Mohon tunggu...
Misbah Murad
Misbah Murad Mohon Tunggu... "Tidak ada sekolah menulis; yang ada hanyalah orang berbagi pengalaman menulis."- Pepih Nugraha, Manager Kompasiana. chanel you tube misbahuddin moerad

"Tidak ada sekolah menulis; yang ada hanyalah orang berbagi pengalaman menulis."- Pepih Nugraha, Manager Kompasiana. chanel you tube misbahuddin moerad

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Sepuluh (Balikpapan, 10 Juni 1994)

17 Juni 2019   09:06 Diperbarui: 17 Juni 2019   09:14 0 3 0 Mohon Tunggu...

Sebelum menaiki pesat, Yoga memandang Bandara Juwata Tarakan, di pandangnya kota Tarakan, lima tahun dia jadi warga Tarakan, mencari nafkah di perantauan, hari ini dia menuju Balikpapan, meninggalkan semua kenangan indah disini, Bapak dan Ibu Sappe di Pantai Amal Tarakan, kawan-kawan satu tempat kostnya, rekan sekerja dan para warga Tarakan yang pernah berhubungan dengannya, entah kapan lagi dia akan menginjakkan kaki ke Daerah ini,

Perlahan dia menaiki tangga pesawat, sebelum masuk dia pandang kembali, dan masuk ke dalam pesawat, tidak ada bagasi yang dia bawa, hanya sebuah ransel berisi dua stel pakaian dan surat-surat penting, sedang yang lain sudah dia paketkan dua hari lalu, melalui jasa titipan kilat, sedang sebagian barang lain di berikannya ke OB kantor.

Setelah dapat tempat duduk, di pejamkannya matanya, kembali dia mengingat kemarin sore, mengirim telegram ke Anti dan dia yakin hari ini Anti sudah menerima telegram itu, cukup lama juga dia mencari kata setiba di Telkom untuk mengirim telegram kemarin, akhirnya dia tulis,

"Alhamdulillah Abang dapat SK ke Samarinda, besok Abang ke Balikpapan, Abang mampir ke Kantor sehabis Sholat Jum`at."

Pesawat sebentar lagi akan berangkat, Yoga menghentikan lamunanya, di pandangnya kembali Tarakan dari jendela pesawat, pesawat menuju runway perlahan, mengambil posisi paling ujung, dan siap untuk take off, dengan kecepatan penuh, gemuruh suara pesawat membuat sedikit bising telinga, Yoga terus memandang dari kaca jendela, tidak begitu lama pesisir laut terlihat, pesawat semakin meninggi dan semakin menjauh meninggalkan bandara.

Yoga masih memejamkan matanya, seraya berpikir keras, kalimat apa yang akan diucapkan sampai ke Kantor Anti nanti, dia hanya berharap, mendapatkan penjelasan secara jelas dari Anti, selebihnya dilihat bagaimana nanti setelah pertemuan itu.

Dibacanya koran Kompas yang tadi diambilnya saat masuk kedalam pesawat, di baca dari halaman pertama, Yoga tidak ingin makan saat pramugari menawarkan makanan untuk para penumpang, Yoga hanya minta minum juice apel pakai es, setelah habis minuman yang diberikan pramugari, dan menyerahkan gelas kosongnya, Yoga, melipat dan menyelipkan koran tadi di senderan kursi di depannya, kemudian dia pejamkan matanya, dia ingin tidur, melepaskan semua beban yang ada hampir dua bulan ini, bukan masalah pekerjaan tetapi masalah hati dan perasaan.

          Tepat pukul 10.15 menit Yoga dikagetkan oleh hempasan, ternyata mereka sudah mendarat di bandara Sepinggan di Balikpapan, Yoga melepas kacamatanya kemudian mengusap mukanya dengan kedua tangannya, dirapikannya rabutnya dengan kedua tangannya, kemudian di kenakan kembali kaca matanya, pesawat masih meluncur perlahan menuju parkiran yang sudah disediakan, nampak sebagian penumpang yang tidak sabar, segera melepaskan sabuk pengaman, sementara masih terlihat belum saatnya melepaskan sabuk pengaman, deru pesawat masih terdengar, namun sudah tidak ada gerakan, sudah banyak sebagian penumpang yang berdiri dan membuka bagasi serta mengambil bagasi mereka masing-masing, Yoga membiarkan penumpang lain berlomba untuk turun, persis seperti saat naik, berebut untuk saling mendahului, setelah penumpang tinggal sedikit, Yoga berdiri dan mengambil ransel di cabin, menuju pintu keluar dan mengucapkan terima kasih kepada pramugari yang berdiri di samping pintu pesawat.

Yoga perlahan menuju rungan kedatangan, dia tidak langsung memesan kendaraan untuk ke Kantor Anti, tapi mencari warung dulu untuk makan kemudian melakukan sholat Jum`at di Masjid dilingkungan bandar udara, waktu sholat Jum`at masih lama, Yoga mengambil Qur`an yang ada di Masjid membuka halaman sekenanya dan membaca sampai pengumuman dari DKM Masjid yang menginformasikan sumbangan dari jamaah, saldo kas Masjid dan petugas Jum`at hari ini, Yoga menutup Qur`annya dan mengikuti ritual pelaksanaan sholat Jum`at.

          Tepat jam 12.50 waktu Sholat Jum`at  telah selesai, satu-satu jamaah mulai meninggalkan Masjid tak terkecuali Yoga, Tapi dia duduk dulu di teras Masjid, menunggu waktu sampai jam 13.30 baru dia ke Kantor Anti, karena kalau hari Jum`at Anti jam segitu baru kembali ke Kantor dari Makan siang atau dari istirahat.

Sesampai di kantor Anti Yoga bertemu dengan Satpam, oleh satpam di persilahkan langsung masuk ke resepsionis, Yoga masuk, kemudian menyampaikan keinginanya untuk bertemu dengan Anti, oleh resepsionis di tanya apa sudah ada janji, Yoga menjawab belum, resepsionis mengatakan Ibu Anti jam 11 siang tadi izin untuk pulang dan tidak masuk kerja lagi, ada keperluan, setelah mengucapkan terima kasih Yoga meninggalkan kantor Anti, menyeberang jalan untuk menunggu Angkot ke Pasar Baru, semakin kacau pikiran Yoga ada apa ini, apa Anti segaja pulang untuk menghidar dari dirinya, atau Anti pulang ada yang sakit,  semakin rumit hubungan ini, akhirnya Yoga mengambil keputusan dia langsung ke Kampung Baru saja, nanti setelah Magrib dia pinjam kendaraan ponakannya untuk menuju rumah Elis, karena hanya ini satu-satunya jalan, kalau ada sesuatu hal biasanya Elis lebih dahulu mengetahuinya, semoga Elis ada di rumah malam ini batinnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
KONTEN MENARIK LAINNYA
x