Mohon tunggu...
Moch. Marsa Taufiqurrohman
Moch. Marsa Taufiqurrohman Mohon Tunggu... Mahasiswa Hukum (yang nggak nulis tentang hukum)

Seorang anak yang lahir sebagai kado terindah untuk ulangtahun ke-23 Ibundanya.

Selanjutnya

Tutup

Finansial Artikel Utama

Perilaku Kita adalah "Droplet" Penularan Kebuntuan Finansial yang Paling Riskan

3 Mei 2020   14:25 Diperbarui: 4 Mei 2020   23:37 707 11 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Perilaku Kita adalah "Droplet" Penularan Kebuntuan Finansial yang Paling Riskan
Ilustrasi mengantisipasi diri agar tidak mudah tertular. (Sumber: kompas.com)

“The wise do as much as they should, not as much as they can”French Proverb 

Sejak Covid-19 menyergap Wuhan, Tiongkok, dan kemudian meluas ke 159 negara kawasan di Asia, Eropa, dan Amerika, perekonomian global menjadi benar-benar terpukul. 

Ketidakpastian ini berlanjut kepada penurunan kinerja pasar leuangan global, fluktuasi mata uang dunia, serta terjadinya pergeseran investasi pada aset keuangan yang dianggap aman. Bahkan secara langsung maupun tidak langsung, menyebabkan aktivitas sektor riil terancam kolaps.

Semua itu disebut sebagai risiko sistemik sebagai potensi instabilitas keuangan yang sering menghantui. Seperti analogi sebuah jalan raya yang ramai lancar tanpa hambatan yang tiba-tiba berubah ketika sebuah truk terguling dan menutup jalan. 

Kemudian kecelakaan beruntun pun tak dapat dihindari, lalu lintas seketika terganggu. Kemacetan pun dengan cepat menular dan merebak ke jalan lain, membuat para pengemudi menggerutu dan semakin panik.

Sama persis dengan kejadian macet yang menular, risiko sistemik adalah potensi instabilitas, karena adanya gangguan yang menular pada sebagian atau seluruh sistem keuangan. Risiko sistemik terjadi akibat pertemuan shock dan vulnerability.

Shock adalah peristiwa yang memicu terjadinya krisis. Sama seperti fenomena pandemi Covid-19, yang di dalam cerita tadi dapat diibaratkan seperti supir truk yang mengantuk ataupun kabut yang menghalangi pandangan.

Sedangkan vulnerability adalah karakteristik sistem keuangan yang dapat mempercepat penyebaran shock. Seperti panic buying sebagai reaksi kekhawatiran masyarakat yang menyebabkan tidak seimbangnya permintaan dan penawaran pada pasar. Bila diibaratkan di cerita tersebut kondisi ini berupa jalan yang berlubang, ataupun kerusakan mesin truk.

Maka ketika shock dan vurnelability saling bertemu terjadilah kecelakaan yang akhirnya menyebabkan kemacetan.

Memang, dalam memitigasi risiko sistemik yang dapat diakibatkan oleh pandemi Covid-19, Bank Indonesia telah mengambil langkah preventif dengan melakukan kebijakan makroprudensial melalui strategi operasional. Yakni Identifikasi Prioritas Risiko Sistemik melalui Balanced Approach Assesment, dan Perumusan Kebijakan Makroprudensial.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN