Mohon tunggu...
Maya Puspitasari
Maya Puspitasari Mohon Tunggu... Profil

Ibu dari dua orang anak, pegiat homeschooling, penyuka film, penikmat musik dan pemerhati pendidikan.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Menghilangkan Budaya Perundungan

14 Januari 2021   19:22 Diperbarui: 14 Januari 2021   19:31 70 3 0 Mohon Tunggu...

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar Cinta Laura? Mungkin sebagian besar dari Anda teringat dengan sosoknya yang terkenal dengan logat bulenya. Bahkan slogan 'udah hujan, becek, gak ada ojek' sering dilekatkan dengan artis Indonesia yang kini sudah 'go international' ini. Tidak sedikit masyarakat Indonesia yang akhinrya menjadikan aksen Cinta itu sebagai bahan olok-olok. Namun mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Cinta merasa menjadi korban perundungan dikarenakan gaya bicaranya tersebut. Dan ternyata hal tersebut menjadikan Cinta yang memulai karier sejak usia 13 tahun pernah sakit hati selama bertahun-tahun lamanya. Pengalamannya menjadi korban perundungan ini ia bagikan di kanal Youtube Asian Boss akhir Oktober 2020 lalu (https://youtu.be/8eRtq88UVqA). Beberapa hari lalu, Cinta Laura bahkan mengungkapkan kekecewaannya di akun Twitternya (https://twitter.com/xcintakiehlx/status/1338714312219656192) terhadap host salahsatu stasiun televisi nasional yang terkesan mengejek aksennya tatkala menyebut namanya.

Cinta tidak sendiri. Nadiem Makarim dan Iqbaal E. Ramadhan juga pernah membagikan pengalaman perundungan mereka saat mereka masih bersekolah dulu. Nadiem dan Iqbaal menceritakan kisahnya tersebut ketika mereka melakukan siaran Instagram langsung beberapa waktu lalu (https://www.instagram.com/tv/CIpXiuzBXm4/). Di samping berdiskusi tentang kondisi pendidikan di Indonesia, Instagram Live mereka diisi dengan cerita tentang bentuk perundungan yang mereka pernah alami dan bagaimana perundungan itu mempengaruhi hidup mereka.

Perundungan kerap terjadi di lingkungan sekolah

Apa yang Cinta, Nadiem dan Iqbaal alami mungkin menggambarkan bahwa isu perundungan biasa terjadi di lingkungan sekolah. Maka tak mengherankan jika hasil PISA 2018 menunjukkan bahwa 41,1% siswa peserta tes PISA dari Indonesia melaporkan pernah menjadi korban perundungan. Di ranah Sunda sendiri, sebagian masyarakat mungkin tidak asing dengan budaya 'lalandihan'. Budaya ini secara umum merupakan kebiasaan diantara teman sebaya atau lingkungan sekitar untuk lebih memilih memanggil seseorang dengan julukan ia dibanding memanggil namanya sendiri. Maka sebutan seperti 'si bujur katel' (bagi yang memiliki kulit gelap), 'si pegek' (si hidung pesek) atau 'gajah bengkak' (bagi yang bertubuh gemuk) lazim diucapkan oleh siswa di lingkungan sekolah.

Penulis sendiri tak lepas dari nama julukan 'Ayam' sampai duduk di bangku kuliah strata satu. Julukan 'Ayam' ini diambil dari nama asli penulis yang dibaca terbalik. Namun penulis tidak terlalu mengambil hati karena merasa kata 'ayam' tidak bisa terlepas dari diri penulis. Penulis kemudian menyimpulkan, salahsatu cara untuk bertahan hidup di dalam lingkungan yang memiliki budaya 'lalandihan' adalah dengan membalas memberikan julukan pada orang lain. Pada akhirnya budaya yang bisa berujung pada perundungan ini dianggap menjadi hal yang lumrah terjadi di lingkungan sekolah. Bahkan banyak yang merasa bukan sebuah kesalahan ketika memberikan julukan pada teman sekelasnya.

Menghilangkan Kebiasaan Perundungan

Cinta, Nadiem dan Iqbaal mungkin orang-orang yang bisa menjadikan pengalaman perundungan sebagai titik tolak untuk mereka bangkit dan menunjukkan jika mereka bisa berhasil. Di kancah internasional, penyanyi ternama seperti Jessie J, Adele dan Lady Gaga membuktikan bahwa perundungan tidak memberikan dampak negatif terhadap karier mereka. Keberhasilan yang mereka raih mengindikasikan perundungan yang mereka alami tidak membuat mereka terpuruk. Namun kita pun menjadi tahu bahwa korban perundungan itu bisa mengalami trauma di masa lalu dan mempengaruhi kesehatan mentalnya.

Menghapuskan kebiasaan merundung di lingkungan sekolah tentu bukan dengan membalas balik. Budaya merusak yang sudah mendarahdaging ini sudah seharusnya dihentikan. Penulis ingat ada teman SMP yang sangat sensitif dengan kata 'gajah' dikarenakan bentuk tubuhnya. Pernah ia mendiamkan penulis selama beberapa hari ketika penulis menyebut 'pepes gajah' di dalam kelas. Padahal saat itu konteksnya penulis dan teman-teman bersama wali kelas sedang membahas tentang makanan apa yang harus dipersiapkan untuk menjamu siswa dalam satu kelas. Terlontarlah 'pepes gajah' dari mulut penulis yang kemudian diiringi gelak tawa siswa yang lain. Tanpa penulis sadari, ternyata ide penulis itu dianggap mengejek salah seorang teman. Pengalaman ini mengindikasikan bahwa korban perundungan bisa menjadi individu yang tidak percaya diri, minder dan tidak mau bergaul dikarenakan pengalamannya dirundung oleh teman-temannya.

Allah Subhana wa ta'ala berfirman dalam Quran surat al-Hujurat ayat 11 yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim".

Cukuplah ayat al-Hujurat di atas menjadi pengingat untuk kita agar menghindari memberikan julukan-julukan negatif yang bisa berdampak buruk pada perkembangan kepribadian seseorang.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x