Mohon tunggu...
Muhammad Natsir Tahar
Muhammad Natsir Tahar Mohon Tunggu... Penulis - Writerpreneur Indonesia

Muhammad Natsir Tahar| Writerpreneur| pembaca filsafat dan futurisme| Batam, Indonesia| Postgraduate Diploma in Business Management at Kingston International College, Singapore| International Certificates Achievements: English for Academic Study, Coventry University (UK)| Digital Skills: Artificial Intelligence, Accenture (UK)| Arts and Technology Teach-Out, University of Michigan (USA)| Leading Culturally Diverse Teams in The Workplace, Deakin University and Deakin Business Course (Australia)| Introduction to Business Management, King's College London (UK)| Motivation and Engagement in an Uncertain World, Coventry University (UK)| Stakeholder and Engagement Strategy, Philantrhopy University and Sustainably Knowledge Group (USA)| Pathway to Property: Starting Your Career in Real Estate, University of Reading and Henley Business School (UK)| Communication and Interpersonal Skills at Work, University of Leeds and Institute of Coding (UK)| Leading Strategic Innovation, Deakin University (Australia) and Coventry University (UK)| Entrepreneurship: From Business Idea to Action, King's College London (UK)| Study UK: Prepare to Study and Live in the UK, British Council (UK)| Leading Change Through Policymaking, British Council (UK)| Big Data Analytics, Griffith University (Australia)| What Make an Effective Presentation?, Coventry University (UK)| The Psychology of Personality, Monash University (Australia)| Create a Professional Online Presence, University of Leeds and Institute of Coding (UK)| Collaborative Working in a Remote Team, University of Leeds and Institute of Coding (UK)| Create a Social Media Marketing Campaign University of Leeds (UK)| Presenting Your Work with Impact, University of Leeds (UK)| Digital Skills: Embracing Digital, Technology King's College London (UK), etc.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Uji Ganda Lingua Franca, Riau atau Barus?

29 Februari 2020   13:02 Diperbarui: 14 Desember 2020   14:00 453
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Lepas dari rantai sejarahnya yang panjang, bahasa Inggris modern pertama sekali dipopulerkan oleh William Shakespeare dan penulis ternama Abad Pertengahan seperti Geoffrey Chaucer, dengan karyanya yang terkenal The Canterbury Tales.

Tapi mereka tidak cukup kuat untuk mencampuri perkembangan alami sebuah bahasa. Karya-karya mereka sangat terbatas dan hanya dibaca sangat sedikit manusia yang punya kemampuan literasi.

Demikian pula Hamzah Fansuri, seorang penyair sufistik abad 16 dari Barus, Sumatera Utara (sebelumnya di bawah Aceh Darussalam) atau Nuruddin ar-Raniri. Kita bisa memulai sebuah pertanyaan logis, siapa pembaca karya sastra ketika itu, atau lebih tepatnya siapa yang bisa membaca? Apakah ia ada di setiap perahu yang berlayar? atau di setiap pelana kuda para kelana?

Lingua Franca bekerja secara pragmatis yang mengedepankan efektivitas untuk mengoneksi antar orang dengan cepat dan melibatkan banyak suku bangsa sebagai pengguna. Mengamati syair-syair Hamzah Fansuri, beliau menggunakan bahasa-bahasa Melayu tinggi seperti Kepulauan Riau dan Semenanjung.

Saya belum tahu apakah jenis bahasa ini juga dulunya digunakan di Aceh Darussalam atau Barus, dan apakah masih sama? Atau adakah teks asli dalam bahasa Melayu yang berbeda? Bila tidak, berarti Hamzah Fansuri ketika itu sedang menggunakan Lingua Franca. Hamzah Fansuri bukanlah antitesis, tapi justru bagian dari tesis.

Saya ingin menyingkat, bukan Hamzah Fansuri atau William Shakespeare yang menciptakan Lingua Franca, tapi adalah mobilitas dan intermediasi antar ribuan manusia secara alami. Seperti bahasa Inggris melewati dua fase penting yakni kolonialisasi imperium Britania Raya ke separuh dunia dan Amerika Serikat sebagai ibukota dunia.

Demikian pula Melaka, ribuan manusia dari ras Asia sudah bertumpuk-tumpuk di sini sejak abad 15, serta memiliki hubungan diplomatik yang sangat erat dengan Imperium Usmani di Konstatinopel (Turki).

"Semua kontak dagang antara bangsa dan segala urusan perniagaan harus dilakukan di kota Malaka. Siapapun yang mengusai kota Malaka pasti bisa mengalahkan kehebatan Venesia,"__sebut seorang Duta Besar Portugal bernama Tome Pires pada 1515 dalam karya besarnya berjudul Suma Oriental. 

Bahasa Melayu memenuhi sebagian Nusantara juga didorong peran kolonial Belanda yang menganjurkan bahasa Melayu dialek Riau sebagai bahasa pengantar di ruang akademis, forum-forum dan sekolah-sekolah.

Saya hanya ingin berpendapat bahwa bukti-bukti empiris sejarah kebahasaan Melayu seperti syair-syair sufistik Hamzah Fansuri (kubu Barus) hingga ke Kitab Pengetahuan Bahasa Raja Ali Haji (kubu Riau__ Selat Melaka) hanyalah fragmen dari sebentang panjang sejarah bahasa Melayu menuju Bahasa Indonesia.

Kita membutuhkan penalaran logis, agar sejarah itu tidak tertolak sebagai sains. Lagipula mengapa ini diributkan, di atas bahasa masih ada metabahasa. Bahasa inti universal antar manusia bumi. ~MNT

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bahasa Selengkapnya
Lihat Bahasa Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun