Michael Sendow
Michael Sendow wiraswasta

Writer &Trainer. Motto: As long as you are still alive, you are capable of changing and growing. You can do anything you want to do, be anything you want to be. Cheers... http://tulisanmich.blogspot.com/ *** http://bahasainggrisunik.blogspot.co.id/ *) Menyukai permainan catur dan gaple. Menulis adalah 'nafas' seorang penulis sejati. I can breath because I always write something...

Selanjutnya

Tutup

Humaniora featured

Hawking, Benarkah Alam Semesta Tidak Diciptakan Siapapun?

29 Juli 2012   08:09 Diperbarui: 14 Maret 2018   11:31 5066 15 25
Hawking, Benarkah Alam Semesta Tidak Diciptakan Siapapun?
Ilustrasi (independent.co.uk)

Stephen Hawking: Tidak Ada yang Menciptakan Alam Semesta

Stephen William Hawking, CH, CBE, FRS, FRSA, adalah seorang mahafisikawan berkebangsaan Inggris. Ia adalah seorang pakar fisika. Ia mempelajari dan membuat beberapa penemuan luarbiasa dalam dunia fisika termasuk tentang teori kuantum dan tentang gravity. Ia bahkan menelurkan apa yang dikenal sebagai Hawking Radiation, yaitu sebuah prediksi teoritis yang menyatakan bahwa lubang hitam (black holes) harusnya melepaskan atau memancarkan radiasi. Padahal secara umum kita tahu bahwa tidak ada satupun yang dapat lepas dari hisapan lubang hitam, bahkan cahaya sekalipun tidak akan sanggup lepas dari kekuatan tarikan yang luar biasa dari lubang hitam. Ia membuat banyak terobosan yang tidak dilihat sepenuhnya oleh para ilmuwan lainnya.

Nah, sebagai penggemar kosmologi, astronomi, dan karena sempat mengambil jurusan Fisika sewaktu masih di sekolah menengah, maka Hawking adalah ilmuwan favorit saya sepanjang masa setelah Albert Einstein tentunya. Hawking oleh sekumpulan pakar fisika dikenal dan disematkan julukan sebagai juru bicara alam semesta. Ia tak dipungkiri adalah fisikawan paling popular dan terkenal saat ini, dan orangnya masih hidup dan terus berkarya saat ini. Cacat secara fisik tidak berarti apa-apa bagi otaknya yang luar biasa cerdas itu.

Hawking telah mendapatkan begitu banyak penghargaan dari berbagai perkumpulan yang tersebar di berbagai Negara. Bahkan penghargaan tertinggi untuk warga sipil dari Amerika Serikat pun telah disematkan buat Hawking, Presidential Medal of Freedom. Sempat masuk dalam Lucasian Professor of Mathematics di Cambridge University, Inggris pada tahun 1979-2009 dan kemudian menjadi direktur penelitian di departemen theoretical cosmology.

Siapa yang Menciptakan Alam Semesta?

Sebagai orang yang beragama saya tidak dengan serta merta menisbikan ilmu pengetahuan. Begitu juga sebaliknya, sebagai penyuka sciencebukan berarti saya serempak akan meniadakan agama. Bagi saya pribadi, agama dan ilmu pengetahuan adalah dua kesatuan yang berbeda namun tiada terpisahkan. Selayaknya sebuah coin, ia memiliki dua sisi yang bertolak belakang tapi Anda tak bisa memisahkannya. Dua kesatuan yang bertolakbelakang itu akan tetap menyatu dan saling membutuhkan, seberapa besarpun daya tolak di antara keduanya. Dan saya mencintai serta mengamini kedua-duanya pada tataran yang berbeda.

Dua tahun lalu Hawking dan Leonard Mlodinow menuliskan buku yang menggemparkan banyak orang. Membolak-balikkan kepercayaan banyak orang. Dan menusuk sanubari orang-orang yang menganut agama apa saja, serta mereka yang percaya keberadaan TUHAN. Buku yang mereka tulis berjudul The Grand Design, sebuah paradigma modern yang menyatakan dan ‘membuktikan’ bahwa alam semesta ternyata tercipta dengan sendirinya (came out of nothing). Dan para ilmuwan sanggup membuktikannya. Buku yang mereka tulis bukan sebuah karya science fictionsemata, tapi sebuah tulisan yang memakai hukum-hukum fisika dan hukum-hukum alam dalam menyatakan kebenaraannya. 

Merupakan tulisan yang mendekati sempurna secara ilmu pengetahuan. Itu terlihat dari banyaknya dukungan para scientist lain. Sehingga di ujung kesimpulan dari buku tersebut mempertanyakan ini: Jika ternyata alam semesta tercipta out of nothing, di mana peran Sang Creator? Alam semesta tidak membutuhkan sesuatu atau seseorang untuk menciptakannya.Hawking mengatakan "One can't prove that God doesn't exist, but science makes God unnecessary."Ketika dalam sebuah wawancara TV ia ditanyai Larry King apakah ia percaya adanya Tuhan, ia menjawab secara diplomatis bahwa GOD mungkin/ boleh saja ada, tapi ketika sciencedapat memberikan jawaban atas segalanya, maka GOD menjadi tidak dibutuhkan lagi.

Universe: (Sumber gambar Devianart.com)
Universe: (Sumber gambar Devianart.com)

Buku The Grand Design ketika pertama kali diterbitkan di Amerika langsung menjadi best seller, dua hari kemudian buku itu diterbitkan di Inggris dan menjadi second best seller di sana. Saya tidak mungkin menuliskan di sini secara teoritis hasil penelitian yang ditulis oleh Hawking dan ia tuangkan dalam buku itu. Tapi secara gamblang Hawking ingin menegaskan beberapa hal utama melalui bukunya itu. 

Pertama, alam semesta bekerja melalui hukum-hukum alam yang pasti, dan bukan karena kehendak TUHAN. Ia juga mengondisikannya melalui teori kuantum , teori relativitas dan grativitas secara gamblang. Jadi intinya, teori quantum mechanics dan teori relativitas meniadakan keberadaan Sang Pencipta. Kedua, katanya kita sebenarnya bisa mendapatkan penjelasan secara runut apa itu alam semesta, bagaimana ia bermula, dan apa yang menyebabkan ia bisa tercipta dari sesuatu yang sama sekali tidak ada menjadi ada, secara spontan. Tanpa bantuan siapapun dan oleh apapun.

Hawking menulis: Because there is a law such as gravity, the universe can and will create itself from nothing. Spontaneous creation is the reason there is something rather than nothing, why the universe exists, why we exist. It is not necessary to invoke God to light the blue touch paper and set the universe going.

The Grand Designsecara lugas dan tegas menjelaskan tentang bagaimana alam semesta tercipta tanpa campur tangan TUHAN. Sangat masuk akal. Dan penjelasan secara sciencesepertinya tak terbantahkan. Sekali lagi, sepertinya. Tapi bukan berarti tidak dapat dibantah sama sekali! Ilmu teologi dan religiositas mengcounter balik setiap pernyataan dalam buku itu dengan tak kalah kerasnya. Para teolog, agamawan pun tak mau tinggal diam. Tapi apa mau dikata, bagaimanapun kita tidak bisa menyalahkan begitu saja para ilmuwan, sebab mereka bisa menjelaskan dan memberi bukti apa yang mereka sampaikan. Secara ilmiah tentunya.

Dua Sisi Mata Uang

Tanpa mengurangi respek dan kekaguman saya terhadap idola saya, Stephen Hawking, tapi saya memang mesti angkat topi serempak menurunkan jempol saya untuk beberapa pernyataan beliau. Ketika ia mengatakan bahwa terciptanya alam semesta ini bisa kita runut keberadaannya. Alam semesta katanya pernah berada pada satu titik di dalam sebuah black hole yang semuanya statis (baca: tiada). 

Sebelum benar-benar terlahir karena dipicu ledakan besar (big bang). Lantas ia mengatakan bahwa untuk menciptakan sebuah alam semesta kita hanya butuh tiga campuran atau bahan baku (ingredient). Apa itu? Energy, Matter, dan Space. Lalu karena Energy dan Matter ternyata adalah satu kesatuan yang saling terkait (E=MC2), dengan sendirinya kita butuh dua saja yaitu Energy/Matter dan Space. Maka jadilah alam semesta itu. Pertanyaan saya,  lantas dari manakah gerangan dua ingridientsitu diperoleh?

Hawking pun bersabda melalui bukunya bahwa sebelum alam semesta terbentuk karena ledakan besar (big bang) maka semuanya adalah nothing.Jadi pada dasarnya dua ingridientstersebut masih ada dalam sebuah ruang ketiadaan yang dinamai black holes, ‘beku’ di sana (dalam ketiadaan) sampai ledakan spontanitas itu terjadi. Bahkan sebelum big bang maka time (waktu) pun belum ada. Jadi “Waktu” nanti kemudian muncul bersamaan dengan spontaneous big bang. Nah, menurutnya karena waktu belum eksis sebelum big bang, dengan sendirinya menutup kemungkinan keberadaan GOD untuk memulai penciptaan. GOD will not exist without the existences of time. Karena waktu belum ada sebelum big bang, maka GOD tidak ada sebelum itu dan tidak punya andil apa-apa dalam menciptakan alam semesta.

Pertanyaan mendasar yang mestinya para ilmuwan jawab, termasuk oleh Hawking adalah ini: Kalau memang alam semesta memang tercipta dari ketiadaan (out of nothing at all) mungkin saja masih make sense bagi saya. Tapi menghubungkan bahwa karena waktu (time) belum eksis sebelum big bang, lantas menjustifie bahwa dengan sendirinya TUHAN juga tidak eksis saat itu adalah sesuatu yang kontradiksi. Bukankah ilmuwan mengakui bahwa laws of nature itu sudah ada prior to time?

Jadi kalau laws of nature (hukum-hukum alam) sudah ada bahkan sebelum big bang, kenapa TUHAN tidak bisa ada saat itu? Konsep religius tentang TUHAN adalah bahwa IA tidak bisa dinilai secara fisik, ia itu transcendentaldan supernatural. Ia melampaui segala akal. Ia berada di luar waktu. Dengan sendirinya Ia dapat menciptakan sesuatu dari ketiadaan, bahkan Ia sanggup menciptakan dan memberhentikan waktu. He is creator of all. He created something out of nothing. 

Tidak terbantahkan. Sebab kalau para ilmuawan menisbikan keberadaan GOD sebelum big bang karena pada saat itu waktu belumlah eksis, maka mereka harus juga menerapkan yang sama terhadap konsep laws of nature.Dan kalau mereka menerapkan yang sama terhadap konsep laws of nature bahwa hukum-hukum alam itu pun belum eksis sebelum big bang, maka sudah pasti alam semestapun tidak akan pernah tercipta.  Lalu kenapa kita bisa ada saat ini?

Ketika ilmu pengetahuan memasang sebuah ‘frame’ dan apapun yang bisa di jelaskan dalam frame ilmu pengetahuan kemudian dianggap sesuatu yang valid. Tapi pada sisi lain ketika sesuatu yang tak tidak masuk akal secara ilmu pengetahuan, atau di luar frame ilmu pengetahuan kemudian dianggap tidak valid, tidak reliabledan tidak logis maka di sanalah kepicikan dan kearoganan science mulai menampak. 

Atas dasar apa frame logis, scientifically proven, mau dipakai sebagai satu-satunya alat uji kesahihan dan kevalidan sesuatu? Bagaimana mereka menjelaskan sesuatu yang supernatural. Apa penjelasan ilmu pengetahuan terhadap kehebatan komposisi letak-letak bintang, alur putaran planet-planet, dan semuanya yang luarbiasa rapi dan tertata sempurna sehingga bumi tidak hancur tertabrak atau bersinggungan dengan planet lain? Jawaban mereka itu semua karena pure chance. Kebetulan? Jawaban yang mengagumkan sekaligus menggelikan. 

Terus apa jawaban para scientist yang menolak GOD terhadap pertanyaan siapa yang mengatur alam semesta ini sehingga begitu sempurna baik secara matematis maupun astronomis? Tidak ada jawaban yang konsisten. Menandakan betapa kerdilnya kita untuk mengakui adanya sosok supreme omnipotentyang melampaui akal dan waktu. Sosok yang mengatur segalanya.

Seperti dua sisi mata uang, sciencedan religion akan tetap saling membutuhkan. Walaupun mereka bertolak belakang secara ide dan prinsip, serta konsep, tapi mestinya tujuan mereka harus tetap sama: Menyejahterakan manusia. Tidak perluscience menolak secara absolut keberadaan GOD. Sebab ada hal-hal yang diakui secara ilmu pengetahuan dibuktikan juga oleh agama. Berlaku sebaliknya ada hal-hal tertentu di bidang keagamaan dipastikan secara sahih oleh ilmu pengetahuan. Kita memang harus jujur ada gapdi antara keduanya. Tapi kita butuh dua-duanya.

Mengutip apa yang Hawking sendiri pernah katakan, “Intelligence is the ability to adapt to change.”Tentu saja ia, dan kita juga,  mesti mau untuk tidak selalu menutup sebelah mata tentang kemungkinan keberadaan TUHAN bahkan sebelum segala sesuatu itu ada. Sebelum segala sesuatu itu tercipta. Sebelum big bang itu melahirkan alam semesta. Karena apa? Karena GOD is certainly outside our concept of science and way of thinking.Jauh melampaui yang dapat kita cerna, kaji, dan telaah secara ilmu pengetahuan. Kalau IA bisa dibatasi dan terbatasi, apa bedanya IA dengan kita sebagai pencipta dan ciptaan?