Cathaleya Soffa
Cathaleya Soffa Ibu rumah tangga

Bersyukur dan jalani saja hidup ini.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Hati (4)

12 Februari 2019   23:26 Diperbarui: 13 Februari 2019   12:24 68 5 1
Cerpen | Hati (4)
pixabay

"Minggu cerah." Mia bergumam lirih. Di lengkung bibirnya tercipta senyuman indah. Ia berjanji hari ini akan ke Gereja bersama Maria dan Natali. 

Matanya penuh binar. Memandangi lautan biru di angkasa. Biru untuk hatinya yang bersuka cita. Hujan deras semalam mengakhiri rasa cemas. Mia masih ingat itu. Ketika pintu jendelanya terbuka. Hanya dia dan milir angin yang saling tatap bertemu wajah. Bersama memandang lekat malam tanpa bintang dan rembulan. 

Berr.... !

Hujan turun sangat deras. Kilatan petir dan halilintar saling menyambar. Begitu saja. Tanpa pertanda apa-apa. Sampai di suatu menit yang manis, terdengar deru mobil di depan halaman rumahnya. 

"Mia... Mia....!"

Terdengar suara memanggilnya. Dari arah depan rumah. Dia melongokkan kepala di balik tirai jendela. Ditajamkan pendengarannya. Membuka lebar-lebar telinganya. Membuka kembali pintu jendela. 

"Mia... Mia... !"

Kembali suara itu memanggil-manggil nama Mia. Kali ini suaranya tenggelam. Terbawa arus hiruk pikuk ricik hujan yang semakin menderas. Riuh gelegar petir dan halilintar pun saling bersahutan. Memecah belah suara-suara teriakan tadi.

Sementara tubuh pria tersebut basah kuyub.

Mia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Berkali ditatapnya tubuh samar itu. Dikucek matanya. Rintik hujan yang jatuh menghalangi penglihatannya.

"Mas Prabu?!" Pekiknya. Untuk apa dia malam-malam begini datang berkunjung ke rumahnya. Benak Mia penuh tanya.

"Mia... Mia.... hei... kemarilah..." Prabu melambaikan tangannya. Dia tahu Mia ada di balik jendela itu sedang memperhatikanya.

Tak lama.

"Mas...kau gila. Malam-malam begini ngapain ke sini. Hujan lagi..." Mia segera membuka pintu gerbang rumah. Membawakan payung untuk Prabu.

"Ternyata kedatanganmu lebih cepat dari perkiraanku. Kupikir kau masih berdiri dibalik jendela."

"Ya ga lah. Ayo buruan masuk. Nih aku bawain handuk."

"Kau perhatian juga ha..." 

"Ini darurat. Kalo ga mau yaudah. Sini, handuknya....!" Mia berusaha merebut kembali handuk di tangan Prabu.

"Eits."

"Sini..."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3