Mohon tunggu...
Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Mohon Tunggu... buruh proletar

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Puisi Artikel Utama

Hujan, Sajak-sajak, dan Cermin yang Retak

19 September 2020   19:02 Diperbarui: 19 September 2020   21:18 166 28 9 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Hujan, Sajak-sajak, dan Cermin yang Retak
Pixabay.com

Hujan jatuh di atas kota yang dingin. Membawa pesan tersirat. Malam-malam akan semakin berat. Ketika purnama tertatih-tatih membawa tubuhnya. Menelusuri sisa jejak langkan kota.

Berita simpang siur berdesing-desing. Seperti peluru merobek-robek hening. Menjadi tajuk rencana yang sama sekali tak direncanakan. Menjadi katastropik paripurna yang sama sekali tidak dipurnakan.

Separuh isi bumi terpekur menghitung almanak. Tanggal-tanggal berjatuhan seperti ngengat. Sementara waktu terus berlari. Laksana api. Di tengah-tengah savana yang mati.

Sajak-sajak ditulis dengan mata terpejam. Syair-syairnya begitu lebam. Seolah setiap kata menghindari majasnya. Seperti larinya kuda tanpa pelana.

Ini sesungguhnya bukanlah petaka. Hanya hikayat yang dimulai dari prakata. Di dalam sejarah yang mengulang abad-abadnya. Semenjak dahulu. Saat semua cermin dibuat dari retakan masa lalu.

Bogor, 19 September 2020

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x