Mohon tunggu...
Meita Eryanti
Meita Eryanti Mohon Tunggu... Freelancer - Penjual buku di IG @bukumee

Apoteker yang beralih pekerjaan menjadi penjual buku. Suka membicarakan tentang buku-buku, obat-obatan, dan kadang-kadang suka bergosip.

Selanjutnya

Tutup

Hobby Pilihan

Cerita Hantu dan Rasa Takut

18 Maret 2020   14:15 Diperbarui: 18 Maret 2020   14:25 303
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Novel serial Creepy Case Club (dokumentasi pribadi)

Aku nonton siaran Youtube Penerbit KPG yang membahas tentang buku ini bersama penulisnya dan seorang psikolog. Kata Kak Rizal, memang ada anak yang ketakutan setelah membaca prolog buku Kasus Nyanyian Berhantu. Namun karena Si Anak penasaran, akhirnya dia meminta orangtuanya membacakan buku tersebut. Setelah anak ini mengetahui kisah lengkapnya, Si Anak tidak lagi merasa ketakutan.

Emang sih, bagian prolognya buku-buku Creepy Case Club ini mencekam. Misalnya di Kasus Nyanyian Berhantu, buku cerita dibuka dengan sosok yang muncul setelah seorang anak menyanyikan lagu Soleram. Dan bayangan adegan ini yang membuatku tidak nyaman untuk solat sendirian di kamar depan.

Namun seiring jalannya cerita, Kak Rizal memberikan penjelasan bahwa makhluk gaib yang ada dalam cerita Creepy Case Club tidak jahat. Mereka malah membutuhkan pertolongan.

Walaupun melibatkan hal-hal mistis, tapi menurut Kak Rizal buku ini bukan untuk menakut-nakuti. Buku ini memberikan perspektif lain tentang rasa takut kita pada hantu kalau ceritanya dibaca sampai akhir. Gagasan bukunya sendiri adalah untuk mengajak anak berfikir kritis.

Hal itu memang aku sadari juga, sih. Terutama ketika aku membaca buku ketiga yang berjudul Kasus Kutukan Congklak. Ketika anak-anak Creepy Case Club menghadapi sebuah masalah yang mereka tidak mengerti, mereka mencoba untuk menghubungkannya dengan pengalaman mereka dan informasi yang didapat. Ketika kesimpulan mereka salah, mereka akan menelusuri lagi informasi lain yang bisa mereka peroleh hingga mereka mendapatkan jawaban yang benar. Hal ini, menurutku, bisa membangun logika berfikir anak juga.

Yang menariknya, menurut Kak Rizal berdasarkan testimoni yang didapatnya, yang sering ketakutan membaca buku Creepy Case Club adalah orang dewasa. Kemungkinannya, orang dewasa sepertiku, sudah memiliki persepsi sendiri tentang hantu. Berbeda dengan anak-anak yang masih membuka pikirannya untuk sudut pandang lain tentang hantu.

Menurut Kak Anna Surti, seorang psikolog anak yang juga menjadi narasumber dalam tayangan Youtube KPG, buku cerita horor dengan kadar tertentu malah bagus untuk anak. Karena buku-buku tentang hantu atau sesuatu yang berbau misteri dapat membuat anak menjadi pembaca yang tekun.

Hantu adalah sesuatu yang biasanya digunakan orangtua untuk menakut-nakuti anak. Ketika ada anak yang tidak mau makan, ada orang dewasa yang bilang, "nanti kamu yang dimakan hantu kalau kamu tidak mau makan." Padahal, hantu itu sesuatu yang tidak ada dalam kehidupan anak sehari-hari.

Karenanya, kalau ada cerita-cerita tentang hantu (dengan kadar anak-anak), mereka akan antusias untuk membacanya karena penasaran. Ada sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa cerita misteri mendorong anak-anak untuk membaca cerita tersebut berulang-ulang sehingga anak akan mendapatkan sudut pandang lain tentang rasa takutnya. Hal tersebut juga dapat membangun sikap kritis dan kebiasaan untuk membaca lebih detail.

Buku cerita, jelas berbeda dengan film. Jika membaca buku, kita bisa memiliki bayangan sendiri tentang hantu atau misteri yang sedang dibaca. Kita juga memiliki pilihan untuk mengesampingkan ketakutan pada sosok hantu dan fokus pada jalan ceritanya. Dalam film, kita disuguhkan gambaran visual seperti apa sosok hantunya. Dengan efek suara yang luar biasa, kondisi mencekam jadi lebih terbangun. Sehingga, anak-anak menjadi lebih teringat pada rasa takutnya.

Masuk akal, sih.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun