Mohon tunggu...
Mirza Ghulam Ahmad
Mirza Ghulam Ahmad Mohon Tunggu... Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Masih belajar dan akan terus belajar menulis.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Culture Shock: Beda Negara, Beda Budaya dan Beda Aturan

25 Mei 2020   17:15 Diperbarui: 25 Mei 2020   17:14 421 11 0 Mohon Tunggu...

Indonesia menurut wisatawan asing adalah negara yang layak dikunjungi saat musim libur tiba. Selain karena pantainya yang eksotis dan iklim alam tropis banyak wisatawan asing yang merasakan keramahan dari warga indonesia. Ya, orang indonesia dikenal karena sifat ramah dan welcome kepada siapapun termasuk wisatawan asing. 

Saking ramahnya banyak sekali cerita wisatawan asing yang betah dan ingin tinggal lebih lama, bahkan ingin berpindah kewarganegaraan menjadi warga negara indonesia. Orang Indonesia yang doyan senyum dan selalu terbuka menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing , dan hal ini tidak mereka temukan di negara asal mereka.

Selain karena keramahan ada faktor lain yang membuat wisatawan asing betah di Indonesia, yaitu karena faktor aturan yang tidak terlalu ketat dan lebih bebas. Aturan yang tidak ketat bukan berarti undang-undang atau peraturan daerah lemah, yang dimaksud tidak ketat adalah aturan tidak membatasi warganya mereka dapat melakukan aktivitas yang dilarang di negara asal mereka. 

Contoh kecilnya adalah merokok, di Indonesia orang bebas merokok dimana saja asal tidak ada larangan merokok. Tentu dengan bebas anda dapat merokok dimana saja dan kapan saja asal anda tidak kehabisan stok rokok dan korek. Dinegara asalnya wisatawan asing dihadapkan dengan aturan merokok yang ketat, salah tempat merokok bisa kena denda atau lebih parahnya pidana penjara.

Walaupun diakui ramah oleh wisatawan asing tentu kita setuju beberapa budaya prilaku masyarakat Indonesia bisa dibilang buruk. Seperti menyela antrian, melawan arus lalu lintas, menerobos lampu merah, parkir sembarangan dan hal lainya yang pasti kita sudah mengetahuinya atau bahkan tanpa sadar melakukanya. 

Beda negara, beda aturan dan tentu beda juga budayanya, saya sempat mengalami fenomena "Culture Shock" saat beberapa wakktu yang lalu saya berlibur ke Singapura, dimana saya merasa gelisah dan bingung terhadap lingkungan dan budaya baru yang belum saya rasakan sebelumnya, gejala ini umum terjadi dan bukan masalah kesehatan yang sampai merusak mental dan akal sehat.

Dalam penjelasan lain Culture Shock dapat diartikan belum terbiasanya kita terhadap lingkungan atau budaya baru yang belum pernah kita rasakan di lingkungan sebelumya. 

Sebenarnya hanya mengarah ke pola berpikir saja, jika kita lebih terbuka kepada lingkungan dan budaya baru tentu akan lebih mudah mengatasi Culture Shock

Saat pesawat saya mendarat di Changi International Airport fenomena Culture Shock  langsung saya rasakan. Sejauh pandangan mata di dalam bandara tidak ada raut wajah sumringah yang sering kita jumpai di Indonesia, semua orang seperti mengurus kehidupanya sendiri. 

Pada saat itu saya bingung dan merasa terasingkan dinegri entah berantah, namun perlahan saya menyadari memang seperti itulah karakter masyarakat negara Singapura, bagi orang awam hal seperti itu bisa dianggap sebagai kehidupan yang individualis. Namun pada kenyataanya memang seperti itu kehidupan warga singapura, mereka jarang bersosialisasi dengan berinteraksi secara langsung. 

Mereka akan bersosialisasi saat mereka memiliki kebutuhan, keresahan atau tujuan yang sama. intinya, warga Singapura jarang basa-basi dalam sosialisasi mereka hal ini berbeda dengan indonesia yang warganya doyan basa-basi untuk bersosialisasi.      

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN