aku berpikir: ‘Bagaimana jika Aku memakan sangat sedikit makanan, segenggam setiap kalinya, apakah sop kacang atau sop kacang tanah atau sop kacang hijau atau sop kacang polong.’ Maka Aku memakan sangat sedikit makanan segenggam setiap kalinya, apakah sop kacang atau sop kacang tanah atau sop kacang hijau atau sop kacang polong. Sewaktu Aku melakukan demikian, tubuhKu menjadi sangat kurus. Karena makan begitu sedikit anggota-anggota tubuhku menjadi seperti tanaman merambat atau batang bambu. Karena makan begitu sedikit punggungku menjadi seperti kuku onta. Karena makan begitu sedikit tonjolan tulang punggungku menonjol bagaikan untaian tasbih. Karena makan begitu sedikit tulang rusukKu menonjol karena kurus seperti kasau dari sebuah lumbung tanpa atap. Karena makan begitu sedikit bola mataKu masuk jauh ke dalam lubang mata, terlihat seperti kilauan air yang jauh di dalam sumur yang dalam. Karena makan begitu sedikit kulit kepalaKu mengerut dan layu bagaikan buah labu pahit yang mengerut dan layu oleh angin dan matahari. Karena makan begitu sedikit kulit perutku menempel pada tulang punggungKu; sedemikian sehingga jika Aku menyentuh kulit perutKu maka akan tersentuh tulang punggungKu, dan jika Aku menyentuh tulang punggungKu maka akan tersentuh kulit perutKu. Karena makan begitu sedikit, jika Aku mencoba menyamankan diriKu dengan memijat badanKu dengan tanganKu, maka bulunya, tercabut pada akarnya, berguguran dari badanKu ketika Aku menggosoknya. “Saat itu ketika orang-orang melihatKu, beberapa berkata: ‘Pertapa Gotama hitam.’ Orang lain berkata: ‘Pertapa Gotama tidak hitam, Beliau cokelat. Orang lain lagi berkata: ‘Pertapa Gotama bukan hitam juga bukan cokelat, ia berkulit keemasan.’ Kulitku yang bersih dan cerah menjadi sangat kusam karena makan sangat sedikit. “Aku berpikir: ‘Para pertapa atau brahmana manapun di masa lampau telah mengalami perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk Karena usaha ini, ini adalah yang terjauh, tidak ada yang melampaui ini. Dan para pertapa atau brahmana manapun di masa depan akan mengalami perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk Karena usaha ini, ini adalah yang terjauh, tidak ada yang melampaui ini. Dan para pertapa atau brahmana manapun di masa sekarang mengalami perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk Karena usaha ini, ini adalah yang terjauh, tidak ada yang melampaui ini. Tetapi melalui latihan keras yang menyiksa ini Aku tidak mencapai kondisi melampaui manusia apapun, keluhuran apapun dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia. Apakah ada jalan lain menuju pencerahan?” “Aku mempertimbangkan: ‘Aku ingat ketika ayahKu orang Sakya yang berkuasa, sewaktu Aku sedang duduk di keteduhan pohon jambu, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, Aku masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan kegembiraan dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan.  Mungkinkah itu adalah jalan menuju pencerahan?’ kemudian, dengan mengikuti ingatan itu, muncullah pengetahuan: ‘Itu adalah jalan menuju pencerahan.’ [Pada masa kecil Sang Bodhisatta sebagai seorang pangeran, pada suatu ketika ayahnya mengadakan upacara membajak sawah pada suatu festival tradisi orang Sakya. Sang Pangeran dibawa ke tempat festival tersebut dan tempat untukNya dipersiapkan di bawah pohon jambu. Ketika para pelayanNya meninggalkanNya untuk menyaksikan upacara membajak sawah, Beliau secara spontan duduk dalam posisi meditasi dan mencapai jhāna pertama melalui perhatian pada pernafasan. Ketika para pelayannya kembali dan melihat Sang Anak sedang duduk bermeditasi, mereka melaporkan hal ini kepada Sang Raja yang segera datang dan bersujud menghormati puteranya.] “Aku berpikir: ‘Mengapa Aku takut pada kenikmatan itu yang tidak berhubungan dengan kenikmatan indria dan kondisi-kondisi tidak bermanfaat?’ Aku berpikir: ‘Aku tidak takut pada kenikmatan itu karena tidak berhubungan dengan kenikmatan indria dan kondisi-kondisi tidak bermanfaat.’ [Ini menandai perubahan dalam evaluasi kenikmatan oleh Sang Bodhisatta; sekarang kenikmatan tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang ditakuti dan diusir melalui praktik keras, tetapi, jika muncul dari keterasingan dan pelepasan, terlihat sebagai pendamping yang berharga dari tingkat-tingkat yang lebih tinggi sepanjang perjalanan menuju pencerahan.] “Aku mempertimbangkan: ‘Tidaklah mudah untuk mencapai kenikmatan demikian dengan badan yang sangat kurus. Bagaimana jika Aku memakan sedikit makanan padat – sedikit nasi dan bubur.’ Dan Aku memakan sedikit makanan padat – sedikit nasi dan bubur. Pada saat itu lima bhikkhu [pertapa] melayaniku, dengan berpikir: ‘Jika Pertapa Gotama kita mencapai kondisi yang lebih tinggi, Beliau akan memberitahu kita.’ Tetapi ketika Aku memakan nasi dan bubur, kelima bhikkhu itu menjadi jijik dan meninggalkan Aku, dengan berpikir: ‘Pertapa Gotama sekarang hidup dalam kemewahan; ia telah meninggalkan usahaNya dan kembali pada kemewahan.’

Ketika menjalankan praktek pertapaan keras selama 6 tahun ini, Mara, sosok dewa penggoda, mendatangi Pertapa Gotama dan berusaha menjauhkannya dari pencerahannya. Bahkan setelah pencerahan, selama satu tahun pertama Mara masih mencari celah dalam diri Sang Buddha. Demikianlah dikisahkan dalam Padhana Sutta, Sutta Nipata:

Aku sedang berdiam di tepi sungai Neranjara, sibuk dengan pergulatan yang dalam, mempraktekkan meditasi dengan segenap kekuatanku dalam usaha mencari kebebasan dari belenggu keterikatan.Mara datang kepadaku dan mulai berbicara dengan kata-kata yang tampaknya penuh simpati: "Engkau amat kurus dan pucat," katanya, "Aduh, engkau hampir mati! Saya berani bertaruh seribu berbanding satu bahwa engkau akan mati. Kecil sekali kemungkinan engkau dapat bertahan hidup! Yang Mulia, bertahanlah hidup! Jauh lebih baik engkau terus hidup — engkau dapat mengumpulkan jasa kebajikan jika tetap hidup. Engkau dapat menjalani kehidupan religius, memberikan persembahan-persembahan kepada dewa api. Itulah jalan pasti untuk mendapatkan banyak jasa kebajikan. Untuk apa engkau melakukan semua perjuangan ini? Jalan usaha dan pergulatan ini sulit, keras, dan melelahkan, serta penuh kesulitan." Ketika mengatakan kata-kata ini, Mara berdiri persis di sisi Sang Buddha. Kemudian Sang Buddha menyapa Mara dengan berkata: "Mengapa datang kemari, hai engkau yang jahat, yang merupakan teman bagi kelengahan? Tidak kubutuhkan sedikit pun jasa kebajikan seperti yang kau katakan. O Mara, engkau harus mengkhotbahkan jasa kebajikan kepada mereka yang membutuhkannya. Aku memiliki keyakinan dan semangat serta juga pengetahuan. Jadi aku sibuk berusaha. Mengapa engkau menanyakan kehidupanku? Ketika angin bertiup, bahkan sungai dan aliran air pun akan kering. Jadi mengapa angin tidak mengeringkan darahku sementara aku berada dalam pergulatan yang dalam? Ketika darah mengering, begitu juga empedu dan lendir. Tubuh memang akan melapuk, tetapi pikiran menjadi makin mantap. Demikian juga kewaspadaan, kebijaksanaan dan konsentrasi makin mantap terpateri di dalam diriku. Dengan hidup seperti ini, mengalami ekstrimnya sensasi, pikiranku tidak lagi bercita-cita mendapatkan kesenangan-kesenangan indera. Kekuatan utama bala tentaramu adalah nafsu, yang kedua adalah rasa tidak-suka. Yang ketiga adalah rasa lapar-haus. Dan yang keempat adalah ketagihan. Yang kelima adalah bala tentara kelesuan-kemalasan, dan yang keenam adalah rasa takut. Yang ketujuh adalah keraguan, sedangkan yang kedelapan adalah kekeras-kepalaan dan keresahan. Kemudian ada juga keuntungan materi, pujian, kehormatan dan kemasyhuran yang diperoleh dengan cara-cara yang salah. Bisa juga orang memandang tinggi dirinya sendiri dan merendahkan yang lain. Ini semua, o, Mara, merupakan kekuatanmu, para penyerang dari kelompok yang jahat. Orang yang bukan pahlawan tidak akan menang terhadap mereka dan tidak akan mencapai kebahagiaan. Lihatlah: Tampakkah olehmu helai rumput munja [lambang prajurit yang menyerah dalam perang pada masa India kuno, sama dengan bendera putih pada masa sekarang] yang kukenakan? Aku tidak mempedulikan kehidupan. Aku lebih senang mati dalam perjuangan ini dari pada hidup tetapi terkalahkan. Ada bhikkhu dan pertapa yang telah tenggelam [di dalam kekotoran batin] dan tidak pernah melihat jalan yang dilalui oleh mereka yang berperilaku baik. Dapat kulihat seluruh bala tentara yang mengelilingiku, dengan Mara yang duduk di atas gajahnya, dan aku maju menghadapi pertempuran itu. Bahkan seandainya seluruh dunia, termasuk para dewanya, tidak dapat mengalahkan bala tentaramu, aku akan menghancurkannya dengan kekuatan kebijaksanaan, bagaikan pot tembikar yang tidak dibakar dihancurkan oleh buah batu. Dengan pikiran yang berdisiplin dan kewaspadaan yang tertancap kokoh aku akan berkelana dari negeri ke negeri untuk melatih banyak siswa. Berlawanan dengan keinginanmu, orang-orang itu akan mempraktekkan ajaranku dengan kewaspadaan dan penuh semangat, sehingga mereka mencapai tahap di mana mereka tidak akan jatuh ke dalam kesedihan lagi." "Telah tujuh tahun aku mengikuti Sang Buddha," kata Mara, "dan aku telah mengamati setiap langkah yang dibuatnya. Tidak satu kali pun aku bisa mengalahkanNya, yang sepenuhnya telah tercerahkan dan waspada. Masih jelas dalam ingatanku seekor burung gagak yang terbang di atas segumpal lemak di tanah. ‘Ah, makanan!’ pikirnya. Tetapi gumpalan itu ternyata batu, yang keras dan tidak dapat dimakan. Maka gagak itu terbang dengan perasaan muak. Kami sudah jera. Kami bagaikan gagak yang makan batu karang itu. Kami akan pergi, kami tak mau lagi berurusan dengan Gotama!" Mara amat kecewa dengan kegagalannya sehingga dia menjatuhkan kecapi yang dibawanya. Dan pada saat alat musik itu jatuh ke tanah, makhluk halus yang berpikiran jahat itu pun lenyap.

Setelah memulihkan kondisi fisiknya yang melemah akibat penyiksaan diri yang berlebihan, Pertapa Gotama melakukan praktek meditasi yang membawa pada pencapaian meditatif yang disebut jhana pertama dan inilah jalan menuju pencapaian Kebuddhaan yang dicita-citakannya. Lanjutan Mahasaccaka Sutta sebelumnya mengatakan:

“Ketika Aku telah memakan sedikit makanan padat dan memperoleh kembali kekuatanKu, maka dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, Aku masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan kegembiraan dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Tetapi perasaan menyenangkan yang muncul padaKu itu tidak menyerbu pikiranku dan tidak menetap di sana.“Dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, Aku masuk dan berdiam dalam jhāna kedua ... Dengan meluruhnya kegembiraan ... Aku masuk dan berdiam dalam jhāna ketiga ... Dengan  meninggalkan kenikmatan dan kesakitan ... Aku masuk dan berdiam dalam jhāna keempat ... Tetapi perasaan menyenangkan yang muncul padaKu itu tidak menyerbu pikiranku dan tidak menetap di sana. “Ketika konsentrasi pikiranKu sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai keadaan tanpa-gangguan, [248] Aku mengarahkannya pada pengetahuan perenungan kehidupan lampau. Aku mengingat banyak kehidupan lampau, yaitu, satu kelahiran, dua kelahiran… Demikianlah dengan segala aspek dan ciri-cirinya Aku mengingat banyak kehidupan lampau. “Ini adalah pengetahuan sejati pertama yang dicapai olehKu pada jaga pertama malam itu. Kebodohan tersingkir dan pengetahuan sejati muncul, kegelapan tersingkir dan cahaya muncul, seperti yang terjadi dalam diri seorang yang berdiam dengan tekun, rajin dan bersungguh-sungguh. Tetapi perasaan menyenangkan yang muncul padaKu itu tidak menyerbu pikiranku dan tidak menetap di sana. “Ketika konsentrasi pikiranKu sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai keadaan tanpa-gangguan, Aku mengarahkannya pada pengetahuan kematian dan kelahiran kembali makhluk-makhluk… Demikianlah dengan mata-dewa yang murni dan melampaui manusia, Aku melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin, Aku memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka. “Ini adalah pengetahuan sejati kedua yang dicapai olehKu pada jaga kedua malam itu. Kebodohan tersingkir dan pengetahuan sejati muncul, kegelapan tersingkir dan cahaya muncul, seperti yang terjadi dalam diri seorang yang berdiam dengan tekun, rajin dan bersungguh-sungguh. Tetapi perasaan menyenangkan yang muncul padaKu itu tidak menyerbu pikiranku dan tidak menetap di sana. “Ketika konsentrasi pikiranKu sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai keadaan tanpa-gangguan, Aku mengarahkannya pada pengetahuan hancurnya noda-noda. Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula penderitaan’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan.’ Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah noda-noda’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula noda-noda’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya noda-noda’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya noda-noda.’ “Ketika Aku mengetahui dan melihat demikian, pikiranKu terbebas dari noda keinginan indria, dari noda penjelmaan, dan dari noda kebodohan. Ketika terbebaskan, muncullah pengetahuan: ‘terbebaskan.’ Aku secara langsung mengetahui: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’ “Ini adalah pengetahuan sejati ketiga yang dicapai olehKu pada jaga ketiga malam itu. Kebodohan tersingkir dan pengetahuan sejati muncul, kegelapan tersingkir dan cahaya muncul, seperti yang terjadi dalam diri seorang yang berdiam dengan tekun, rajin dan bersungguh-sungguh. Tetapi perasaan menyenangkan yang muncul padaKu itu tidak menyerbu pikiranku dan tidak menetap di sana.

Setelah mencapai kemenangan atas penaklukan diri sendiri ini, Pertapa Gotama yang kemudian dikenal sebagai Buddha Gotama mengucapkan kata-kata kemenangan berikut ini (Dhammapada 153-154):

Melalui banyak kelahiran aku telah mengembara dalam lingkaran kehidupan. Terus mencari, namun tidak kutemukan pembuat rumah ini. Sungguh menyakitkan kelahiran yang berulang-ulang ini.
O, pembuat rumah, engkau telah kulihat, engkau tak dapat membangun rumah lagi. Seluruh atapmu telah runtuh dan tiangmu belandarmu telah patah. Sekarang batinku telah mencapai Keadaan Tak Berkondisi (Nibbana). Inilah akhir dari nafsu keinginan.

Parinibbana Buddha Gotama Semua fenomena yang muncul dari sebab dan kondisi adalah tidak kekal. Demikian pula dengan tubuh fisik Sang Buddha juga mengalami kelapukan, usia tua dan kematian. Namun demikian, kematian yangdialami seorang Buddha bukanlah kelenyapan dari dunia ini untuk kemudian muncul di dunia berikutnya, melainkan wafat yang sempurna di mana unsur-unsur kehidupan sepenuhnya tidak akan menghasilkan kelahiran yang baru lagi. Inilah yang disebut Parinibbana dari seorang yang telah tercerahkan. Kejadian-kejadian menjelang wafatnya Sang Buddha tercatat dalam Mahaparinibbana Sutta, Digha Nikaya 16. Pada masa tuanya Sang Buddha mengalami sakit yang parah, tetapi dengan kekuatan pikirannya Beliau menahan penyakit itu dan memulihkan tubuhnya agar dapat memberitahukan kepergiannya kepada para siswa-Nya dan memberikan pesan terakhir-Nya:

Dan ketika Sang Bhagavā telah menetap di hutan Ambapālī selama yang Beliau inginkan, Beliau pergi bersama sejumlah besar bhikkhu menuju Desa Beluva dan menetap di sana.
Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: ‘Kalian, para bhikkhu, harus pergi ke seluruh penjuru Vesālī di mana kalian memiliki teman-teman atau kenalan atau penyokong, dan melewatkan musim hujan di sana. Aku akan melewatkan musim hujan di sini, di Beluva.’ ‘Baiklah, Bhagavā,’ jawab para bhikkhu, dan mereka melakukan hal itu, dan Sang Bhagavā melewatkan musim hujan di Beluva. [Musim hujan atau vassa adalah masa ketika para pertapa mengasingkan diri selama 3 bulan musim hujan di India, tidak keluar dari pertapaannya, karena pada musim hujan itu hujan deras terus-menerus turun dan menyulitkan para pertapa untuk berkeliling. Kebiasaan ini tetap dilakukan oleh para bhikkhu saat ini.]
Dan selama musim hujan, Sang Bhagavā diserang oleh penyakit parah, dengan kesakitan yang sangat hebat seolah-olah Beliau akan meninggal dunia. Namun Beliau menahankan semua ini dengan penuh perhatian, sadar jernih, dan tanpa mengeluh. Beliau berpikir: ‘Tidaklah tepat jika Aku mencapai Nibbāna akhir [Parinibbana] tanpa menasihati para pengikut-Ku dan berpamitan dengan para bhikkhu. Aku harus menahankan penyakit ini agar dalam keadaan terkendali dan mengerahkan diri-Ku untuk mempertahankan kehidupan.’ Beliau melakukan hal itu, dan penyakit itu mereda.
Kemudian, Sang Bhagavā, setelah sembuh dari penyakit-Nya, segera setelah Beliau merasa lebih baik, pergi keluar dan duduk di tempat yang telah dipersiapkan di depan tempat tinggal-Nya. Kemudian Yang Mulia Ānanda datang menghadap Beliau, memberi hormat, duduk di satu sisi dan berkata: ‘Bhagavā, Aku telah melihat Sang Bhagavā dalam keadaan sehat, dan aku telah melihat Sang Bhagavā yang sabar dalam menahankan. Dan, Bhagavā, tubuhku seperti tubuh pemabuk. Aku kehilangan sokonganku dan segala sesuatu menjadi tidak jelas bagiku karena Bhagavā sakit. Satu-satunya yang menenangkanku adalah pikiran bahwa: “Bhagavā tidak akan mencapai Nibbāna akhir hingga Beliau memberikan pernyataan sehubungan dengan perkumpulan para bhikkhu.”’ ‘Tetapi, Ānanda, apakah yang diharapkan oleh perkumpulan para bhikkhu dari-Ku? Aku telah mengajarkan Dhamma, Ānanda, tidak membedakan “Ajaran dalam” dan “Ajaran luar” Tathāgata tidak memiliki “pegangan sang guru” dalam hal ajaran-ajaran. Jika ada yang berpikir: “Aku akan mengubah perkumpulan para bhikkhu,” atau “Perkumpulan para bhikkhu harus menurutiku,” biarlah ia membuat pernyataan sehubungan dengan perkumpulan para bhikkhu, tetapi Tathāgata tidak berpikir demikian. Jadi, mengapa Tathāgata harus memberikan pernyataan sehubungan dengan para bhikkhu?’ ‘Ānanda, Aku sudah tua, usang, terhormat, seorang yang telah melintasi jalan kehidupan, telah mencapai akhir kehidupan, yang adalah delapan puluh tahun. Bagaikan sebuah kereta tua yang dapat dijalankan dengan cara ditarik dengan tali, demikian pula tubuh Sang Tathāgata dapat terus hidup dengan cara ditarik. Hanya ketika Sang Tathāgata menarik perhatiannya dari gambaran-gambaran luar, dan dengan lenyapnya perasaan-perasaan tertentu, memasuki konsentrasi pikiran tanpa gambaran, maka tubuh-Nya terasa sehat.’ ‘Oleh karena itu, Ānanda, engkau harus hidup bagaikan pulau bagi dirimu sendiri, menjadi pelindungmu sendiri, tidak berlindung pada orang lain, dengan Dhamma sebagai pulau, dengan Dhamma sebagai pelindungmu, tidak ada perlindungan lain. Dan bagaimanakah seorang bhikkhu hidup sebagai pulau bagi diri sendiri, ... tidak ada perlindungan lain? Di sini, Ānanda, seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani, tekun, sadar jernih, penuh perhatian, dan setelah menyingkirkan segala keserakahan dan cengkeraman terhadap dunia, dan demikian pula sehubungan dengan perasaan, pikiran dan objek-objek pikiran. Itu, Ānanda, adalah bagaimana seorang bhikkhu hidup sebagai pulau bagi dirinya sendiri, ... tidak ada perlindungan lain. Dan mereka yang hidup saat ini pada masa-Ku atau setelahnya menjalani kehidupan demikian, mereka akan menjadi yang tertinggi, jika mereka ingin belajar.’

Mara kembali mendatangi Sang Buddha untuk memintanya segera wafat karena tak lama setelah pencerahan Beliau pernah berjanji akan meninggalkan dunia ini kepada Mara jika para pengikut-Nya telah menjalankan ajaran-Nya dengan baik. Sang Buddha pun memutuskan untuk segera melepaskan kehidupannya sehingga menyebabkan gempa bumi yang dahsyat:

Segera setelah Ānanda pergi, Māra si jahat mendatangi Sang Bhagavā, berdiri di satu sisi, dan berkata: ‘Bhagavā, sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir. Karena Bhagavā pernah berkata: “Yang Jahat, Aku tidak akan mencapai Nibbāna akhir hingga Aku memiliki para bhikkhu dan para siswa yang sempurna, terlatih, terampil, menguasai Dhamma, terlatih dalam keselarasan dengan Dhamma, terlatih dengan baik dan berjalan di jalan Dhamma, yang telah lulus dari apa yang mereka terima dari Guru mereka, mengajarkan, menyatakan, mengukuhkan, membabarkan, menganalisa, menjelaskan; hingga mereka mampu menggunakan Dhamma untuk membantah ajaran-ajaran salah yang telah muncul, dan mengajarkan Dhamma yang memiliki hasil yang menakjubkan.”’‘Dan sekarang, Bhagavā telah memiliki para bhikkhu dan siswa demikian. Sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang Jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir. Dan Bhagavā pernah berkata: “Yang Jahat, Aku tidak akan mencapai Nibbāna akhir hingga Aku memiliki para bhikkhunī dan para siswa perempuan yang sempurna, ... hingga Aku memiliki pengikut-awam laki-laki, ... hingga Aku memiliki pengikut-awam perempuan ... “ Sudilah Bhagavā sekarang mencapai Nibbāna akhir .... Dan Sang Bhagavā menjawab: “Yang Jahat, Aku tidak akan mencapai Nibbāna akhir sampai kehidupan suci ini mantap dan berkembang, menyebar, dikenal di segala penjuru, diajarkan dengan baik di antara umat manusia di mana-mana.” Dan semua ini telah terjadi. Sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang Jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir.’ Mendengar kata-kata ini, Sang Bhagavā berkata kepada Māra: ‘Engkau tidak perlu khawatir, Yang Jahat. Nibbāna akhir Tathāgata tidak akan lama lagi. Tiga bulan dari sekarang, Tathāgata akan mencapai Nibbāna akhir.’ Demikianlah Sang Bhagavā, di Kuil Cāpāla, dengan penuh perhatian dan kesadaran penuh melepaskan prinsip-kehidupan, dan ketika ini dilakukan, terjadi gempa bumi dahsyat, mengerikan, menakutkan, dan disertai guruh. Dan ketika Sang Bhagavā [107] melihat hal ini, Beliau mengucapkan syair berikut: ‘Kasar atau halus, segalanya dilepaskan oleh Sang Bijaksana. Damai, tenang, ia memecahkan cangkang penjelmaan. Dan Yang Mulia Ānanda berpikir: ‘Sungguh menakjubkan, sungguh luar biasa, betapa dahsyatnya gempa ini, gempa bumi yang mengerikan, menakutkan, dan membuat merinding, disertai guruh! Apakah yang menyebabkan hal ini?’ Ia mendatangi Sang Bhagavā, memberi hormat kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan menanyakan pertanyaan itu. ‘Ānanda, ada delapan alasan, delapan penyebab terjadinya gempa bumi dahsyat. Bumi ini terletak di atas air, air di atas angin, angin di atas ruang. Dan ketika angin kencang berhembus, hal ini akan mengaduk air, dan karena air teraduk, bumi bergetar. Ini [108] adalah alasan pertama.’ ‘Kedua, ada pertapa atau Brāhmaṇa yang telah mengembangkan kekuatan batin, atau dewa yang sakti dan berkuasa yang kesadaran-tanah-nya lemah dan kesadaran-air-nya tidak terukur, dan ia membuat bumi ini bergoyang dan bergetar dan berguncang keras. Ini adalah alasan kedua.’ ‘Kemudian, ketika seorang Bodhisatta turun dari surga Tusita, penuh perhatian dan berkesadaran jernih, dan masuk ke dalam rahim ibu-Nya, kemudian bumi ini bergoyang dan bergetar dan berguncang keras. Ini adalah alasan ketiga.’ ‘Kemudian, ketika seorang Bodhisatta keluar dari rahim ibu-Nya, penuh perhatian dan berkesadaran jernih, kemudian bumi ini bergoyang dan bergetar dan berguncang keras. Ini adalah alasan keempat.’ ‘Kemudian, ketika Tathāgata mencapai penerangan sempurna yang tanpa bandingnya, kemudian bumi ini bergoyang dan bergetar dan berguncang keras. Ini adalah alasan kelima.’ ‘Kemudian, ketika Tathāgata memutar Roda Dhamma, kemudian bumi ini bergoyang dan bergetar dan berguncang keras. Ini adalah alasan keenam.’ ‘Kemudian, ketika Tathāgata, dengan penuh perhatian, dan dengan kesadaran jernih, melepaskan prinsip-kehidupan, kemudian bumi ini bergoyang dan bergetar dan berguncang keras. Ini adalah alasan ketujuh.’ ‘Kemudian, ketika Tathāgata mencapai unsur Nibbāna tanpa sisa, kemudian bumi ini bergoyang dan bergetar dan berguncang keras. Ini adalah alasan ke delapan. Semua ini, Ānanda, adalah delapan alasan, delapan penyebab bagi terjadinya gempa bumi dahsyat.’ [...] ‘Ānanda, suatu ketika, Aku menetap di Uruvela, di tepi Sungai Nerañjarā, di bawah pohon Banyan Penggembala kambing, ketika Aku baru saja mencapai Penerangan Sempurna. Dan Māra si jahat mendatangi-Ku, berdiri di satu sisi, dan berkata: “Sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang Jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir.”’ ‘Mendengar kata-kata ini, Aku berkata kepada Māra: “Yang Jahat, Aku tidak akan mencapai Nibbāna akhir hingga Aku memiliki para bhikkhu dan para siswa yang sempurna, terlatih, terpelajar, menguasai Dhamma, ... hingga Aku memiliki bhikkhunī-bhikkhunī ..., umat-awam laki-laki, umat-awam perempuan yang akan ... mengajarkan Dhamma yang memiliki hasil yang menakjubkan. Aku tidak akan mencapai Nibbāna akhir sampai kehidupan suci ini mantap dan berkembang, menyebar, dikenal di segala penjuru, diajarkan dengan baik di antara umat manusia dimana-mana.”’ ‘Dan baru tadi, Ānanda, di Kuil Cāpāla, Māra mendatangi-Ku, berdiri di satu sisi dan berkata: “Bhagavā, sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, .... Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir.”’ ‘Dan Aku berkata: “Engkau tidak perlu khawatir, Yang Jahat. Tiga bulan dari sekarang, Tathāgata akan mencapai Nibbāna akhir.” Jadi, sekarang, hari ini, Ānanda, di Kuil Cāpāla, Tathāgata telah dengan penuh perhatian dan penuh kesadaran melepaskan prinsip-kehidupan.’ Mendengar kata-kata ini, Yang Mulia Ānanda berkata: ‘Bhagavā, sudilah Bhagavā hidup selama satu abad, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang Jalan tinggal selama satu abad demi manfaat dan kebahagiaan banyak makhluk, demi belas kasih terhadap dunia, demi manfaat dan kebahagiaan para dewa dan manusia!’ ‘Cukup, Ānanda! Jangan memohon kepada Tathāgata, ini bukan waktunya melakukan hal itu!’ [...] ‘Ānanda, tidakkah Aku sudah mengatakan sebelumnya: Segala sesuatu yang kita sayangi dan menyenangkan bagi kita pasti akan mengalami perubahan, berpisah, dan berganti? Jadi, bagaimana mungkin? Apa pun yang dilahirkan, menjelma, tersusun, pasti mengalami kerusakan – bahwa ini tidak akan menjadi rusak adalah tidak mungkin. Dan bahwa apa yang telah dilepaskan, ditinggalkan: Tathāgata telah melepaskan prinsip-kehidupan. Tathāgata pernah mengatakan satu kali: “Kematian Tathāgata tidak akan lama lagi. Tiga bulan dari sekarang, Tathāgata akan mencapai Nibbāna akhir.” Bahwa Tathāgata harus menarik kembali suatu pernyataan hanya untuk hidup, itu adalah tidak mungkin. Sekarang, marilah Ānanda, kita pergi ke Aula Segitiga di Hutan Besar.’ ‘Baiklah, Bhagavā.’

Sang Buddha menasehatkan kumpulan ajaran yang harus dipelajari dan dijalankan oleh semua siswa-Nya:

Dan Sang Bhagavā pergi bersama Yang Mulia Ānanda menuju Aula Segitiga di Hutan Besar. Ketika Beliau sampai di sana, Beliau berkata: ‘Ānanda, pergi dan kumpulkan seluruh bhikkhu yang menetap di sekitar Vesālī, dan berkumpul di aula pertemuan.’ ‘Baik, Bhagavā,’ jawab Ānanda, dan melakukan apa yang diperintahkan. Kemudian ia kembali menghadap Sang Bhagavā, memberi hormat kepada Beliau, berdiri di satu sisi dan berkata: ‘Bhagavā, para bhikkhu telah berkumpul. Sekarang adalah saatnya bagi Bhagavā untuk melakukan apa yang diinginkan.’ Kemudian Sang Bhagavā memasuki aula pertemuan dan duduk di tempat yang telah dipersiapkan. Kemudian Beliau berkata kepada para bhikkhu: ‘Para bhikkhu, untuk alasan ini, hal-hal tersebut yang telah Kutemukan dan Kuajarkan telah kalian pelajari dengan saksama, dipraktikkan, dikembangkan dan dilatih, sehingga kehidupan suci ini dapat bertahan lama, ini adalah demi manfaat dan kebahagiaan banyak makhluk, demi belas kasihan kepada dunia, demi manfaat dan kebahagiaan para dewa dan manusia. Dan apakah hal-hal tersebut itu ...? Yaitu: 1. Empat landasan perhatian (perenungan terhadap tubuh, perasaan, pikiran, dan fenomena). 2. Empat usaha benar (berusaha mencegah munculnya pikiran yang tidak baik, melenyapkan pikiran tidak baik yang telah muncul, memunculkan pikiran baik yang belum muncul, dan mengembangkan pikiran baik yang telah muncul). 3. Empat jalan menuju kekuatan (keinginan, semangat, pikiran, dan pengamatan). 4. Lima indria spritual (keyakinan, semangat, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan). 5. Lima kekuatan batin (keyakinan, semangat, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan). [Nama dari kekuatan-kekuatan ini adalah sama dengan indria-indria yang disebutkan di atas. Perbedaannya adalah bahwa pada saat Memasuki-Arus, indria-indria itu menjadi kekuatan-kekuatan yang tidak tergoyahkan oleh lawannya.] 6. Tujuh faktor penerangan sempurna (perhatian, penyelidikan fenomena, semangat, kegembiraan, ketenangan, konsentrasi, keseimbangan batin). 7. Jalan mulia berfaktor delapan (pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar).’ [Kelompok yang terdiri dari 37 pokok ajaran ini merupakan Bodhipakkhiya-Dhamma atau ‘Hal-hal yang berhubungan dengan pencerahan.’] Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: ‘Dan sekarang, para bhikkhu, Aku menyatakan kepada kalian – Segala sesuatu yang terkondisi pasti mengalami kerusakaan – berusahalah dengan tekun. Kematian Tathāgata sudah tidak lama lagi. Tiga bulan dari sekarang, Tathāgata akan mencapai Nibbāna akhir.’ Demikianlah Sang Bhagavā berkata. Yang Sempurna menempuh Sang Jalan telah mengucapkan demikian, Sang Guru mengatakan ini: ‘Aku telah matang dalam usia. Umur kehidupan-Ku telah ditentukan. Sekarang Aku akan meninggalkan kalian, setelah membuat diri-Ku sebagai perlindungan. Para bhikkhu, jangan merasa lelah, penuh perhatian, disiplin, Menjaga pikiran kalian dengan pengendalian yang baik. Ia yang tanpa lelah, menjaga Ajaran dan disiplin, Meninggalkan kelahiran di belakang, akan mengakhiri kesengsaraan.’

Makanan terakhir dari Cunda menambah sakit Sang Buddha:

Dan setelah memakan makanan yang dipersembahkan oleh Cunda, Sang Bhagavā diserang oleh penyakit parah hingga mengalami diare berdarah, dan dengan sangat kesakitan nyaris meninggal dunia. Namun Beliau menahankannya dengan penuh perhatian dan dengan kesadaran jernih, dan tanpa mengeluh. Kemudian Sang Bhagavā berkata: ‘Ānanda, mari kita pergi ke Kusināra.’ ‘Baiklah, Bhagavā,’ jawab Ānanda.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x