Mohon tunggu...
Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Mohon Tunggu... buruh proletar

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Penjelajah Masa Lalu (Episode 9, Candi Laut Selatan)

14 Oktober 2019   19:30 Diperbarui: 14 Oktober 2019   19:40 55 4 1 Mohon Tunggu...

Sebelumnya

Lagi-lagi Raka terjajar mundur ke belakang. Tadi saat dia mencari jalan keluar bersama Bima, ketika dia mencoba menyusur setiap batu di dinding ruangan dan berharap menemukan kunci rahasia, mendadak sebuah hawa tidak nampak mendorongnya dengan keras dan membuatnya terpelanting ke belakang.

Begitu Raka mencoba kembali, hawa panas dan kuat itu mendorongnya lagi. Sampai pada usahanya yang ke sekian, Raka terjatuh dan menimpa Bima yang mencoba membantu menahan tubuhnya dari belakang. Tentu saja keduanya terjengkang bergulingan dan mengaduh kesakitan.

Suara gedebukan inilah yang terdengar oleh Dewi dari ruangan bawah tanah.

Raja mengrenyitkan kening melihat kejadian yang menimpa Raka dan Bima. Ada kekuatan aneh ikut campur tangan lagi. Dia tidak mau meninggalkan Dara yang masih pingsan. Bisa-bisa dia kecolongan lagi.

"Raka! Bima! Coba kalian pindahkan patung jelek yang ada di sudut ruangan sana! Pindahkan ke dekatku sini," Entah darimana ide itu berasal, tapi Raja menggunakan intuisinya dan merasa itulah yang semestinya dilakukan.

Tanpa banyak bertanya, Raka dan Bima mengerjakan perintah Raja. Keduanya menuju sudut ruangan tempat patung berada. Patung itu lumayan berat jadi mereka mengangkatnya harus berdua. Meletakkannya di hadapan Raja yang lantas memandangi si patung tanpa berkedip.

"Kalian terus cari jalan keluar. Aku yakin sekarang kalian tidak akan terganggu," Raja berkata sembari melihat gelagat si patung.

Antara bingung dan ingin tahu, Raka dan Bima kembali menelusuri setiap dinding dan lantai batu berusaha menemukan pintu rahasia atau apapun yang bisa mengeluarkan mereka dari ruangan aneh ini.

"Aaah! Apa ini?!" Raka setengah berteriak sembari berjongkok memungut sesuatu dari lantai di sudut ruangan yang lain. Dilambaikannya sebuah saputangan ke teman-temannya.

"Itu...itu saputangan Dewi!" setengah meloncat Bima mendatangi untuk memastikan.

"Ah benar! Ini memang saputangan Dewi!" Bima melonjak kegirangan sambil menunjuk emblem kecil huruf D di sudut saputangan.

Raja hampir saja ikut maju melihat kawan-kawannya antusias mencari darimana asal muasal saputangan itu. Tadi mereka telah menyapu semua sudut ruangan dan tidak ada apa-apa. Berarti saputangan ini memang baru saja ada.

Namun gerakannya tertahan karena Raja melihat sesuatu yang mencurigakan pada patung di hadapannya. Posisinya berubah! Tangan yang tadinya bersedekap kini setengah terjulur ke arah Dara!

Buru-buru Raja melompat mundur dan menghalangi sela-sela antara patung itu dan Dara. Nyaris saja dia kehilangan kewaspadaan. Gila! Patung ini tadi mau apa?

"Terus cari Raka, Bima! Dewi pasti ada di bawah ruangan ini! Aku harus tetap berjaga di sini!" Raja berteriak sambil iseng mendorong patung itu menjauh.

"Aagghh! Panaaasss!" Patung itu tiba-tiba mengeluarkan teriakan yang mengejutkan semua orang.

Rupanya sentuhan tangan Raja membuat si patung penjaga kepanasan setengah mati sehingga tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak kesakitan. Mantranya punah dan dia kembali menjadi makhluk yang hidup. Bukan patung lagi.

Raja terkesiap. Didorong oleh nalurinya, lelaki ini memegang kedua lengan patung yang terjulur memanjang hendak meraih tubuh Dara.

"Panaaassssss! Ampuuunnnnnn!" Terdengar desis keras saat tangan Raja memegang erat kedua lengan patung. Asap mengepul dari lengan itu seolah tangan Raja berubah menjadi bara api yang menyala. Membakar lengan si patung yang menjerit-jerit mohon ampun.

Mengabaikan pandangan kedua temannya yang bengong, Raja tidak mau melepaskan genggamannya pada si patung yang kali ini tidak hanya lengannya yang terbakar tapi sudah menjalar ke seluruh tubuhnya.

Raja baru melepaskan kedua tangannya dengan otomatis setelah tidak merasakan lagi lengan yang digenggamnya erat-erat. Patung itu hancur menjadi abu!

Meskipun juga terheran-heran dengan kemampuannya yang aneh, Raja tidak mau membuang waktu. Setelah merasa situasi aman bagi Dara, dia memimpin teman-temannya mencari jalan di mana keberadaan Dewi.

"Saputangan itu tadi di sini. Lihat! Ada lubang di lantai ini," Raka berbisik kepada teman-temannya sambil melirik Raja dengan ngeri.

Ketiganya bergegas berusaha membongkar lantai batu alam yang sangat keras itu. Dan tentu saja gagal. Batu itu sama sekali tidak bergeming.

Raja merasakan suatu firasat mengusik hatinya. Tanpa melihat lagi ke belakang, lelaki ini melompat ke arah meja panjang di mana terbujur tubuh Dara.

Benar saja, saat mereka sedang fokus pada lantai batu, sesosok bayangan perlahan mendekati Dara. Raja berpacu dengan sosok itu menuju ke Dara. Sementara Raka dan Bima yang kaget dengan tindakan Raja, kembali hanya terdiam terpaku.

Sosok itu perempuan yang mereka temui di atas bukit dan juga di gua! Sosok perempuan mengerikan berambut panjang dengan taring berdarah!

Sebelum tangan perempuan mengerikan itu menyentuh tubuh Dara, Raja melompat tinggi menubruk perempuan misterius itu. Keduanya bergulingan di lantai. Raja sempat memegang kaki perempuan yang berusaha keras bangun dan bersikeras menyentuh tubuh Dara.

Hal yang nyaris sama terulang lagi. Perempuan itu melengking tinggi kesakitan saat kakinya yang dipegang Raja mulai terbakar.

Raja tidak peduli apa yang menjadikannya semacam korek api bagi makhluk-makhluk ini, yang jelas dia tidak mau tubuh Dara disentuh karena dia yakin itu akan membawa kembali Dara ke dimensi yang sama dengan mereka dan dia serta teman-temannya akan kembali kesulitan mencari.

Jeritan kesakitan itu melengking berulang-ulang menyayat hati. Tapi Raja menutup rasa ibanya sekuat mungkin. Bahkan satu tangannya yang masih bebas meraih kaki yang satu lagi dari perempuan mengerikan itu.

Seperti disiram bensin, tubuh perempuan itu langsung berkobar dimakan api. Hangus menjadi abu.

Raja bangkit berdiri terhuyung-huyung. Dia lelah sekali. Hampir saja dia roboh terkapar kalau saja tidak cepat berpegangan pada meja batu tempat tubuh Dara terbujur. Meja itu terdorong memutar secara tidak sengaja!

Ketika meja itu berputar, terdengar getaran hebat di sudut ruangan tempat ditemukannya saputangan Dewi. Sebuah lubang terbuka di sana!

Tanpa berpikir panjang Bima menjengukkan kepala pada lubang yang tidak cukup untuk dimasuki tubuhnya itu. Matanya langsung bertemu dengan mata Dewi yang sedang menatapnya penuh rasa takjub dan syukur.

Dewi mendengar langkah kaki menuruni tangga putar di atasnya. Tanpa ba bi bu lagi gadis ini menaiki dipan dan mengulurkan tangannya ke Bima yang langsung menyambut dan menariknya sekuat tenaga ke atas.

Lubang itu tidak muat untuk tubuh Bima tapi leluasa untuk tubuh seramping Dewi.

Tepat saat pintu penjara terbuka dan membawa si pemimpin masuk, saat itu pula Bima berhasil mengangkat tubuh Dewi ke atas.

"Heiii! Mau kemana kau perempuan putri sesaji!" terdengar jerit mengerikan dari si pemimpin yang langsung melayang menghambur ke lubang untuk meraih kaki Dewi. Gagal!

Tubuh Dewi sudah berhasil ditarik sepenuhnya oleh Bima.

"Tutup! Tutup kembali lubang ini!" Dewi menjerit histeris sambil menunjuk ke arah lubang.

Raja yang cepat tanggap akan situasi, mendorong meja ke arah semula. Dan benar saja, lubang itu serta merta tertutup kembali dengan suara keras. Hanya menyisakan suara jeritan mendirikan bulu roma dari si pemimpin yang ada di bawah.

"Aku akan mencarimu Dewiiiiiiiiiii!"

------
Jakarta, 14 Oktober 2019

VIDEO PILIHAN