Mohon tunggu...
Meidy Yafeth Tinangon
Meidy Yafeth Tinangon Mohon Tunggu... Lainnya - β–  π»π‘œπ‘π‘–: 𝑀𝑒𝑛𝑒𝑙𝑖𝑠 π‘‘π‘Žπ‘› π΅π‘’π‘Ÿπ‘π‘Žπ‘”π‘– πΎπ‘Žπ‘‘π‘Ž β–  π‘Šπ‘Ÿπ‘–π‘‘π‘’ π‘Žπ‘›π‘‘ π‘ β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’ π‘“π‘œπ‘Ÿ π‘–π‘›π‘ π‘π‘–π‘Ÿπ‘–π‘›π‘” π‘Žπ‘›π‘‘ π‘’π‘šπ‘π‘œπ‘€π‘’π‘Ÿπ‘–π‘›π‘”. πΉπ‘œπ‘Ÿ π‘ π‘π‘–π‘Ÿπ‘–π‘‘, π‘π‘’π‘Žπ‘π‘’ π‘Žπ‘›π‘‘ 𝑗𝑒𝑠𝑑𝑖𝑐𝑒

www.meidytinangon.com | www.info-pemilu-pilkada.online | www.pikir.net | www.globalwarming.web.id | www.minahasa.xyz | www.mimbar.online |

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Mencari Keadilan

9 September 2021   23:04 Diperbarui: 9 September 2021   23:13 146 27 3
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
"akar rumput mencari keadilan" [Dokpri, MYT-100921]

Akar rumput mencari keadilan
Iri kepada daun rerumputan,
yang selalu dimanja pagi
Saban hariΒ 

Ditinggalkannya alam bawah tanah Β 
Lalu, tibalah dia ke atas tanah
Menjumpai pagi berseri Β 
Menyongsong mentari

Akar-akar serabut di jauh sana
menancapkan kepala ke tanah
serabut menghadap mentari
Sambil menari-nariΒ 

Detik demi detik berlalu,
pagi pun pamit berlalu
Matahari meninggi
Terik menggigit

Akar rumput mulai kehausan. Bibirnya kering. Terik makin menggigit.
"Air! Mana air?" Akar rumput mencari air. Air tiada. Bibir pun digigit.

Akar rumput akhirnya kecewa
Keadilan tak ada yang membawa
Hanya mengintip di jendela asa
Menggantungkan rasa

Berbenahlah dia, hendak kembali mencumbu tanah. Seperti biasa

Kembali hidup bersama kegelapan masa. Sebagaimana biasaΒ 

Setibanya di bawah tanah, dicarinya air tanah di tempat biasa

Air tanah kini tiada. Akar rumput pun tak kuasa lalu binasa!Β 

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan