Mohon tunggu...
Meidy Yafeth Tinangon
Meidy Yafeth Tinangon Mohon Tunggu... Lainnya - β–  π»π‘œπ‘π‘–: 𝑀𝑒𝑛𝑒𝑙𝑖𝑠 π‘‘π‘Žπ‘› π΅π‘’π‘Ÿπ‘π‘Žπ‘”π‘– πΎπ‘Žπ‘‘π‘Ž β–  π‘Šπ‘Ÿπ‘–π‘‘π‘’ π‘Žπ‘›π‘‘ π‘ β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’ π‘“π‘œπ‘Ÿ π‘–π‘›π‘ π‘π‘–π‘Ÿπ‘–π‘›π‘” π‘Žπ‘›π‘‘ π‘’π‘šπ‘π‘œπ‘€π‘’π‘Ÿπ‘–π‘›π‘”. πΉπ‘œπ‘Ÿ π‘ π‘π‘–π‘Ÿπ‘–π‘‘, π‘π‘’π‘Žπ‘π‘’ π‘Žπ‘›π‘‘ 𝑗𝑒𝑠𝑑𝑖𝑐𝑒

www.meidytinangon.com | www.info-pemilu-pilkada.online | www.pikir.net | www.globalwarming.web.id | www.minahasa.xyz | www.mimbar.online |

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Amendemen September

6 September 2021   17:48 Diperbarui: 6 September 2021   17:55 122 24 4
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
"Amendemen atau Amandemen?" [Dokpri, diedit dari tangkapan layar https://kbbi.web.id/amendemen]

Amendemen, kata baku menurut kamus bahasa.
Tapi amandemen yang naik pamor, di tagar linimasa.
"Ada yang perlu diubah dan ditambah," kata media massa.
Sepertinya ini lumrah dan biasa saja, bukan luar biasa.

Ah, aku tak perlu mengomentari yang bukan urusanku.
Tahun ini, sudah bulan September, setumpuk asa membeku.
Sudah bulan September, masalah mengantri duduk di bangku.
Mereka sabar menunggu, sebagian malah kupangku.Β 

Hari ini, di mata hatiku...

Tentang asa yang membeku, kulihat mereka mulai kedinginan.
Sementara api di dalam tungku batin, terlambat kita hidupkan.
Dan, tentang masalah yang antri, kulihat mulai kadaluarsa.
Sementara aku bingung menyusun risalah. Dibelenggu masa.

September tak akan menunggu lama,
Di almanak, hanya tiga puluh hari lamanya
Lalu, apakah asa kita biarkan menggantung Β 
dan masalah dibiarkan menjadi patung?

Revolusi! Revolusi!
Harus revolusi, tanpa basa-basi!
Tak perlu reformasi, apalagi evolusiΒ 

Asal saja, jangan emosi

Revolusi! Revolusi bulan September!
Perubahan cepat! Baharui September!
Rubah konstitusi bulan September
Amendemen sampai ke akar di bulan September

Amendemen konstitusi diri bulan September
Amendemen untukku.
Terserah untukmu.
Itu maksudku, duhai September...

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan