Mohon tunggu...
Mochamad Syafei
Mochamad Syafei Mohon Tunggu... Guru - Menerobos Masa Depan

Kepala SMP Negeri 52 Jakarta. Pengagum Gus Dur, Syafii Maarif, dan Mustofa Bisri. Penerima Adi Karya IKAPI tahun 2000 untuk buku novel anaknya yang berjudul "Bukan Sekadar Basa Basi".

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Mungkin Saja Rasa Itu Telah Pergi

14 Februari 2021   12:01 Diperbarui: 14 Februari 2021   12:16 173
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Entah di mana dirimu kini berada. 

Ya, setiap kali aku mendengar lirik lagu itu, selalu saja perasaan teraduk aduk dan seakan kematian lebih mungkin sebagai jalan yang harus kutempuh untuk menyelesaikan segala kisah yang berujung duka ini. 

"Aku pasti akan kembali, " katamu begitu meyakinkan. 

Dan seperti di telan bumi, tak ada satu kabar pun kamu kirimkan. Ketika malam malam tanpa bintang, tahu kah kamu kalo aku duduk sendirian. Membayangkan ada kamu. Tapi selalu saja hanya sepi, sepi, dan sepi. 

"Janji? " tanyaku yang selalu tak yakin dengan janji laki-laki. 

Kamu menjawabnya dengan pelukan yang begitu erat. Seolah kau ingin mengatakan bahwa kembali kepadaku adalah kewajiban sejarah yang tak mungkin tumpah. 

"Hmmm."

Dan lukisan malam itu masih begitu jelas. Dan pelukan itu masih begitu rekat. 

"Sudahlah. Sudah ada Rio, " kata Yanti mencoba menghiburku yang seakan lupa cara berbahagia sejak kau pergi. 

"Iya."

Kemudian Rio menemaiku. Walaupun aku tak bisa memberinya utuh. Kamu terlalu jauh mendiami relung hati ini. 

Aku terlalu mencintaimu. 

"Sudah cukup waktumu menunggu. Haruskah menunggu tanpa akhir? "

Rio juga baik. Terlalu baik. Tapi entah kenapa justru kebaikan itu selalu mengingatkan sosok mu. 

Malam nanti Rio akan datang bersama keluarga nya untuk melamarku. Untuk menggantikan mu dalam sisa hidupku. 

"Kini aku tak bisa memegang janjimu lagi. Janji laki-laki selalu melukai. "

"Mungkin kah rasa itu pergi? " tanyamu waktu itu sambil memelukku dari belakang. 

Waktu itu kita berada di Puncak Mahameru.  Lama sekali aku menatapmu karena tak percaya kamu memiliki pertanyaan seperti itu. Apakah pertanyaan itu sebetulnya ditujukan untuk dirimu sendiri? Mungkinkah saat itu ada jalan lain yang hendak kau tempuh? 

Seluruh keluarga ku sudah berkumpul di ruang tamu untuk menyambut keluarga Rio yang sudah dekat. Aku masih di kamar dalam hati yang masih ragu. Dalam jiwa yang gagu. 

"Ayo keluar, " ajak adikku. 

Dituntunnya aku ke ruangan itu. Ruangan yang terasa begitu hampa. Hampa sekali. 

"Mungkin rasa itu telah pergi. "

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun