Mohon tunggu...
Meidy Y. Tinangon
Meidy Y. Tinangon Mohon Tunggu... Lainnya - Komisioner KPU Sulut | Penikmat Literasi | Verba Volant, Scripta Manent (kata-kata terbang, tulisan abadi)

www.meidytinangon.com| www.pemilu-pilkada.my.id| www.konten-leadership.xyz| www.globalwarming.blogspot.com | www.minahasa.xyz| www.mimbar.blogspot.com|

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Darah, Dosa, dan Pengampunan

19 April 2020   00:19 Diperbarui: 19 April 2020   00:21 224
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
www.beliefnet.com, "the three faces offorgiveness"

Renung tentang Darah, Dosa, dan Pengampunan
*) oleh: Meidy Yafeth Tinangon


Di Bukit Kalvari...
Darah itu mengalir dari tubuh Dia Tuhan yang menjadi manusia tak berdaya....
Di Bukit Golgota
Darah itu mengalir dari tubuh Sang Korban Penghapus Dosa...
Di Bukit Tengkorak...
Darah itu mengalir mengiring hembus nafas terakhir Sang Juruselamat...
Yah... Darah itu....
Tanda kasih Sang Khalik...
Pertanda pengorbanan...
Bukti tebus DOSA para pendosa !!!
Sebab tiada kasih tanpa pengorbanan
Tiada penebusan tanpa kasih dan pengorbanan...

Kini...Adakah mereka yang Kau tebus lunas berlaku kudus n`tuk hargai darahMu Sang Penebus ???

Oh Penebus.... Kami mengaku....
Kini.... kami yang Kau tebus itu...
Sedang berdiri di bukit kesombongan dan keangkuhan
memeluk mesra ego, menepis empati tak berhati
Angkuh tanpa rasa, tanpa peduli, tanpa maaf...
Persetan dengan yang lain !!!
Aku adalah aku... mereka adalah mereka...

Tuhan... Kami mengaku...
Kini ....kami berdiri di Bukit  Kemewahan bertabur harta, Emas Permata
Nikmati senang dunia karena harta
Nikmati asyiknya bermain harta..
Korbankan sesama untuk harta ....
Gadaikan salib demi harta berbumbu cinta....

Tuhan ... Kami mengaku...
Kini ... kami duduk di kursi empuk istana di bukit kekuasaan ...
Nikmati empuk kursi raja yang kami rebut penuh kecurangan
Nikmati asyiknya berkuasa anggap hina rakyat jelata
Nikmati kekayaan karena jabatan .....
tak peduli halal atau haram..

Tuhan .... Kami mengaku....
Kini .... kami membangun keluarga di bukit kepalsuan cinta...
Bangun keluarga dalam sakralnya prosesi dan mewahnya pesta
Namun ... lihatlah
Kini .... ego kalahan cinta memutus ikatan sakral itu....
Buah hati terlantar kehilangan kasih sayang
terbiar dan terbuai dan jatuh dipeluk narkoba dan nikmatnya godaan dunia
Ada berontak disana sini.... Ada durhaka disana sini...
Tiada doa dalam rumah, yang Kau harap jadi Gereja kecilMu
Tiada damai dalam keluarga, yang Kau harap jadi saksi KebangkitanMu

Tuhan...
Darah suciMu terbuang percuma...
meski kami berlagak kudus dalam jamuan kudus,
meneguk anggur hayati korban darahMu
Tubuhmu... kami siksa dengan tajamnya tombak dosa dan durhaka kami...
     meski kami turut  mengunyah roti tak beragi simbol siksa tubuhMu
dalam sakralnya meja perjamuan...
SalibMu patah kami campakkan...
bahkan... hangus terbakar tersulut panasnya api dosa ...
Kubur kosong itu hanya sekedar ornamen Paskah,
objek wisata tanpa makna, tanpa nilai seperti kosongnya hati kami....!!!

Tuhan...
Maukah Engkau datang lagi untuk kami salibkan biar bebas kami dari dosa ???
sambil  kami teriakan kata:
Salibkan Dia !! Salibkan Dia !!!

Ataukah .... kami yang harus salibkan diri... ???
Salibkan ego, keangkuhan, kesombongan diri...
Salibkan amarah, ketamakan, iri, dan dengki

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun