Muhammad Natsir Tahar
Muhammad Natsir Tahar Penulis

Muhammad Natsir Tahar ~ Writerpreneur - penikmat filsafat - hidup di Batam, Indonesia!

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Artikel Utama

Cermin Tuhan dan Lautan Data

6 April 2019   16:58 Diperbarui: 8 April 2019   05:00 439 13 4
Cermin Tuhan dan Lautan Data
Ilustrasi: tealswan.com

Kebenaran umpama selembar cermin di tangan Tuhan yang jatuh pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, memerhatikannya, lalu berpikir telah mengenggam kebenaran. (Jalaluddin Rumi)

Artinya kebenaran penuh yang dipegang siapapun adalah setengah dari keseluruhan. Apa yang kita kuatirkan hari-hari ini tidak sama menakutkannya dengan fakta.

Cermin kebenaran ada di tangan Tuhan, kita hanyalah pemungut serpihan. Tapi ada banyak (versi) Tuhan yang disembah, tiap-tiap Tuhan memegang cerminnya sendiri. Pemuja Tuhan parsial akan terus berselisih, karena begitu banyak cermin di langit untuk mereka lawan. Manusia di bumi harus diakurkan dengan cara yang satu ini: Big Data.

Secara teknis, fenomena Big Data  dimulai pada tahun 2000 oleh Doug Laney, seorang analis industri, sebagai tindakan pengumpulan dan penyimpanan informasi yang besar untuk kebutuhan analisis. Dengan volume yang besar, Big Data perlu ditarik dari fungsi awalnya sebagai pemandu strategi dan keputusan bisnis untuk hal - hal yang lebih universal.

Sebagian kita masih ditakutkan oleh ancaman perang dan terorisme, tanpa menoleh kepada data, itu akan terlihat benar. Bahkan dalam debat tingkat calon presiden, kedua isu ini seolah berada di puncak tertinggi mesin pembunuh umat manusia. Perang dan ancaman terorisme membuat bangsa - bangsa terus gelisah sehingga memperkuat pertahanan militernya.

Big Data yang menghimpun seluruh fakta menjadi istilah yang paling relevan dalam filosofi holitisisme, yakni suatu prinsip yang mengedepankan cara pandang universal ketimbang hal - hal parsial sebagai sebuah fatamorgana gunung es. Ketika kita yang partikular berhimpun di atas permukaan air demi menatap puncak gunung es, orang - orang holistik menyelam di bawah permukaan untuk mengabstarksikan fakta besar yang tersembunyi.

Benarkah terorisme sebagai musuh paling mematikan umat manusia? Kita bisa buktikan dari sebuah jurnal berjudul Deaths from Obesity (2013) yang merilis data, dalam tahun 2010, obesitas dan penyakit -penyakit terkait telah membunuh 3 juta jiwa, sementara teroris hanya mampu melenyapkan 7.696 orang di seluruh dunia yang sebagian besar di negara - negara berkembang yang labil. Bahkan kata YN Harari dalam Homo Deus, bagi rata-rata orang Amerika, minuman bersoda menjadi ancaman mematikan ketimbang al Qaeda.

Seseorang akan mengutuk dengan keras aksi - aksi terorisme dan pikiran-pikiran radikal dari layar televisi, sementara di dalam lemari pendinginnya tersimpan begitu banyak material pembunuh. Dunia tidak lagi sama dengan tahun 1919 atau sebelum itu di mana perang, kelaparan, wabah penyakit menghabisi populasi manusia. Manusia abad ini dibunuh oleh karbo, gaya hidup dan obat penenang.  

Anggaran pertahanan yang tinggi bagi setiap negara lebih kepada berpacu gengsi, bila melihat fakta bahwa perang semakin menjauh dari tren global. Oleh Azar Gat dalam War in Human Civilization (Oxford University Press, 2006), sejak paruh abad ke-20 kekerasan terhadap manusia hanya menyebabkan 5 persen dari angka kematian global sementara pada abad ke-21 hanya tersisa 1 persen.

Misalnya pada tahun 2012, dari 56 juta orang yang mati di seluruh dunia, 600.000 orang tewas akibat kekerasan manusia, namun yang disumbangkan oleh perang hanya 120.000 orang, dan sebagian besar lainnya akibat pembunuhan. Bandingkan dengan 800.000 orang yang mati bunuh diri dan 1,5 juta lainnya mati karena diabetas. Tetap saja bubuk mesiu kelihatan lebih menakutkan daripada serbuk gula.

Negara dan masyarakat global semakin cerdas untuk menghindari perang atau menginvasi suatu negara, karena sejarah mengajarkan bahwa tabiat-tabiat rendah geopolitik tidak pernah menemukan alasan pembenaran yang logis selain kesengsaraan, tak peduli menang atau kalah. Dan senjata nuklir telah menahan semua orang untuk tidak memulai perang jenis ini, kecuali ingin mempercepat kiamat dengan bunuh diri massal.

Badan Narkotika Nasional (BNN) merilis, 37 sampai 40 orang Indonesia mati tiap hari karena narkoba. Sementara sekitar 2,2 persen dari total 262 juta jiwa penduduk Indonesia, telah terkontaminasi narkoba. Padahal secara internasional, suatu negara dinyatakan darurat narkoba jika 2 persen penduduknya telah mengkonsumsi narkoba.

Sayangnya fakta mencemaskan ini tidak sempat diperbincangkan dalam debat capres dan isu-isu seputar kritik oposisi dan kinerja petahana. Hal - hal substansial seperti rapuhnya sistem keuangan global, keseimbangan ekologi planet, polusi, pemanasan global, paradoks digitalisasi yang mengancam eksistensi manusia, campur tangan sandi-sandi piranti lunak pemicu bom digital dan perang siber luput dari narasi - narasi percaturan politik di Indonesia.

Jika pecahan-pecahan cermin Tuhan tidak utuh kita terima, marilah menyelam ke lautan data. Jika pun kebenaran tidak kita peroleh atau ingin kita tolak dari sana, setidaknya apa yang kita yakini sebagai kebenaran hari ini harus siap untuk diuji kapan-kapan. ~MNT