Mohon tunggu...
Rusmin Sopian
Rusmin Sopian Mohon Tunggu... Freelancer - Urang Habang yang tinggal di Toboali, Bangka Selatan.

Urang Habang. Tinggal di Toboali, Bangka Selatan. Twitter @RusminToboali. FB RusminToboali.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Hari Ini, Ada Lagi Berita tentang Kematian

18 Januari 2021   10:03 Diperbarui: 29 Januari 2021   20:15 203
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Assalamuallaikum Warahmatullahhiwabarakkatuh. Innalillahi Wainnalillahi Rojiun. Telah berpulang ke rahmatullah Bapk Nganu Bin Nganu hari ini. Insya Allah akan dimakamkan hari ini juga di pekuburan keabadian,"

Narasi  dari pengeras suara yang disampaikan pengurus masjid pagi ini terasa hambar. Hampir setiap hari suara berita tentang kematian terus bergema. Kadang pagi hari. Kadang siang hari, bahkan kadang malam hari. Masihkah berita-berita itu tak mampu menguyah nurani kita sebagai manusia?

"Setiap yang hidup pasti akan mati," ujar Mang Karip.

"Makanya Mang, sebagai manusia yang masih diberi waktu untuk bernafas, bernafaslah dengan menghisap udara yang segar hingga menyegarkan saluran pernafasan kita. Jangan menghirup udara yang kotor. Ya, cepat koid lah," sela Mang Kudon.

Mang Birin terdiam. Tak ada narasi balasan. Nafas tuanya tersengal mendengar narasi para sahabatnya itu. Ada sesal yang terkunyah dalam sekujur tubuh tuanya. Seolah ada tikaman yang menghujam jantung tuanya. Memuncratkan darah hitam dari jantungnya. Membasahi ubin rumahnya yang super mewah. Darah jantung Mang Birin menghitamkan ubin rumahnya. Sangat hitam. 

Mang Birin tiba-tiba ingat dengan nasehat anaknya. Sebuah nasehat yang amat menyentuh jiwanya sebagai manusia. Sebuah pesan yang amat menyentuh nuraninya sebagai seorang ayah. 

"Usia ayah sudah tidak muda lagi. Sudah saatnya berhijrah. Sudah saatnya menghijrah diri. Apa bekal ayah untuk pulang nanti.  Kepongahan dunia tak kan mampu membayar kehidupan ayah nanti. Apakah ayah mampu bertahan hingga dunia kiamat? Apakah uang ayah yang bejibun itu mampu memperpanjang usia ayah? Apakah jabatan ayah yang tinggi ini mampu mengantarkan ayah hingga dunia ini berkahir?," ujar anaknya.

Saat itu, sebagai ayah, narasi narasi sang anak dianggap Mang Birin sebagai bentuk ketidakhormatan seorang anak kepada dirinya sebagai orang tua. Mang Birin benci. lelaki tua itu kesal bahkan bercampuk amarah yang luarbiasa yang mengkecamuk dalam seluruh raganya hingga Mang Birin pun mengeluarkan kata-kata.

"Aku ini ayahmu. Orang tuamu. Sangat tidak pantas kamu sebagai anak berbicara seperti itu kepada ayahmu ini. Sangat tidak pantas. Aku ini orang yang membahagiakan kalian. Menyekolahkan kalian sampai ke keluar negeri hingga kalian berpendidikan tinggi dan bermartabat sebagai seorang manusia. Dihormati orang sekitar. Kalau mau ceramah dimasjid sana. jangan di sini," bentak Mang Birin.

Airmata Mang Birin mengalir. Membasahi tanah yang masih basah oleh siraman gundukan tanah yang baru digali. Tak ada yang bisa diajaknya bicara. Tak ada yang bisa diajaknya diskusi. Tak ada. Yang ada hanya tanah dan tanah. Sesekali cacing tanah menghiasi mukanya. Semut hitam pun bertengger di kakinya yang jarang tercuci air wudhu. Dalam ruangan yang sempit ini, uang  bejibun yang dimilikinya tak bernilai. Dalam ruang yang gelap ini, uangnya yang bejibun itu tak bermanfaat. Tak mampu berbicara banyak. Tak mampu sama sekali.  Mata Mang Birin membelalak. 

Lelaki tua itu terbangun dari mimpi panjangnya. Matanya menatap sekitar. Disampingnya, tampak istrinya sedang tertidur dengan pulasnya. Kecantikan istrinya masih mempesona. Tak kalah dengan wanita muda yang sering dikencaninya.  Televisi dalam kamar masih menyala. Presenter berita menyiarkan berita tentang kematian.  Masih tentang kematian.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun