Mohon tunggu...
Muhammad Natsir Tahar
Muhammad Natsir Tahar Mohon Tunggu... Penulis - Writerpreneur Indonesia

Muhammad Natsir Tahar ~ Writerpreneur - penikmat filsafat - hidup di Batam, Indonesia! International Certificates Achievements: English for Academic Study, Coventry University (UK)| Digital Skills: Artificial Intelegence, Accenture (UK)| Arts and Technology Teach-Out, University of Michigan (USA)| Leading Culturally Diverse Teams in The Workplace, Deakin University and Deakin Business Course (Australia)| Introduction to Business Management, King's College London (UK)| Motivation and Engagement in an Uncertain World, Coventry University (UK)| Stakeholder and Engagement Strategy, Philantrhopy University and Sustainably Knowledge Group (USA)| Pathway to Property: Starting Your Career in Real Estate, University of Reading and Henley Business School (UK)| Communication and Interpersonal Skills at Work, University of Leeds and Institute of Coding (UK)| Leading Strategic Innovation, Deakin University (Australia) and Coventry University (UK)| Entrepreneurship: From Business Idea to Action, King's College London (UK)| Study UK: Prepare to Study and Live in the UK, British Council (UK)| Leading Change Through Policymaking, British Council (UK)| Big Data Analytics, Griffith University (Australia)| What Make an Effective Presentation?, Coventry University (UK)| The Psychology of Personality, Monash University (Australia)| Create a Professional Online Presence, University of Leeds and Institute of Coding (UK)| Collaborative Working in a Remote Team, University of Leeds and Institute of Coding (UK)| Create a Social Media Marketing Campaign University of Leeds (UK)| Presenting Your Work with Impact, University of Leeds (UK)| Digital Skills: Embracing Digital, Technology King's College London (UK), etc.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Menghadapi Manusia Abadi di Tahun 2050

11 Oktober 2021   10:03 Diperbarui: 11 Oktober 2021   10:05 169 7 3
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi: stoneclinic.com

Tersebutlah Kaisar Qin Shi Huang, pendiri Dinasti Qin sekaligus kaisar pertama Tiongkok bersatu. Reputasinya sebagai penakluk dibatalkan oleh ketakutan terbesarnya pada kematian. Ia mendanai tabib Xu Fu dalam armada besar yang dimuati 6.000 perawan sebagai tumbal, demi menemukan pulau yang memiliki ramuan keabadian.

Qin Shi Huang tak seorang diri, ada deretan kisah lama tentang manusia yang menolak punah. Kematian menjadi histeria massal, jeritan di dalam batin yang tertahan oleh kepasrahan kolektif, tak terjeritkan. Beberapa di antara kita memberontak. Pikir mereka, bila segala problema bisa diatasi, mengapa kematian tidak.

Di masa kini, ada yang membekukan tubuhnya lewat teknologi pendinginan yang disebut cryonics, lalu bangun pada tahun 2050 atau lebih lekas dari itu, begitu dunia siap. Tahun 2050 diyakini sebagai puncak teknologi untuk menciptakan manusia immortal

Sedikitnya 300 orang di dunia saat ini dalam kondisi beku, beberapa dari mereka adalah ilmuan. Mungkin ada yang terobsesi dengan Mr. Freeze yang berhasil hidup kembali untuk balas dendam dengan meneror kota Gotham.

Tak tertinggal Larry Page yang membapaki Google, atau Jeff Bezos yang perusahaan seraksasa Amazon ada dalam koceknya, disebut-sebut tengah mendanai sebuah proyek keabadian, tak sebatas menghambat penuaan, tapi abadi dalam arti tak mati-mati.

Belum lagi China, lewat Shandong Yinfeng Life Science Reasearch Institute, sebuah laboratorium yang memiliki teknologi canggih dalam pembekuan mayat manusia untuk dihidupkan kembali di masa depan.

Di tahun 2050 itu, segerombolan mayat hidup hasil pembekuan dari masa kita, akan bergabung dengan manusia abadi lainnya, terdiri dari kaum elit yang mampu membayar teknologi robot nano, untuk menggempur penyakit apa saja yang coba memasuki tubuh. Serta menyatukan dirinya dengan fitur-fitur robotika (singularity) untuk menjadi manusia super (cyborg).

Adalah kegelisahan bila hal-hal tersebut berhasil, ketika bumi sudah tak mampu menampung populasi manusia. Teknologi dipastikan akan menghambat seluruh proses kematian begitu sepenuh resiko pekerjaan dan aktivitas manusia diambil alih oleh kecerdasan buatan.

Infotech dan biotech akan melakukan perkawinan silang yang sempurna dalam mengambil alih tugas-tugas manusia. Namun dalam proposal peradaban masyarakat 5.0 (Society 5.0) yang sebentar lagi akan kita jemput, mesin-mesin pintar itu hanya bertugas sebagai pelengkap. Suatu gagasan utopia yang kontra dengan wajah tamak kapitalisme.

Ketika banyak manusia tak mati-mati sedangkan populasi meledak, problema kita makin serius. Manusia semakin berlimpah di saat bersamaan pekerjaan tradisional mereka sudah rata dengan tanah. Lepas dari apakah penahan kematian hanya dapat diakses kaum elit, teknologi yang mengambil alih pekerjaan berisiko, akan semakin mampu menekan angka kematian global.

Sebagai misal ketika seluruh mobil telah terotomasi dengan 0 persen kecelakaan, dunia mampu menahan sedikitnya 1,25 juta kematian per tahun (data Global Status Report on Road Safety, WHO, 2015), dan 50 juta lainnya yang mengalami luka berat. Itu baru satu bidang, tinggal merinci seluruh aktivitas berisiko lainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan