Mohon tunggu...
Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Mohon Tunggu... buruh proletar

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Panitera

19 Maret 2020   06:13 Diperbarui: 19 Maret 2020   06:21 66 6 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Puisi | Panitera
images.pexels.com

Sajak hari ini
tumpah di selasar stasiun, terminal, dan bandara
di sana, aku menemukan banyak kalimat, terlunta-lunta
tak menemukan tuannya

Langit pagi
menurunkan bait demi bait
tentang hujan yang memilih
bersembunyi, di tempat-tempat paling sepi
ketakutan kepada
orang-orang gelap mata, yang begitu tergesa-gesa
berburu apa saja di savana
dari sisa rumput hingga kepala hyena
untuk ditimbun, di gudang belakang
sebagai bekal menghadapi
wabah kegelisahan

Jalanan, gang-gang, lapangan sepak bola
masing-masing, memunguti rasa cemas
sebagai lelucon yang mematikan
dan itu disiarkan
secara bertubi-tubi
oleh orang-orang yang menganggap
ini semua adalah parodi
tentang Tuhan
yang sedang menjatuhkan vonis pengadilan
atas segala kekacauan, yang diperdagangkan

Orang-orang itu lupa
Tuhan bukan hakim bertoga
Dia justru adalah panitera
hanya mencatat semuanya
untuk kelak ditimbang, seadil-adilnya
saat zaman telah mendiang
ketika semua orang telah pulang
manakala televisi dan koran-koran
tak sempat lagi mengabarkan
sehingga kehilangan
sekian banyak oplah dan iklan

Jakarta, 19 Maret 2020

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x