Mohon tunggu...
Mutiara Me
Mutiara Me Mohon Tunggu... Mahasiswa - saya

Belajar nulis

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Mengindahkan Narasi Tunggal dapat Sebabkan Pembentukan Persepsi yang Menyesatkan

17 April 2018   22:55 Diperbarui: 18 April 2018   21:21 2937
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber ilustrasi: kennis.simac.com

Pemikiran seperti ini juga didoktrinkan ke anak-anak Indonesia yang bersekolah di Jepang, tentang keunggulan Jepang dibandingkan negara-negara di Asia lainnya,terutama Asia Tenggara.

Akibatnya, beberapa anak-anak Indonesia di Jepang yang belum pernah datang ke Indonesia, membayangkan Indonesia itu negara kecil, yang jauh dari modern, yang ngga asik deh. 

Waktu saya berbincang dengan mereka dan menceritakan bahwa Indonesia mempunyai 14 ribu pulau, mereka terheran-heran! "Jadi Indonesia itu pulaunya lebih banyak dari Jepang?" tanya mereka ngga percaya.

Begitu pula dengan kisah Maria, orang Indonesia yang menikah dengan orang Jepang. Dia sudah lama tidak pulang ke Indonesia, dan sudah sekitar 25 tahun tinggal di jepang. 

Suatu waktu saat berkumpul dengan teman-teman orang Jepang, seseorang menyeletuk ingin berkunjung ke Indonesia. 

Tiba-tiba dengan pedenya Maria mengatakan, "Jangan, berbahaya." Ia lalu menceritakan panjang lebar ke teman-teman Jepangnya bahwa di Indonesia itu naik taksi sangat berbahaya, bisa dibunuh. "Jalan sendiri bahaya .... benar-bahaya. Saya saja takut sekali ke Indonesia," tambahnya.

Dia mengaku sering mengikuti berita via TV dan internet tentang Indonesia, dan isinya pembunuhan, perampokan, dan narkoba.

Dan itu yang ia jadikan acuan untuk menilai Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, negara besar yang pulaunya saja hampir 2x lipat banyaknya dari jumlah pulau di Jepang. 

Berita-berita tersebut dipakai untuk menggambarkan Indonesia ke orang Jepang, menafikan jutaan, atau bahkan milyaran sisi-sisi lainnya.

Di situ saya sedih dan kesal, apalagi saat saya cerita bahwa tidak seseram itu kenyataannya. Dan dia tetap ngotot bahwa dia benar bahwa mengunjungi Indonesia itu berbahaya.

Cerita dari orang-orang seperti ini lah yang menurut saya berbahaya karena mereka seolah bisa "mewakili" Indonesia, dari asal usulnya. Namun ia hanya melihat dari sudut pandang yang di-frame oleh TV and media online. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun