Mohon tunggu...
Rusmin Sopian
Rusmin Sopian Mohon Tunggu... Freelancer - Urang Habang yang tinggal di Toboali, Bangka Selatan.

Urang Habang. Tinggal di Toboali, Bangka Selatan. Twitter @RusminToboali. FB RusminToboali.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Lelaki dengan Parang di Pinggang dan Kebun Singkongnya

24 Februari 2021   14:31 Diperbarui: 24 Februari 2021   14:35 364
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Cerpen : Lelaki dengan Parang Dipinggang dan Kebun Singkongnya

Matahari mulai menyembul dbalik awan yang tipis. Sinarnya sungguh perkasa pagi ini. Seperkasa seorang lelaki Kampung yang menyelipkan parang dipinggangnya. Sementara suara gemercik arus sungai kecil mengornamen langkah kakinya.

Setiap hari, saat matahari mulai terbangun dari peraduannya, lelaki kampung itu menyusuri jalanan kecil menuju kebunnya yang terletak di atas bukit. Setiap hari, lelaki kampung itu menerobos ranting-ranting pohon kecil di hutan belantara itu untuk mencapai kebunnya yang tak begitu luas dan dipebuhi tanaman ubi singkong.

" Singkong itu telah menghidupi kita selama ini," cerita ayahnya.

" Tapi tanah di kebun itu sangat cocok ditanami dengan tanaman lainnya," kilahnya.

" Ingat,Nak. Kebun singkong itu bisa menyekolahkanmu hingga sarjana," jawab ayahnya lagi.

lelaki itu cuma menghela nafas panjang. Menatap lelaki tua yang sedang duduk di depannya. lelaki tua yang mampu menyekolahkannya hingga meraih titel Sarjana dari hasil kebun singkong yang kini dikelolanya. Di luar, rembulan bersinar dengan indah. Kerlap kerlip bintang dilangit menambah keelokan malam malam itu.

" Saya heran dengan Bedu. lulusan universitas, tapi kok berkebun," tanya seorang warga kampung dengan nada keheranan.

" Setiap orang punya pilihan hidup, Pak. Tak bisa kita memaksakan kehendak kita kepada orang lain. Soal pandangan berbeda itu manusiawi," celetuk warga yang lainnya.

"Benar. Yang amat kita sayangkan, karena Bedu itu berpendidikan tinggi. Itu saja," jawabnya.

" Apa tak boleh seorang bertitel jadi petani," tanya seorang warga lainnya. Tak seorang pun yang menjawab. Semua terdiam. Sinar matahari menerjang wajah mereka dengan garangnya. Peluh mengucur dari tubuh mereka. Kopi yang telah terseduh oleh pelayan warkop terasa makin panas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun