Mohon tunggu...
Michael D. Kabatana
Michael D. Kabatana Mohon Tunggu... Peduli kepada budaya Sumba dan Kepercayaan Marapu.

Membacalah seperti kupu-kupu, menulislah seperti lebah. (Sumba Barat Daya).

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Pendayagunaan Akal Budi Solusi Melawan Fatalisme Akibat Bencana Alam Bertubi-tubi

29 Mei 2019   20:50 Diperbarui: 29 Mei 2019   21:12 0 1 0 Mohon Tunggu...
Pendayagunaan Akal Budi Solusi Melawan Fatalisme Akibat Bencana Alam Bertubi-tubi
Dokumentasi pribadi

Dalam beberapa tahun terakhir ini bencana alam seperti tidak lelah berkunjung di bumi Indonesia. Banyak daerah di Indonesia mengalami bencana alam baik dalam skala yang besar maupun kecil.

Bencana alam oleh filsuf abad pertengahan sekaligus sebagai seorang teolog, St. Agutinus, digolongkan dalam salah satu dari tiga keburukan atau malum yaitu malum physicum (keburukan yang datang dari alam) dan dua lainnya malum morale (keburukan moral) dan malum metaphysicum (keburukan yang diakibatkan oleh kekurangan metafisis).

Menurut St. Agutinus malum physicum adalah keburukan yang disebabkan oleh alam dengan penekanan pada akibat tindakan manusia merusak alam. Bagi St. Agutinus, keburukan ini walau sangat sukar dapat dipulangkan kepada dosa manusia, merupakan akibat dari pelanggaran yang dilakukan oleh manusia.

Jika dikritisi, pengklasifikasian bencana alam oleh St. Agutinus dalam malum physicum cukup terbatas atau sempit. Keterbatasan ini nampak dalam bencana alam yang hanya terjadi karena ulah manusia. St. Agutinus memandang bencana alam adalah akibat dari kesalahan dan pelanggaran manusia merusakkan keseluruhan tatanan alam, sehingga alam yang diciptakan secara amat baik demi kebahagiaan manusia menjadi sumber penderitaan dan kemalangannya. Misalnya, penebangan hutan secara liar yang dapat menyebabkan banjir dan erosi.

Pertanyaan untuk St. Agutinus, bagaimana dengan erupsi gunung merapi atau patahan dalam bumi yang terjadi yang tidak disebabkan oleh ulah manusia? Apakah bencana seperti ini dapat digolongkan dalam malum physicum?

Namun, pandangan St. Agutinus seperti yang telah dipaparkan sebenarnya dapat ditolerir, karena dalam proses pengklasifikasiannya,  ia memasukkan unsur teologis sesuai jaman saat ia hidup yang filsafatnya bercirikan teosentrisme (berpusat pada Tuhan). St. Agutinus berbicara tentang hal ini terbatas pada pandangannya tentang dosa asal : peccatum originale.

Sehubungan dengan hal ini benar apa yang yang telah dilontarkan seorang filsuf saman romantik, Hegel, bahwa tiap filsafat adalah produk samannya. Oleh karena itu, jika ajaran St. Agutinus dikaitkan dengan bencana alam  yang  terjadi saat ini di Indonesia, maka ajarannya tentu tidak akan menjawabi semua masalah yang terjadi saat ini. Segi positif dari  ajarannya adalah adanya proses penyadaran di dalamnya, yang mana manusia akan berusaha memperbaiki kesalahannya.

Ada masyarakat Indonesia yang kini mulai melihat bencana alam yang datang bertubi-tubi ini sebagai kutukan. Mereka menerima bencana-bencana itu sebagai suatu suratan nasib. Sehingga proses penyadaran untuk memperbaiki kesalahan tidak ada dan membiarkan bencana itu terus berlanjut. Karena itu, bencana alam yang terjadi di Indonesia saat ini mulai menjerumuskan perlahan-lahan masyarakat Indonesia pada sikap hidup yang pesimis dan skeptis dan yang lebih parah lagi menjerumuskan masyarakat pada sikap fatalistis.

Lahirnya Fatalisme dalam Masyarakat

Suatu hari ketika saya berkunjung ke rumah tanta saya, saya didekati oleh seorang Paman, tetangga dari tanta saya. Ia bertanya kepadaku "Adik, bagaimana adik melihat semua bencana yang akhir-akhir ini terjadi, bayangkan banyak bencana terjadi bertepatan pada tanggal 26". Ia lalu menunjukkan sebuah sms dari HP-nya yang tertulis begini, "tanggal 26-12-2004 tsunami di Aceh. 26-05-2006 gempa di Djogja. 26-09-2009 gempa di Padang. 26-06-2010 gempa di Tasik. 26-10-2010 tsunami di Mentawai. 26-10-2010 merapi meletus. Kok semuanya tanggal 26 ya?? Sebarkan ke orang yang kamu kenal". Lalu orang itu berkata  padaku "mungkin ini suatu kutukan dari Tuhan". Kemudian saya hanya menjawab singkat sekenanya saja tanpa mengecek ketepatan tanggal-tanggal tersebut, "mengenai tanggal itu mungkin hanya kebetulan belaka".

Dari pengalaman singkat di atas kita dapat melihat bahwa telah banyak orang perlahan-lahan mulai terperosok dalam jurang fatalisme. Dapat kita bayangkan jika setiap orang yang mendapat satu SMS itu lalu menyebarkan juga kepada dua, tiga atau sepuluh teman lainnya. Memang tak dapat dipungkiri juga bahwa sms seperti itu dapat menyadarkan orang pada Kemahakuasaan Tuhan. Tetapi bagaimana jika hal semacam itu justru memojokkan orang pada sikap fatalistis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3