Mohon tunggu...
Meti Irmayanti
Meti Irmayanti Mohon Tunggu... Lainnya - senang membaca, baru belajar menulis

Dari kota kecil nan jauh di Sulawesi Tenggara, mencoba membuka wawasan dengan menulis dan membaca

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mosehe Wonua Tradisi Sakral Ritual Tolak Bala Suku Tolaki

27 November 2021   00:12 Diperbarui: 27 November 2021   00:15 226 38 7
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Foto: Siswanto Azis/Telisik

Keberagaman budaya Nusantara merupakan suatu anugerah dari Tuhan yang patut kita syukuri. Masyarakat Indonesia memiliki keberagaman suku, bangsa, dan budaya. Kebudayaan nusantara yang  beragam, adiluhung, dan sangat kaya kearifan lokal ini menjadi kepribadian bangsa dan modal untuk meraih kemajuan. Karenanya semua elemen masyarakat dan pemerintah harus bersama-sama mengenal, menjaga, memajukan dan melestarikan nilai-nilai budaya yang dimiliki.

Keberagaman budaya yang ada di Nusantara, masing-masing mempunyai kekhasan tersendiri, mengandung nilai-nilai yang luhur, yang secara turun temurun telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, jika mampu diselaraskan dengan tuntutan jaman milenial tentu ini menjadi suatu kekayaan budaya yang tak ternilai harganya.

Demikian pula kami masyarakat suku Tolaki di Sulawesi Tenggara, memiliki ritual yang secara turun-temurun tetap terjaga dan terpelihara hingga kini. Salah satu ritual yang dianggap sakral oleh masyarakat suku Tolaki adalah Moshe Wonua.
Mosehe Wonua adalah sebuah ritual tolak bala. Memohon kepada Dewata atau yang diyakini sebagai penguasa alam raya, agar menjauhkan segala bencana baik itu bencana alam, wabah penyakit, perang maha dahsyat, kebakaran besar dan segala sesuatu yang meresahkan kehidupan masyarakat. Dan sebaliknya memohon agar diberkahi dengan kehidupan yang aman, damai dan sejahtera.

Sejalan dengan perkembangan jaman, masuknya agama Islam yang mayoritas dianut oleh masyarakat suku Tolaki, membawa perubahan pada inti dari ritual Mosehe Wonua yang tergerus secara evolusioner. Awalnya terjadi sinkritisme ritual. Yang pada akhirnya menyesuaikan dengan kepercayaan dan ajaran agama Islam, persembahan dalam ritual tidak lagi diyakini dan bukan lagi kepada dewa-dewa, tapi persembahan itu kepada masyarakat, dan niatnya bermohon hanya kepada Allah SWT semata, tidak lagi kepada Dewa-dewa.

Di dalamnya telah ada do'a-do'a dan permohonan kepada Yang Maha Kuasa agar segala dosa dan kesalahan seluruh anak negeri mendapatkan pengampunan dariNya, memohon kepada Yang Maha Kuasa dalam bentuk menolak bala, mensucikan diri dari dosa, memanifestasikan rasa syukur, demi terciptanya kedamaian dan ketentraman pada negeri, semua hal tersebut adalah entitas sakral yang menjadi inti dalam upacara ritual mosehe wonua.

Dulu masyarakat suku Tolaki menganut ancient believe, yaitu percaya kepada Dewa yang menguasai kehidupan di alam raya, yakni Dewa Agung atau Sangia Mbu atau Ombu Sangia (Deawa Langit) yang berkedudukan di langit, Sangia I Puri Wuta ( Dewa Daratan ) dan Sangia I Puri Tahi (Dewa lautan), yang menguasai 4 element alam semesta dalam lingkup alogaritma alam yang bersifat supra natural, yaitu Tanah, Air, Api dan Angin.

Itulah sebabnya dalam setiap "mantra" pada ritual-ritual adat atau budaya masyarakat Tolaki awal mantranya selalu menyebut Ombu Sangia dan selalu diikuti dengan hitungan o'aso (satu), o'ruo (dua), o'tolu (tiga) dan o'omba (4) yang merupakan elemen alam semesta tanah, air api dan angin.. Kemudian juga secara simbolik pula "empat" itu bermakna Konawe (Nama negeri/kerajaan suku Tolaki) sebagai pusat kerajaan, dikelilingi oleh 4 gerbang yang terletak pada 4 penjuru mata angin, (Siwole Mbatohu).

Secara etimologis mosehe adalah penggalan morfem "mo" dan "sehe." Dalam bahasa Tolaki "Mo" berarti melakukan sesuatu dan "Sehe" berarti suci. Jadi mosehe wonua (negeri) adalah penyucian negeri atau diri.

Upacara mosehe wonua diadakan untuk berbagai keadaan yang meresahkan negeri, dalam hubungannya dengan bencana alam atau wabah penyakit mematikan secara massal upacara mosehe wonua ini dilaksanakan bermakna untuk penyucian seluruh wilayah negeri, menolak bala dan murka alam dari ulah dan dosa manusia itu sendiri. Dalam hal ini, disini ada semacam penyesalan, permohonan ampun dan pembersihan dosa agar bencana dapat segera pergi dan berlalu.

Di jaman dahulu mosehe wonuapun dilaksanakan sehubungan dengan adanya perselisihan atau perang. Mosehe wonua di Mekongga (nama negeri/kerajaan suku Tolaki) sebagai upacara ritual yang telah berlangsung sejak abad XIII pada zaman pemerintahan raja Larumbalangi. Pada akhir abad ke XVII pada saat pemerintahan Raja Mekongga Rumbalasa, pernah terjadi bentrok dengan Kerajaan Konawe. Setelah kedua kerajaan yang berperang ini melakukan perdamaian, Mosehe bersamapun diselenggarakan oleh kedua kerajaan, sebagai wujud rasa bersyukur atas perdamaian itu, kedua rajapun sepakat menikahkan anak mereka Sangia Lombo-Lombo putra raja Rumbalasa dan Wungabee putri dari Buburanda Sabandara I Wawolatoma raja Konawe.

Ritual mosehe juga dilaksanakan sehubungan dengan niat atau nazar. Pada awal abad XVII Sangia Nilulo (Teporambe) ayahanda dari Sangia Nibandera mengadakan upacara ritual mosehe wonua, setelah beliau sembuh dari sakit yang berkepanjangan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan