Mba Adhe Retno
Mba Adhe Retno Academic Suporting

Universitas Pancasila Jakarta http://retnohartati.8m.net

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Hari Bahagia Sedunia

21 Maret 2018   10:35 Diperbarui: 21 Maret 2018   12:06 629 3 2
Hari Bahagia Sedunia
Illustrasi (Foto Diri Sendiri)

Pada masa lalu, di suatu Waktu di Palestina, seorang guru bersama murid-muridnya sementara berada di sekitaran bukit, mereka mau beristirahat. Tapi, banyak orang datang dan berkumpul di sekitar mereka. Beberapa orang dari antara orang banyak itu bertanya kepada Sang Guru, "Siapakah yang bisa disebut orang yang berbahagia;?" dan "Bagaimana ciri-ciri mereka yang disebut orang yang berbahagia atau bahagia?'  

Sang Guru tidak langsung menjawab ke mereka yang bertanya; ia malah naik keatas ketinggian agar bisa melihat orang-orang di sekitarnya. Setelah itu, Sang Guru pun berkata,

Berbahagialah orang yang miskin  di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 

Berbahagialah orang yang berdukacita , karena mereka akan dihibur. 

Berbahagialah orang yang lemah lembut , karena mereka akan memiliki bumi. 

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran , karena mereka akan dipuaskan. 

Berbahagialah orang yang murah hatinya , karena mereka akan beroleh kemurahan. 

Berbahagialah orang yang suci hatinya ,  karena mereka akan melihat Allah. 

Berbahagialah orang yang membawa damai , karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran , karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 

[Dari Sabda.org]

Itulah hasil atau (nanti) didapatkan oleh mereka yang disebut orang-orang berbahagia. Namun, apa itu berbahagia? 

Menurut Kamus, bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram, bebas dari segala yang menyusahkan; berbahagia adalah keadaan bahagia, menikmati kebahagiaan. Dengan kata lain, bahagia merupakan tampilan dari situasi dan kondisi yang tercukupi (kebutuhan rohani dan jasmani), bebas sejumlah faktor penghambat, misalnya, kekurangan, halangan, penyakit, dan hambatan dan tak mampu aktualisasi diri. Bahkan, ada juga berpendapat bahawa bahagia itu, berwajah cantik, ganteng, bergaya hidup modern, memiliki mfasiliats hidup dan kehidupan yang lengkap, dan lain sebagainya

Karena salah satu 'faktor' bahagia itu adalah 'sikon yang tercukupi,' maka sering kali, banyak orang mengukur kebahagiaan dengan adanya sejumlah uang dan benda penunjang gaya hidup. Sehingga bahagia juga diukur dengan adanya uang atau pun harta, dan lain sebagainya. Jadinya, bahagia hanya dinilai dari sisi berapa banyak benda-benda yang dimiliki, dan bukan situasi dan suasana hati, jiwa, dan rohani (dan ini memang tak pernah terukur).

Pergeseran dan pemilahan makna dan faktor (sesorang menyebut diri dan disebut) bahagia itulah, menjadikan PBB sejak tahun 2013, mencanangkan Hari Bahagia Sedunia. Tujuannya adalah membuat semua orang sadar pentingnya hidup bahagia; dan menyadari bahwa faktor penentu kebahagiaan bukan sekadar berapa jumlah uang atau kekayaan yang dimiliki.

Hari Bahagia Sedunia dirayakan setiap tanggal 20 Maret, untuk mengingat kembali berbagai hal-hal menyenangkan yang dialami manusia saat hidup. Hari Bahagia Sedunia lebih dari sekedar perayaan yang menyenangkan. Hari ini juga mengingatkan kita bahwa dunia akan jadi tempat yang lebih baik ketika kita terkoneksi bersama dan peduli pada orang di sekitar kita.

Oleh sebab itu, menurut PBB masyarkat Dunia harus bergerak bersama dan bersama-sama berupaya mengatasi kemiskinan, mengurangi ketidakadilan, dan melindungi bumi. Karena kertiga hal tersebut merupakan faktor utama untuk mencapai kebahagiaan manusia di seluruh dunia.

Kini, saat dan hari ini. Berdasar hal-hal di atas, coba kita bertanya pada diri sendiri, "Apakah saya sudah termasuk mereka yang berbahagia?" Jawabannya tentu beragam. Sehingga ada semacam ungkapan baku, "Bahagia dan Kebahagiaan itu Relatif; penilaiannya tergantung dari sisi mana."

Jelasnya begini. Bisa jadi, secara harta benda, seseorang dinilai (dilihat) oleh orang lain bahwa ia bahagia; namun bisa saja orang tersebut tidak mengalami 'kebahagiaan psihkologis dan rohani. Atau, sebaliknya, seseorang yang sederhana dan terbatas secara benda, dinilai bahwa ia kurang bahagia; namun, ia merasa berbahagia.

Jelas khan, bahagia dan kebahagiaan tersebut, tak bisa dibatasi dengan benda-benda atau satu sikon tertentu; namun menyangkut banyak hal yang saling kait mengait serta menyeluruh atau holistik. Itu juga bermakna bahwa masing-masing orang memiliki ukuran dan faktor bahagia serta kebahagia; tapi ada kesamaan yang universal, namun juga berbeda, walau kecil atau tipis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2