Mawan Sidarta
Mawan Sidarta wiraswasta, S1-Agronomi UNEJ

Bukan reporter sembarang reporter tapi reporter Kompasianadotcom. Traveler berwarna. Sudah menikah punya satu anak. Sekarang usaha kecil-kecilan di rumah. Bravo Kompasiana https://www.instagram.com/mawansidarta https://www.facebook.com/mawan.sidarta https://twitter.com/MawanSidarta1

Selanjutnya

Tutup

Travel Artikel Utama

Penasaran dengan Makam Tak Bernama dan Sejarah Singkat Sunan Giri

9 Oktober 2018   22:19 Diperbarui: 10 Oktober 2018   15:28 2799 1 1
Penasaran dengan Makam Tak Bernama dan Sejarah Singkat Sunan Giri
Bermunajad di makam Sunan Giri (dok.pri)

Khusyuk berdoa (bermunajad), melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, membaca Yassin dan Tahlil atau bahkan sekedar Surah Fatikah sudah sepantasnya dilakukan ketika seseorang melalukan ziarah kubur apalagi kalau yang diziarahi itu pusara para wali atau tokoh berjasa (pahlawan) lainnya. Ziarah kubur boleh khusyuk namun yang namanya manusia juga tak bisa lepas dari masalah perut dan kebutuhan lainnya.

Ketika melakukan ziarah kubur ke kompleks makam Sunan Giri yang ada di kawasan Sidomukti, Kebomas-Gresik, Jawa Timur, sebelum sampai di cungkup makam utama yang menjadi persemayaman Sunan Giri, terlihat banyak kita temukan para pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya. 

Lapak pedagang (dok.pri)
Lapak pedagang (dok.pri)
Makanan atau kudapan (jajanan) ringan seperti pentol bakso, mie ayam, soto, tahu tek, gorengan, kue-kue ringan serta beraneka es dalam sacetan terlihat mendominasi lapak-lapak pedagang di sana.
Tukang delman Giri (dok.pri)
Tukang delman Giri (dok.pri)
Beberapa tukang delman (andong) terlihat stand by, bersiap mengantar peziarah atau pengunjung kompleks makam yang ingin berkeliling kawasan sekitar kompleks makam Giri.

Biasanya para peziarah yang hendak mengunjungi pusara Sunan Prapen bisa menyewa delman sebab kalau berjalan kaki jaraknya cukup jauh dari kompleks makam Sunan Giri. 

Pentingnya pemberian tanda nama pada pusara 

Saya katakan cungkup makam utama karena memang di sekitarnya masih banyak kita temukan batu nisan entah siapa yang punya, beberapa diantaranya menjadi milik para wali yang masih keturunan (anak-cucu) Sunan Giri.

Ukiran dengan ornamen menarik yang menghiasi cungkup makam Sunan Giri (dok.pri)
Ukiran dengan ornamen menarik yang menghiasi cungkup makam Sunan Giri (dok.pri)
Gaya arsitektur cungkup makam Sunan Giri juga sangat unik. Bangunan pelindung (cungkup) dibuat dari kayu (jati) berukir dengan cat berwarna gradasi coklat tua kemerahan. Ada 2 patung ular berukir, letaknya tepat di depan pintu masuk cungkup makam.

Mungkin kalau bebatuan nisan itu milik orang biasa (bukan tokoh penting) tidak terlalu menjadi masalah meski tidak dicantumkan tanda nama di atas pusaranya. 

Pusara tak bernama (dok.pri)
Pusara tak bernama (dok.pri)
Sayang kalau pusara sunan atau tokoh-tokoh penting yang masih menjadi kerabat dekatnya terus tidak dikenali peziarah gegara tidak dilengkapi tanda nama pada batu nisannya. 

Mungkin sebelumnya sudah dipasang tanda nama pada setiap kuburan yang dikenal tapi kemudian hilang karena keisengan peziarah atau rusak dimakan sang waktu. Kadang bagi sebagian peziarah mungkin timbul rasa penasaran, siapa tokoh penting (sunan) yang terbaring abadi dalam pusara itu?

Itu seperti yang saya saksikan saat berziarah ke kompleks makam Sunan Giri belum lama ini. Sebelum masuk cungkup utama, peziarah pasti menemukan banyak makam, diantaranya milik Sunan Sedo Margi yang masih keturunan Sunan Giri. 

Beberapa lagi kuburan yang diperkirakan masih keturunan dekat para sunan tadi. Sayangnya pengelola situs makam Sunan Giri tidak memasang papan (tanda) nama pada beberapa kuburan tadi agar para peziarah menjadi tahu siapa pemilik makam itu. 

Mungkin pemberian tanda nama ini cukup penting terutama bagi para pelajar, mahasiswa atau siapa saja yang memang punya ketertarikan pada sejarah. Tanda nama milik Sunan Sedo Margi sendiri juga terlihat usang, untungnya masih terbaca. 

Untuk bisa sampai ke kompleks makam Sunan Giri dan keluarganya, para peziarah harus berjalan kaki melewati banyak trap-trap tangga. Kompleks makam Sunan Giri dan kerabatnya berada di sebuah bukit yang cukup tinggi. 

Kini di sisi kiri objek wisata religi kebanggaan masyarakat Gresik itu juga berdiri Museum Sunan Giri yang belum lama ini diresmikan penggunaannya untuk dikunjungi masyarakat luas.

Selain kompleks pusara, di sisi kanan tak jauh dari pekuburan Giri bisa pengunjung saksikan Masjid Giri yang dibangun Sunan Giri ribuan tahun silam.

Penjual pudak dan jajanan khas Gresik lainnya (dok.pri)
Penjual pudak dan jajanan khas Gresik lainnya (dok.pri)
Setelah berjalan melewati banyak trap tangga, tak jauh dari gapura masuk pusara banyak kita temukan stan-stan penjual pakaian, makanan khas Gresik (pudak dan jajanan lainnya), suvenir, buku-buku atau literatur Islam, beragam perlengkapan ibadah bagi umat Islam dan berbagai barang kebutuhan lainnya.

Agar berdoa atau bermunajad menjadi lebih khusyuk maka pengelola situs makam sengaja melarang pengunjung memasang HP nya atau mengambil gambar (memotret) yang dikhawatirkan akan mengganggu kekhusyukan mereka yang sedang berdoa di makam.

Sejarah Singkat Sunan Giri 

Cungkup utama pusara Sunan Giri (dok.pri)
Cungkup utama pusara Sunan Giri (dok.pri)
Sunan Giri memiliki banyak nama (julukan) sesuai dengan peristiwa yang mengiringinya. Beberapa nama beliau diantaranya : Joko Samudro (Jaka Samudra), Raden Paku, Mihammad Ainul Yaqin, Prabu Satmoto (Satmata) dan Sultan Abdul Faqih.

Dari jalur ayahandanya, Sunan Giri masih keturunan ke-23 dari Rasulullah Muhammad SAW. Beliau lahir di Blambangan (Banyuwangi) pada tahun Saka Candra Sengkala "Jalmo Orek Werdaning Ratu" (1365 Saka), dan wafat pada tahun Saka Candra Sengkala "Sayu Sirno Sucining Sukmo" (1428 Saka) di Desa Giri, Kebomas, Gresik-Jawa Timur.

Ayah kandung Sunan Giri bernama Imam Ishaq Makdum (Maulana Ishaq bin Maulana Akbar) atau sebagian kalangan menyebut dengan nama Syeh Maulana Ishaq atau Syeh Awalul Islam, seorang mubaligh dari Samarkand - Asia Tengah. Ibunda beliau adalah Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu, seorang adipati Blambangan pada masa menjelang runtuhnya Kerajaan Majapahit.

Sewaktu masih berusia belasan tahun, Sunan Giri dibawa asuhan Nyai Ageng Pinatih, syahbandar kaya raya asal Gresik yang kelak menjadi ibunda angkatnya. Kala itu sang sunan diberi nama Joko Samudro karena ditemukan awak kapal Nyai Ageng Pinatih dalam peti besi terapung-apung di tengah samudera.

Nyai Ageng Pinatih kemudian menyekolahkan Joko Samudro ke pesantren yang didirikan oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel) di Ampel Denta Surabaya. Selama belajar di pesantren Ampel, Joko Samudro diberi nama Raden Paku. Tujuh tahun lamanya Raden Paku memperdalam Agama Islam kemudian lulus dan diwisuda dengan gelar Ainul Yaqin.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2