Mohon tunggu...
Mochamad Anas
Mochamad Anas Mohon Tunggu... Freelancer - Creator

Pejalan Perjalanan Diperjalankan

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Isi Kepalaku Tidak Teratur, Lebih Dari Lalu Lintas Kota Yang Ngawur

23 Februari 2024   14:11 Diperbarui: 23 Februari 2024   14:17 34
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Aku cuma ingin kamu tahu, bahwa di malam yang paling buta, kepalaku masih betah berjaga. Sekali lagi, ada begitu banyak tanda tanya, lebih dari satu, dua, dan tiga.

Isi Kepalaku Tidak Teratur, Lebih Dari Lalu Lintas Kota Yang Ngawur

Seharusnya aku sudah tidur,
tetapi isi kepalaku tampaknya begitu tidak teratur.
Lebih parah dari lalu lintas kota yang ngawur.
Dan kalau digali lebih dalam,
isinya sepi, gelap dan bergema
seperti lorong tua bawah tanah.

Gelapnya malam,
menemani rentetan pikiran yang tak kunjung padam.
Seperti hujan yang mengguyur,
kekhawatiran, kebingungan dan kecemasan terus mengeluyur.
Pikiran-pikiran itu seperti kendaraan di pagi hari,
berlalu lalang dengan kecepatan tinggi,
berisik dan tak terkendali.
Aku berusaha menenangkan diri,
namun hening sepertinya masih berlari.

Lorong bawah tanah dalam pikiranku
menyimpan kenangan-kenangan yang begitu kelam.
Seakan-akan ada rahasia tersembunyi di balik dinding retaknya.
Satu persatu masalah, kegagalan
dan ketakutan terus berputar di sana,
semakin membingungkan karena gemanya.

Aku ingin menemukan cahaya untuk menerangi lorong gelap ini.
Namun, terkadang sepertinya aku kehilangan arah,
terjebak dalam labirin yang tak berujung.
Tapi entah mengapa,
di tengah segala kekacauan,
ada satu hal kecil yang masih menyala.
Itu harapan.
Harapan bahwa seperti malam yang akan berlalu,
pikiran ini pun tak akan lagi menjadi benalu.

Aku terus mengingatkan diriku sendiri
bahwa ini hanyalah malam yang gelap,
bukan akhir dari segalanya.
Ada pagi yang cerah menanti,
di mana pikiran-pikiran tak terkendali
akan menemui henti.
Dan aku percaya,
seiring waktu berjalan,
lorong-lorong yang kelam
akan semakin pudar, menghilang,
dan aku akan menemukan kedamaian di keheningan malam.

 Terima kasih buat kamu sudah meluangkan waktumu yang berharga untuk membaca sedikit banyak dari tulisan saya. Tulisan ini juga ada versi audionya di kanal youtube jagadmanas, atau tonton video di bawah ini :


Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun