Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Karyawan Swasta

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Begini Caraku Menjumpai Pagi

14 Februari 2018   06:27 Diperbarui: 14 Februari 2018   07:02 190 1 0

Sederhana saja.  Aku buka jendela setengahnya saja.  Aku biarkan angin masuk meraba dinding kamar dan lemari.  Memberi sentuhan pada dinding yang terkelupas dikuliti masa lalu.   Sekaligus mendinginkan lemari yang terberati beban sebab harus bisa membahagiakan aku.  Di dalamnya banyak buku.  Tentang kisah, dongeng dan cara menipu waktu. 

Menjumpai pagi di saat keinginan sedang lintang pukang.  Mengingatkan bahwa harapan adalah senapan yang dikokang.  Membidik selusin janji kepada masa depan.  Sebagiannya kepada sebuah danau yang dijadikan roh cerita.  Lalu Roma yang ditulis sebagai tempat berikrar kata.

Di pagi jugalah aku selalu berhasil menyesap cahaya.  Gelap di sudut hati harus diterangi.  Jangan sampai terjengkang karena tersandung sudut pandang orang.  Kataku adalah lidahku.  Bukan cipratan ludah orang yang coba membujuk arah jalanku.

Sebagai balas budi pada pagi.  Aku tahu apa yang harus aku lakukan.  Setiap menjumpainya.  Aku katakan bahwa dia selalu menjadi titik awal dari bahagia.  Tak kurang tak lebih.  Seperti kopi yang selalu menunggu air mendidih.

Jakarta, 14 Februari 2018