Mohon tunggu...
melisa emeraldina
melisa emeraldina Mohon Tunggu... Lainnya - Menulis untuk Berbagi Pengalaman

"Butuh sebuah keberanian untuk memulai sesuatu, dan butuh jiwa yang kuat untuk menyelesaikannya." - Jessica N.S. Yourko

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Dia Pulang Berbekal "Kunci Surga" di Tangannya

2 Agustus 2021   20:38 Diperbarui: 2 Agustus 2021   22:28 1800
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Om Bangted (depan) dimakamkan di atas makam Ayahnya (belakang) (dokpri kelg)

Hidup yang Mempermudah Orang Lain

Baik, kembali ke cerita tentang pemakaman Om Bangted. Prosesnya sangat mudah sekali. Om Roy, yang membantu mengurus supaya bisa dimakamkan di TPU Tanah Kusir (yang mana biasanya meninggal karena covid dimakamkan di Rorotan) mengaku hanya butuh 15 menit mengurusnya. Dia pun cukup takjub karena biasanya prosedur semacam ini terkadang lama dan berbelit.

Kata Mama mertuaku, orang kalau hidupnya memudahkan orang lain, meninggalnya pun dipermudah Allah, dan tidak akan merepotkan orang lain. Ini benar saja. Om ku ini tidak pernah mau menyusahkan orang lain, suka membantu dan banyak beramal. 

Anaknya pun mengungkapkan bahwa semasa hidup, kalau mau pergi tidak mau diantar dia pilih naik taksi supaya tidak merepotkan anaknya. Hal ini juga dibenarkan oleh teman-temannya.

Banyak Menyambung Silaturahmi

Ada yang membuatku kagum pada Om ku satu ini. Dia rajin sekali menyambung silaturahmi. Sering sekali dia mengajak keluarga besar yang jumlahnya tentu puluhan orang untuk makan bersama di Mall, nonton bareng, liburan bareng. Dia senang mempertemukan orang dan bersilaturahmi. Dia pun aktif dalam ikatan alumni dan juga berbagai organisasi. 

Sifatnya yang lucu, ramah dan murah hati membuatnya disayang banyak orang.

Pemakaman karena covid biasanya sepi. Hanya petugas dan keluarga terdekat. Berbeda dengan pemakaman Om ku ini. Untuk kategori pemakaman karena covid, banyak temannya yang datang. Tentunya kami memperhatikan protokol kesehatan. Kami menjaga jarak dan saling menyebar. Beberapa dari mereka melakukan streaming zoom dengan grup masing-masing. 

Aku mendengar banyak tangisan dari handphone.
Anaknya sendiri juga membuka streaming zoom. Untuk kapasitas 100 orang, dan penuh, hingga beberapa orang tidak dapat masuk lagi.

Aku sendiri berinisiatif membuat dokumentasi dalam bentuk foto maupun video. Untuk bisa disebarkan kepada keluarga yang tidak dapat hadir.

Orang yang banyak menyambung silaturahmi, kepergiannya akan dirindukan banyak orang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun