Mohon tunggu...
KANG NASIR
KANG NASIR Mohon Tunggu... petualang

Orang kampung, tinggal di kampung, ingin seperti orang kota, Yakin bisa...!

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi Pilihan

Arti Penting Tanggal 27 April bagi Sejarah Banten dan Cilegon

2 Juni 2021   12:20 Diperbarui: 2 Juni 2021   12:25 94 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Arti Penting Tanggal 27 April bagi Sejarah Banten dan Cilegon
Sisa Peninggalan Sultan Ageng Tirtayasa, Sitem Irigasi. Foto Kompas.co

Tanggal 27 April, ternyata punya  arti penting bagi sejarah Banten masa lampau dan Cilegon saat ini. Catatan pentingnya; tanggal 27 April merupakan tonggak kebangkitan politik kekuasaan dengan tujuan mensejahterakan rakyat.

Peristiwa penting dalam sejarah Banten masa lampau --salah satunya -- terjadi pada taggal 27 April 1663, sedangkan untuk Cilegon yang merupakan bagian dari wilayah Banten baik dimasa lampau maupun masa kini, terjadi pada taggal 27 April 1999.

Tanggal 27 April 1663, diahir bulan puasa, Sultan Agung Tirtayasa memulai kebijakan politiknya yang monumental.  Sultan Ageng Tirtayasa menerapkan politik pertanian yang sebelumnya --masa sebelum Sultan Agung berkuasa-- mengalami hambatan akibat adanya pertentangan kaum bangsawan dan kaum pedagang di internal kekuasaan (Kesultanan) disatu pihak dan penjajah (Belanda) di pihak lain.

Politik pertanian Sultan yang terkenal  yakni menciptakan system Pengairan,  projek pertama yang dibangun yakni pembangunan terusan yang menghubungkan sungai Tanara ke Sungai Pasilian melalui Balaraja sepanjang 6 km. Tujuannya bukan penanggulangan banjir, tapi untuk meningkatkan  produksi pangan berupa padi karena pada saat bersamaan di buka lahan baru berupa persawahan. Aliran dari terusan itulah yang digunakan untuk mengairi sawah.

Sisa Peninggalan Sultan Ageng Tirtayasa, Irigasi Tirtayasa,
Sisa Peninggalan Sultan Ageng Tirtayasa, Irigasi Tirtayasa,
Ambisi Sultan Ageng Tirtayasa untuk memakmurkan Banten terus berlanjut, Tahun 1670 dibikin lagi terusan  baru antara Pontang dan Tanara. Dimulai dari pesisir hingga daratan, Sungai  ini dimaksudkan untuk mengairi lahan yang terlantar yang secara bersamaan dijadikan area persawahan. Tak tanggung, terusan ini panjangnya + 9 km, lebar 6 mater dengan kedalaman 4 m. Projek Pontang, oleh Sultan dijadikan sebagai projek utama Kesultanan, mungkin kalau sekarang dinamakan program prioritas.

Belanda yang mengusai Batavia (Jakarta), tergopoh gopoh datang ke Banten melihat perkembangan Banten yang luar biasa di bidang pertanian. Yang namanya penjajah, bukannya memuji malah mencibir. Ketika melihat para elit terjun langsung ke sawah, mereka menyindir bahwa bangsawan Banten sedang bermain main menanam padi.

Barangkali sindiran ini kalau sekarang ditujukan ke para pejabat yang sedang panen raya, turun ke sawah, pake sepatu bot, memegang arit, mengangkat padi, difoto atau selfi, sebagai pencitraan,  setelah itu hilang.

Namun sindiran Belanda itu tidak benar, saat itu memang semua elite (bangsawan) diperintahkan Sultan untuk langsung terjun ke sawah. Hasilnyapun luar biasa, Banten saat itu bisa menyimpan  padi  sebanyak 80 ton metrik ke lumbung padi Istana.

Sejatinya, dibalik semua itu, Belanda sebetulnya punya kepentingan politik busuk, punya misi terselubung, sebab Belanda justru hawatir lantaran dengan adanya projek itu, disamping memudahkan jalur transportasi sungai, ada kekuatan tersembunyi yakni bertambahnya penduduk yang luar biasa, dan ini merupakan kekuatan yang bisa mengancam keamanan Batavia sebagai pusat kekuatan Belanda.

Sedangkan untuk Cilegon, peristiwa monumental terjadi pada tanggal 27 April 1999 dengan di sahkannya Cilegon menjadi daerah otonom dengan nama kotamadya Cilegon --sekarang Kota Cilegon-, sebelumnya merupakan bagian dari Kabupaten Serang.

Cilegon saat itu sudah menjadi wilayah Industri. Pengaruh Industri  sangat luar biasa, sama halnya ketika kaum pedagang di era Kesultanan Banten yang bisa mempengaruhi kebijakan politik penguasa, Industri di Cilegon seolah menjadi bagian regulator dalam birokrasi pemerintahan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN