Mohon tunggu...
Rizki Idsam Matura
Rizki Idsam Matura Mohon Tunggu... AMATEUR

PEMULA KATA

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Gonna Cry, Tom Holland?

22 Agustus 2019   01:12 Diperbarui: 22 Agustus 2019   01:25 0 0 0 Mohon Tunggu...
Gonna Cry, Tom Holland?
Sumber: IG Avengergram

Saat masih di sekolah menengah, tepatnya pada pelajaran bimbingan konseling, kami disuguhi sebuah film yang menarik dan membuat saya turut sedih dibuatnya. Judul film itu adalah Nanny McPhee, yang diperankan oleh Emma Thompson. Kisahnya adalah tentang seorang nanny (pengasuh anak) yang aneh dan misterius. Si nanny ini merupakan pengasuh ke-18 yang dipekerjakan oleh Ayah dari 7 anak yang super bandel, yang sebelumnya sudah berhasil mendepak ke-17 nanny mereka. 

Nah, ketika pengasuh ini datang, anak-anak bandel tadi nggak bisa semena-mena kayak yang biasa mereka lakukan ke nanny-nanny sebelumnya. Kenapa? Karena McPhee ini penyihir yang menakutkan dengan wajah yang mengerikan bagi mereka, seperti takutnya anak-anak ke brokoli atau badut.

Untuk mengatur anak-anak, McPhee menggunakan sihirnya dan membuat aturan-aturan yang secara tidak langsung mengubah tabiat anak-anak bandel dan kurang kasih sayang tadi. Uniknya, setiap anak-anak tadi berhasil menjalankan aturan tersebut, kondisi fisik dari pengasuh ke-18 ini berangsur-angsur berubah menjadi cantik dan menawan. 

Mukanya yang tadinya penuh dengan benjolan, sedikit demi sedikit menjadi halus seiring dengan semakin baiknya sifat anak-anak bandel tadi. Pada akhirnya, keluarga ini sadar betapa pentingnya Nanny McPhee bagi mereka. Kebencian yang tadinya tertanam pada anak-anak, sudah berubah menjadi cinta. Sedihnya, di saat anak-anak ini sedang sayang-sayangnya, mereka ditinggal begitu saja. Familiar dengan cerita ini?

Yup, kisah film yang mengambil latar inggris kuno tersebut banyak terjadi di dunia nyata, baik dalam percintaan atau dalam pekerjaan. Tentu saja, perasaan ditinggal saat sedang sayang-sayangnya membuat korbannya jadi sedih-sesedihnya. Kalau dalam kasus "hengkangnya" Spider-Man dari MCU ke Sony, saya adalah korban itu.

Jujur, saya termasuk yang pesimis ketika pihak MCU berhasil mendapatkan izin untuk memasukkan spider-man dalam semesta mereka, walaupun pada dasarnya spider-man adalah anaknya Marvel Comik Book. Ini dikarenakan 5 film spider-man sebelumnya, yang diproduksi oleh Sony (pemegang lisensi spider-man untuk film) menurut saya biasa saja, just so so, 11 12 dengan DCEU. 

Penilaian saya berubah ketika melihat kemunculannya di trailer Captain America: Civil War 3 tahun yang lalu, terlebih ketika Tom Holland (pemeran spider-man) mengambil shield milik Captain America dengan jaringnya sambil lompat ke atas mobil di sisi Iron Man dan seketika topeng mata laba-labanya mengecil secara elektrik. Boom! Sosok spider-man versi Toby Maguire, apalagi Andrew Garfield langsung hilang di otak saya. I love this guy!

Kecintaan saya makin bertambah terhadap anak magangnya Mr Stark ini, semua kemunculannya di Captain America: Civil War, Spider-Man: Homecoming, Avengers: Infinity War, Avengers: Endgame, Spider-Man: Far From Home selalu saya tunggu. Saya juga termasuk yang terluka ketika spider-man termasuk bagian dari setengah populasi yang lenyap dijentikkan oleh Thanos dan termasuk yang terharu bahagia saat spider-man dan iron man reuni di Avengers Endgame. 

Membaca berita wacana hengkangnya Spider-Man dari MCU membuat saya patah hati. Saya tidak rela jikalau spider-man kembali ke masa-masa kelamnya di Sony. 

Dimana yang mereka pikirkan hanya uang dan popularitas, bukan story atau kualitas, seperti kata Andrew Garfield. Saya tidak ingin talenta emas Tom Holland disia-siakan oleh Sony. Cukup Natalie Portman (pemeran jane foster) saja yang "terpaksa" harus akting di Thor: The Dark World karena terikat kontrak, Peter Parker jangan! 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x