Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Karyawan Swasta

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Bunga Sunyi Tumbuh di Pipi

12 Juni 2018   22:55 Diperbarui: 12 Juni 2018   22:56 209 6 1

Perempuan tua itu menyeka airmata yang menyemak di pipinya.  Tahun demi tahun berlaluan.  Selalu menjinjing kesunyian.  Anak-anaknya enggan pulang.  Rumah bagi mereka adalah rumpun ilalang.  Bukan persinggahan atau pelabuhan.

Mereka tidak lupa kepada ibunya.  Tapi mereka tak ingat bahwa ibunya merindukan mereka.  Mereka mengirimkan suara.  Suka ria dan berjenaka.  Sebagai ganti cium tangan dan binar mata.

Perempuan tua itu membetulkan letak hatinya yang mulai berjatuhan.  Berserakan di halaman.  Menyatu bersama daun-daun kering.  Menunggu kedatangan angin. Menyapunya ke segala arah.  Mirip dengan airmata yang tertumpah.

Bunga sunyi tumbuh di pipi.  Dari seorang perempuan tua yang kehilangan warna pelangi.  Tersisa hitam.  Seperti hari-harinya yang ditulis pada kertas buram.  Menunggu anak-anaknya pulang dan bersalam.

Ibu, kami ada di pintu depan....


Jakarta, 12 Juni 2018