Mohon tunggu...
Mbak Avy
Mbak Avy Mohon Tunggu... Penulis - Mom of 3

Kompasianer Surabaya | Alumni Danone Blogger Academy 3 | Jurnalis hariansurabaya.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Mempersiapkan Dunia Kita di Masa Tua Nanti

3 November 2021   12:31 Diperbarui: 3 November 2021   18:41 1036 53 8
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi lansia.| Sumber: Shutterstock via Kompas.com

Saya mempunyai 3 anak cowok yang sudah menjelang dewasa. Yang nomor satu malah sudah minta dilamarkan kekasihnya. Inshaa Alloh tahun depan semoga terlaksana, doakan lancar ya sobat Kompasianer

Betapa waktu ini berputar sangat cepat. Masih terbayang jelas ketika mengandung mereka, melahirkan, mengiringi pertumbuhan mereka dari mulai belajar berjalan, awal sekolah hingga sudah bekerja.

Tuhan pasti punya rahasia dan jalan terbaik buatku dan suami dengan dikaruniai 3 orang anak yang semuanya laki-laki. Anak laki-laki itu punya dunia sendiri yang lebih luas dan panjang. 

Jangkahe luweh dowo timbang anak wedok yang artinya langkah kehidupannya lebih panjang dari pada anak perempuan. Begitulah istilah orang Jowo. Jiwa petualangnya lebih tinggi. Begitulah kira-kira maksudnya. Tapi saya kira untuk zaman sekarang, semua hampir sama sih. Banyak teman saya yang anak perempuannya sampai bekerja di Aceh, Papua, Jayapura bahkan luar negeri sejak bujang.

Bicara tentang langkah atau jejak anak dalam menentukan pilihan masa depan mereka. Sebenarnya di manapun menurut saya sama saja. Karena toh sejak kecil semua orangtua pasti ingin anaknya sukses. Kalau bisa bahkan melanglang dunia.

Dua kata yang saya tebali di atas sebenarnya pendapat saya yang ragu-ragu. Karena saya mempunyai pengalaman pribadi yang tidak sama dengan pendapat saya di atas.

Sekitar tahun 2017 yang lalu, anak saya yang sulung diterima kerja di Jakarta. Diterima di salah satu group media cukup besar di ibu kota. Sebagai anak laki-laki, pastinya dia sangat senang dan bangga dong karena hanya selisih 2 hari dia juga baru saja lulus kuliah dan diwisuda. Jadi kebahagiaan dan kebanggaannya dobel.

Tapi tidak demikian dengan mamanya yaitu saya. Dari awal saya tidak setuju kalau dia harus bekerja di luar kota. Saya pingin semua anak-anak belajar dan bekerja di Surabaya. Karena toh di kota besar kedua di Indonesia ini juga banyak kesempatan serta peluang karier yang tidak kalah menjanjikan. 

Tapi sebenarnya alasan utama saya adalah tidak mau berjauhan dengan anak-anak. Kuliah di luar kota saja tidak saya izinkan. Apalagi kerja di luar kota. Tidak sanggup. Titik!

Ketika mereka masih anak-anak, masih tergantung dengan saya sebagai orangtua. Pastinya mereka hanya mengiyakan saja. Entah untuk membesarkan hati mamanya. Atau memang belum mengerti waktu itu. Karena memang seiring berjalannya waktu, anak-anak dengan pelan tapi pasti akan menemukan dunia mereka sendiri. Terutama tujuan hidup.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan