Mohon tunggu...
Muhammad Dahlan
Muhammad Dahlan Mohon Tunggu... Petani -

I am just another guy with an average story

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Tontu

23 Juni 2017   08:08 Diperbarui: 23 Juni 2017   09:20 381
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sungai Telake, Long Kali | dok.pri


 “Lantaran lalu lintas transportasi air makin sepi, menyebabkan hanya tersisa satu rumah rakit di atas sungai saat ini. Itupun tidak lagi berfungsi sebagai toko kelontongan dan bahan bakar minyak seperti dulu, melainkan hanya sebagai rumah tinggal. Pemiliknya memindahkan barang dagangannya ke kios di daratan yang letaknya berhampiran dengan pantai dimana rumah rakit terakhir itu ditambatkan. Mungkin lantaran kios yang mereka sewa itu ukurannya relatif kecil, sehingga mereka memilih mempertahankan keberadaan rumah rakit sebagai sebagai tempat hunian. Atau mereka terlanjur merasa nyaman menetap di atas sungai setelah terbiasa melakoninya selama belasan tahun lamanya. Penghuni rumah rakit terakhir itu adalah Mat Asap.”


“Mat Asap?” Badrun menirukan dalam bentuk kata tanya.


“Ya. Mat Asap. Pemuda flamboyan kampung kita yang jago sepakbola dan catur,” Haris menimpali.


Badrun mencoba mengumpulkan kembali ingatannya tentang wajah Mat Asap. Dia sebaya dengan salah satu pemuda paling populer di kampungnya. Pemuda tampan itu terkenal karena jago main sepakbola dan catur sedari kecil. Dia menjadi rebutan beberapa klub sepakbola di ibu kota kecamatan dan sering dipinjam oleh banyak klub sepakbola kecamatan tetangga, bahkan beberapa kali memperkuat klub sepakbola terkuat dari ibu kota kabupaten. Sayangnya, lantaran derita cedera panjang setelah mengalami cedera patah kaki dalam satu pertandingan menghentikan karier gemilang sepakbolanya dalam usia belia yang belum lagi genap 20 tahun. Dia beralih mengasah dan menekuni bakat luar biasa satunya lagi yang dia miliki, yakni catur. Sebentar saja dia menjelma sebagai pecatur kekuatan baru yang berhasil mengalahkan beberapa jago catur senior tingkat kecamatan, langganan juara catur dalam perayaan hari kemerdekaan. Setiap kali Mat Asap punya waktu luang, dia pasti menyempatkan diri datang ke pangkalan ojek di depan lapangan sepakbola untuk bertanding catur dengan taruhan secangkir kopi susu dan sebungkus rokok. Rutinitas menjadi pemenang taruhan itu menggiring dia menjadi seorang peminum kopi dan penghisap rokok kelas berat. Dia menghisap batang demi batang rokok dengan rakus tanpa henti diselingi menyeruput kopi susu dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya. Sebab itulah dia dijuluki sebagai Mat Asap. Julukan itu semakin lama semakin melekat pada dirinya dan sebagian orang mulai melupakan nama sebenarnya yaitu Ardansyah.


“Bukankah rumah Mat Asap berada di Payo Kali yang jaraknya satu kilometer dari sungai?” Tanya Badrun.


Haris diam sejenak, menarik nafas dalam-dalam, “Mat Asap memperistri Maizurah, anak dari pak Hisyam, pemilik rumah rakit terakhir. Setelah pak Hisyam dan istrinya meninggal dunia karena sakit yang mereka derita, Maizurah beserta suami dan kedua anak mereka menjadi pewaris kepemilikan rumah rakit.”


Badrun tertegun mendengar penjelasan Haris. Raut wajahnya yang semula datar, nyaris tanpa ekspresi sejak dia mempersilahkan Haris untuk bercerita, kini meredup disergap rona murung. Tanpa diduga Badrun beranjak berdiri dan meraih tas selempangnya yang tadi dia geletakkan di atas tembok pagar. Dia ingin segera pergi. “Aku harus pulang sekarang. Itu, istri dan anakmu sudah selesai berenang,” ujarnya sambil menunjuk ke arah istri dan anak Haris yang mulai meninggalkan bibir pantai.


“Bertahanlah dulu sebentar. Mereka harus berbilas dengan air besih di tempat pemandian umum terlebih dulu,” Haris menangkap pergelangan tangan Badrun guna menahan kepergian kawan hilangnya itu. “Di mana kau tinggal?”


“Di satu dataran tinggi yang tanahnya subur untuk bercocok tanam tidak jauh dari sini,” 


“Apa nama kampungnya?”


“Tidak bisa kusebutkan namanya, Ris”

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun