Mohon tunggu...
Melathi Putri Cantika
Melathi Putri Cantika Mohon Tunggu... keterangan profil

College Studentin

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Sarjana Teknik Pengepelan

8 April 2021   20:50 Diperbarui: 8 April 2021   21:02 44 3 0 Mohon Tunggu...

Rasa-rasanya perut saya jadi sembelit tiap kali melihat orang-orang yang jurus pamungkas pembelaannya adalah menyuruh pemberi kritik untuk membuat karya yang lebih bagus terlebih dahulu sebelum mengkritik. Serius?

Hari ini saya menonton video berisi kritikan terhadap rancangan gedung pemerintah di ibukota baru (itupun bila benar pindah ibukota). Saya yang sebenarnya tidak punya dasar apapun tentang rancang merancang bangunan cuma manggut-manggut saja ketika mendengar bahwa bentuk bangunan tidak fungsional, tidak ada sisi futuristik dan hal-hal lain yang saya baru ngeh ketika ada penjelasan tersebut.

Namun satu hal yang saya hafal di luar kepala adalah tanggapan orang-orang di kolom komentar. Suruhan untuk memberi solusi atas kekurangan rancangan atau semacam jangan mendengarkan anjing menggonggong. Seakan segala sesuatu yang sudah terancang di dunia ini adalah sebuah kesempurnaan paripurna. Atau mereka masih berpikir ini zaman orba yang kemungkinan ada kritik hanya berkisar antara nol hingga minus?

Pertama yang saya gemas ingin membicarakan adalah tuntutan memberikan solusi. Satu hal yang penting, solusi memang tidak harus diberikan oleh orang yang memiliki keahlian tertentu. Selama apa yang diungkapkan masuk akal dan punya dasar, saya rasa tidak ada yang salah dengan memberikan solusi meski kita tidak menyandang gelar apapun. Apakah saya yang bukan siapa-siapa ini harus menjadi Sarjana Teknik Pengepelan agar cukup kredibel untuk berkata, "Lantai ini terlalu licin dan sebaiknya segera dikeringkan"? Saya rasa kita cukup setuju dengan hal itu. Oleh karena itu pula, menyarankan untuk memberikan solusi pada setiap kritik sebenarnya bukan sesuatu yang mustahil.

Namun memberikan solusi di belakang setiap kritik tidak berarti adalah sebuah keharusan. Kritik dan saran (solusi) berdiri menjadi 2 kata yang berbeda untuk suatu alasan. Bahwa dua kata itu bisa difungsikan secara terpisah adalah salah satu di antaranya. Secara gamblangnya, kegiatan mengkritik adalah sebuah aktivitas untuk menunjukkan bagian mana dari suatu kain yang berlubang. Saya, anda, mereka hanya perlu menunjukkan secara faktual bahwa di sisi yang kita lihat terdapat lubang, tidak lebih. Jika anda berkenan, anda boleh membantu menambal bagian itu, tapi itu bukan bagian dari aktivitas kita untuk menunjukkan bagian mana yang berlubang. Bukankah seperti itu?

Sekarang, apabila kegiatan menunjukkan lubang itu diembel-embeli keharusan untuk ikut menambal lubang. Energi yang ada lebih terkuras dan orang bisa jadi akan berpikir dua kali untuk memberitahukan bagian mana yang berlubang karena mereka harus mengerjakan sesuatu yang sebenarnya tidak harus mereka lakukan. Mereka mungkin tidak punya cukup waktu dan jumlah lubang yang mereka laporkan menjadi tidak seobjektif jika mereka tidak dibebani tugas untuk menambal kain.

Kedua, saya lebih tidak tahan dengan orang yang berkata bahwa kita harus punya karya (yang biasanya juga dituntut lebih bagus) sebelum akhirnya memberikan kritik. Sudah terbayang bagaimana "sehatnya" iklim akademik bila orang yang mengkritik harus memproduksi karya sejenis terlebih dulu? Berapa banyak waktu yang tertunda hanya untuk memperbaiki karya yang akan dikritik? Apakah tiap profesor yang melontarkan kritik terhadap Das Kapital harus membuat buku berjudul Tandingan Das Kapital terlebih dulu?

Jika dipikir lebih lanjut, sepertinya tindakan-tindakan naif seperti ini bisa dipahami karena kebanyakan orang menganggap bahwa kritik adalah upaya untuk menjatuhkan. Sehingga lahirlah istilah "Kritik yang membangun". Sebetulnya saya memahami istilah itu dengan artian bahwa kritik yang diberikan sesuai dengan fakta, tetapi sepertinya ada pula yang memahami bahwa kritik yang membangun adalah kritik yang diikuti dengan saran. Yah, terserah mereka sebetulnya.

Namun kegagalan memahami esensi dari sebuah kritikan ini justru berimbas pada hal-hal semacam pengharusan saran di belakang kritik yang dibuat. Padahal kritik itu sendiri harusnya sudah cukup bermanfaat karena memberitahukan apa yang salah dengan suatu ide, produk atau sejenisnya.

Saya rasa kegagalan mengenali suatu konsep bisa jadi fatal, bayangkan bila sekelompok orang yang tidak tahu bahwa kedelai adalah sumber protein nabati utama dan (seumpama) satu-satunya yang mereka punya, tetapi karena ketidaktahuan mereka itu, mereka malah memproses kedelai hingga yang tersisa adalah ampas sementara seluruh protein hilang tak bersisa. Apesnya, di dunia nyata hal ini bukan hanya seputar bagaimana memproses tahu-tempe agar tetap bernutrisi.

Hal-hal semacam ini menyiratkan makna bahwa seakan kritik adalah suatu hal yang sangat menyinggung harga diri pembuat karya. Namun bukankah akan lebih tidak mengenakkan bila tidak seorang pun menyempatkan waktunya untuk melihat karya itu dan malah mengabaikannya sama sekali?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN