Mohon tunggu...
Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Mohon Tunggu... buruh proletar

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Cuaca Akan Baik-baik Saja

23 Juni 2019   10:21 Diperbarui: 23 Juni 2019   10:38 150 8 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Puisi | Cuaca Akan Baik-baik Saja
sumber: pixabay.com

Ketika hujan menari-nari secara vulgar di hadapan orang-orang yang menatapnya dengan pandangan lapar, saat itulah berahi para pemimpi dituntaskan dengan cara berapi-api. Keringat mengalir sederas air meluncur dari bibir jurang. Membawa serta gemuruh dari menggelinjangnya rasa jalang.

Ketika kemarau menelanjangi dirinya bulat-bulat agar orang-orang yang menyaksikan terbakar hingga ujung kaki, saat itulah mimpi satu demi satu berguguran laksana pahlawan perang. Orang-orang tidak menguburkannya di taman makam pahlawan, tapi justru berusaha keras untuk melupakan. Terus terang, melupakan jauh lebih mudah daripada mengingatnya sebagai kenangan.

Cukup dua musim itu saja. Musim lainnya biarlah ditentukan sendiri oleh masing-masing hati. Bagi penyuka musim sepi, tunjukkan pada mereka cara patah hati. Bagi para pengagum riuh, beri jalan ke pasar-pasar dan terminal, tempat impian bergelayutan seperti kisah megatruh.

Cuaca akan selalu baik-baik saja. Selama selalu tersedia emperan untuk berteduh sekaligus untuk berdagang peluh. Banyak yang mau membelinya dengan harga berapa saja. Bila itu bisa membawa mereka ke singgasana. Sebuah tempat yang bebas mengenakan baik dan buruk dalam satu celana.

Kalau saja kelak ada yang menuntut kenapa cuaca tidak selalu mampir di jendela yang di bawahnya ditumbuhkan perasaan terlindungi dari segala macam mimpi yang mengancam, maka menyerahlah pada ketakutan akan masa depan yang muram, daripada jatuh dalam kengerian akan harapan yang tiba-tiba saja menjadi pecundang.

Sampit, 23 Juni 2019

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x