Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Karyawan Swasta

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Tetralogi Air dan Api, Lahirnya Air dan Api

6 Desember 2018   05:49 Diperbarui: 6 Desember 2018   06:07 255 4 2
Tetralogi Air dan  Api, Lahirnya Air dan Api
dokpri


Bab II

Lebih dalam menyelam di jiwa
Akan ditemui riuh dan hening saling bergandengan
Setiap saat
Seperti bumi dan langit yang tak pernah saling benci 
Seperti hujan dan kemarau yang saling memberi jalan
Seperti rindu dan benci yang tak mau saling mengaku
Meski hati terpaku pada satu nama
Dan berkata tentang cinta yang sebenarnya

 Bab III

Alas Garahan. Dyah Puspita  menghentikan larinya setelah sekian ratus kejap.  Dia takut tiga tokoh kejam itu mengejar dan menyusulnya.  Tapi dia sudah terlalu lelah.  Selain jauhnya jarak yang telah ditempuh, bungkusan besar di punggungnya membebaninya terlalu berat.  Diturunkannya bungkusan itu kemudian dibukanya.  

Alangkah terkejutnya dia ketika melihat anak laki laki Arya Prabu pucat kehijauan wajahnya.  Sekujur tubuhnya sedingin es.  Dengan panik Dyah Puspita memeriksa urat nadi anak itu.  Detak jantungnya amat lemah.  Bibirnya membiru.  Sebuah tanda bekas menghitam kelihatan jelas di pundak.  Baju di bagian pundak tersebut hangus terbakar.  Cepat-cepat Dyah Puspita membaringkan anak laki laki itu ke tanah di bawah sebuah pohon besar dan kemudian duduk bersila memusatkan tenaga dalam serta menyalurkan ke tubuh anak itu melalui tangan yang ditempelkan ke dadanya selama beberapa kejap.  

Luka dalam yang diderita oleh anak itu sangat parah.  Bahkan Dyah Puspita bisa menduga bahwa anak itu juga mengalami keracunan hebat.  Tanda hangus di pundaknya adalah bekas serempetan pukulan Wedus Gembel Aswangga. Dyah Puspita tertarik melihat sebuah tanda kecil di pangkal leher. Ketika dirabanya, Dyah Puspita terjengit kaget.  Tanda itu ternyata jarum kecil yang masuk ke leher.  Bagian tubuh di sekitar jarum itu  sangat panas. Sangat berlawanan dengan suhu tubuh lainnya yang sangat dingin.  Senjata rahasia Madaharsa dilumuri dan direndam dengan menggunakan racun Kalajengking Hijau Nusakambangan, Ular Kobra Ujungkulon,  Kadal Beracun Laut Jawa, dan Ludah Api Laba Laba Persia.  Luar biasa beracun dan berbahaya. 

Dyah Puspita teringat pesan terakhir Arya Prabu.  Merasa bersalah atas malapetaka yang menimpa keluarga ini.  Tersentak kaget  mendengar anak itu terbatuk batuk hebat dan muntah darah berwarna kekuningan.  Mata anak itu terbeliak menahan rasa sakit yang teramat sangat.  Dyah Puspita mencoba kembali menempelkan telapak tangannya ke dada anak itu, namun tersentak ke belakang dengan tiba tiba.  Hawa murni yang coba dia salurkan mental kembali dan tidak bisa masuk ke tubuh anak itu.  Kembali anak itu memuntahkan cairan dari mulutnya.  Kali ini cairan itu berwarna kehijauan.  

Dyah Puspita semakin panik tidak tahu harus berbuat apa.  Untuk ketiga kalinya, anak itu memuntahkan cairan dari mulutnya.  Cairan berwarna kemerahan.  Tubuhnya sebentar menegang sebentar menggigil.  Dyah Puspita yang kebingungan meraih sebuah buku kecil yang terjatuh ketika dia mencoba membuka baju anak itu yang basah kuyup oleh keringat.  Ajian Geni Sewindu-Warisan Arya Prabu untuk Arya Dahana. Begitu judul yang tertera di buku kecil itu.  Jadi nama anak ini Arya Dahana, pikir Dyah Puspita singkat.  

Dilhatnya sekarang Arya Dahana  bangkit dan duduk bersila.  Wajahnya yang tadi pucat perlahan lahan memerah.  Sungguh ajaib kekuasaan Sanghyang Widhi.  Racun dari senjata rahasia Madaharsa adalah racun mematikan yang bersifat dingin.  Sedangkan pukulan wedhus gembel Aswangga  adalah pukulan sakti yang bersifat panas.  Dua hawa itu berputaran di tubuh Arya Dahana. Saling bergelung membunuh. Tapi ternyata saling menetralkan dan menyembuhkan meski hanya sementara.  Bahkan membuka hawa murni di dalam tubuh Arya Dahana secara ajaib.   Itulah mengapa tadi Dyah Puspita tidak berhasil memasukkan tenaga ke dalam tubuh Arya Dahana.  Hawa murni yang luar biasa besar itu mempertahankan diri Arya Dahana dari gangguan luar.

Dyah Puspita tidak mau mengganggu Arya Dahana yang terlihat tenang sekarang.  Diperhatikannya anak kecil yang masih berusia sekitar lima tahunan itu.  Kulit sawo matang dengan wajah yang menarik.  Tubuh kurus yang kelihatan berisi meski masih kecil.  Dia kemudian membuka buku kecil tadi.  Membuka lembaran-lembarannya dan menemukan bahwa itu adalah sebuah pelajaran ilmu kanuragan yang dahsyat.

Secarik kertas terjatuh ke tanah saat Dyah Puspita membuka lembar demi lembar buku itu.  Dipungutnya dan dibacanya dengan cepat.  Sebuah pesan yang sangat singkat;

"Dyah Puspita, aku titipkan anakku kepadamu.  Bawalah ke ayahmu.  Mohonkan agar bisa diterima sebagai muridnya.  Atau paling tidak kacungnya jika beliau tak mau menerima.  Jika tetap saja tidak diterima.  Angkatlah sebagai adikmu.  Rawatlah dia.  Sebagai gantinya, kau boleh mempelajari buku sakti ini bersama sama.  Lima belas tahun lagi, di puncak Merapi, naga api akan bangkit dari tidurnya.   Bawalah Arya kesana.  Rahasia mengambil mustika api di kepala naga itu adalah; tujuh belas langkah ke depan, delapan lompatan ke samping dan empat puluh lima kali jungkir balik bersamaan. Kau akan mengerti pada saatnya nanti.  Terimakasih. Aku mempercayaimu".

Dyah Puspita merenungkan kata kunci yang aneh itu sejenak.  Menggeleng gelengkan kepala.  Kemudian menghela nafas panjang.  Dia tahu bahwa setiap 200 tahun Naga Puncak Merapi selalu menampakkan diri.  Membawa keajaiban unsur alam yang berganti ganti setiap periodenya melalui mustika aneh yang ada di kepalanya.  Tapi sama sekali tak menduga bahwa dia akan mendapatkan amanat yang luar biasa berat.  Arya Dahana adalah putra dari Arya Prabu, buronan kerajaan yang paling dicari.  Kerabat dari Raja Blambangan yang dianggap sebagai ancaman terbesar Kerajaan Majapahit dari timur.  Bahkan sekarang ada pula di tangan mereka salah satu kitab sakti yang paling dicari di dunia persilatan.  Lima belas tahun lagi, harus bersitegang pula dengan hampir seluruh tokoh sakti tanah jawa. 

Diperhatikannya titipan amanat itu.  Kembali menghela nafas panjang.  Dia tidak yakin ayahnya akan menerima bocah ini sebagai murid.  Ayahnya adalah tokoh hebat aliran putih.  Kepala Sayap Sima yang terkenal.  Tapi dia juga tahu bahwa ayahnya adalah seorang yang tinggi hati dan keras kepala.  Sangat kecil kemungkinan Arya Dahana diterima sebagai muridnya.  Mengingat perseteruan lamanya dengan Arya Prabu dahulu. 

Lamunan Dyah Puspita terputus ketika dilihatnya Arya Dahana menggerakkan bola matanya tersadar.  Diraihnya tangan anak itu," Arya Dahana, bersumpahlah mulai hari ini kau adalah adikku. Akan menuruti semua perkataanku. Dan tidak boleh terpisah dariku."

Arya Dahana mengangkat wajahnya.  Memandang wajah Dyah Puspita yang cantik, dan tersenyum ramah," Baik kakak yang cantik.  Tapi aku harus memanggilmu apa?"

"Panggil aku kakak Puspa, adik yang baik...kamu lapar?"

"Iya kak Puspa, aku lapar sekali..perutku berkokok terus dari tadi.."

"Hi hi hi...baiklah Arya.  Aku akan mencarikanmu makanan.  Tunggulah di sini.  Ingat! Tidak boleh kemana mana..."  Dyah Puspita mengayunkan langkahnya memasuki kelebatan hutan Garahan.  Pastilah banyak bintang buruan di sana pikirnya.  Dia tidak menyadari bahwa sedari tadi, beberapa pasang mata sedang memperhatikan mereka dari balik rimbun semak semak.  Beberapa pasang mata merah yang terlihat bernafsu memandang dirinya dan juga buku kecil yang kini tergeletak di samping Arya Dahana.  Begitu Dyah Puspita masuk ke dalam hutan, tiga orang di antara mereka mengikutinya dengan sembunyi sembunyi.  Sementara 2 orang lainnya keluar dari persembunyian dan menghampiri Arya Dahana. 

"Nahh bocah, duduk sajalah tenang di situ.  Kami mendapatkan tugas dari kakak cantikmu untuk mengambil buku itu." Salah seorang berbicara, orang yang pendek kekar dengan codet di separuh wajahnya.  Arya Dahana memandangi kedua orang itu bergantian.  Tidak terlihat ketakutan di wajahnya.  Tersenyum mengejek dan berkata," Aku tidak mengenal paman berdua, dan aku yakin kakak Puspa juga pasti tidak mungkin mengenal kalian berdua...pergilah paman.  Sebelum kakak Puspa datang dan menghajar bokong kalian."

Dua orang anggota dari Lima Begal Garahan itu terperanjat bukan main.  Anak sekecil ini punya nyali sebesar itu.  Tak sabar, si pendek maju ke depan. Berniat mencengkeram lengan Arya Dahana dan melemparkannya ke jurang.  Alangkah kagetnya dia ketika belum juga tangannya menyentuh, sebuah kekuatan yang tak kasat mata menolak tubuhnya dengan hebat.  Belum juga hilang kagetnya, bocah lelaki itu mendorongkan kedua tangannya ke arah temannya yang sedang maju untuk memberikan pukulan kepada bocah itu.  

Temannya yang kurus tinggi itu terpelanting ke belakang.  Kepalanya yang botak membentur batu yang banyak berserakan di situ.  Meskipun tenaga Arya Dahana sangatlah besar dan ajaib, namun karena belum terlatih maka akibatnya tidaklah fatal.  Si tinggi kurus bangkit dan menyumpah nyumpah sambil menggosok gosok kepalanya yang benjol sebesar telor itik.  Diraihnya pedang panjang dari punggungnya dan dengan pandang mata mengancam bergerak hati hati ke arah Arya Dahana.   Sementara si pendek juga tidak mau kalah.  Di tangannya telah tergenggam sebatang tongkat dari besi baja. 

Arya Dahana tahu bahwa nyawanya kini terancam bahaya.  Dia sadar mereka benar benar berniat membunuhnya.  Diingat-ingatnya pelajaran yang selama ini diterima dari ayahnya.  Ditekuknya kedua kakinya sejajar dengan tanah. Dikerahkannya semua pusat perhatian ke ulu hatinya.  Hawa murni selalu berkumpul dan berputar di ulu hati, demikian ujar ayahnya.  Kendalikan putarannya, salurkan ke arah manapun yang kamu mau.  Sambil terus memusatkan perhatian dengan cara memejamkan mata, Arya Dahana merasa hawa panas dan dingin bergantian menyergap ulu hatinya.  Pusarannya makin lama makin cepat.  Makin cepat.  Luar biasa cepat.  Pandangan matanya berkunang kunang.  Dia sama sekali tidak sadar bahwa serangan senjata kedua orang jahat itu telah dilepaskan.

"Traaang!...Duuukkk!....Desssss.....Buuuukkk.......uuugggghh.....ahhhhhh"

Sebelum senjata itu mengenai tubuh Arya Dahana, berkelebat sebuah bayangan hitam.  Menangkis tongkat dengan sebatang kayu dan menangkis serangan pedang dengan sebilah pedang pendek.  Tongkat si pendek terpental jatuh dan pedang si kurus tinggi patah menjadi dua.  Sedangkan dua orang jahat itu terpelanting babak belur akibat pukulan yang dilayangkan oleh bayangan hitam itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2