Mohon tunggu...
Masykur Mahmud
Masykur Mahmud Mohon Tunggu... Freelancer - A runner, an avid reader and a writer.

Harta Warisan Terbaik adalah Tulisan yang Bermanfaat. Contact: masykurten05@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Parenting Pilihan

Melatih Keberanian pada Anak, Mungkinkah?

29 Januari 2023   16:14 Diperbarui: 29 Januari 2023   16:17 122
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
anak yang berani: www.freepik.com

"Ayah, tadi adek pukul abang yang ganggu Nurin"

Ucapan ini keluar dari mulut anak saya yang masih bersekolah di taman kanak-kanak. Sesaat setelah mendengar laporannya, saya terpikir kenapa ia berani bertindak seperti itu.

Saya dan istri sepakat untuk mengenalkan nilai-nilai keberanian pada anak walau umurnya masih kecil. Tujuannya hanya satu, agar anak memahami nilai keberanian dan mampu membela diri.

Saya pribadi sering berujar pada anak "kalau adek ga salah, ga perlu takut tapi kalau salah harus minta maaf". Kalimat ini selalu saya tekankan padanya agar ia paham benar etika dan tata krama.

Uniknya, kejadian kemarin sepulang sekolah masih menyisakan pertanyaan dalam benak saya. Akhirnya, saya melakukan investigasi lebih lanjut dengan mengintrogasinya.

"kenapa adek berani pukul abang tadi"? saya mulai mencari tahu.

"abangnya jahat, dia ganggu Nurin tapi ga minta maaf", ujar anak saya. 

Disini, saya mulai mengetahui akar masalah. Ternyata si anak laki-laki  tersebut menganggu temannya anak saya, tapi tak mau minta maaf. Ya, namanya juga anak-anak, pasti ada aja yang usil.

Saya lega karena anak laki-laki yang dipukulnya tidak membalas. Memang, kata "pukul" yang dideskripsikan oleh anak saya hanya sekedar menepukkan tangan.

Anak-anak mesti diajarkan untuk membela diri. Tentunya, dengan cara yang wajar dan tetap menjaga nilai kesopanan. Kalau orang tua tidak mengajarkan, maka anak bukan tidak mustahil akan menjadi korban bully.

Apalagi, saat ini nilai tata krama sudah sangat jarang diajarkan orang tua kepada anak. Bahkan, sedihnya lagi banyak orang tua yang jelas-jelas anaknya bersalah tapi malah membelanya.

Apa yang dilakukan anak saya tidak terjadi begitu saja. Sejak umur satu tahun, saya sudah mulai menanamkan nilai keberanian lewat bacaan buku-buku yang mengisahkan nilai percaya diri.

Tentu saja sebagai orang tua, saya paham tidak selamanya bisa berbagi waktu dengan anak. Nilai-nilai tata krama, termasuk keberanian membela diri sudah harus diajarkan sejak kecil agar anak tidak kecut. 

Membela diri dalam konteks kebenaran sah-sah saja dilakukan. Terlebih, jika anak diganggu oleh anak-anak lain yang umurnya lebih dewasa dan teman lainnya hanya menjadi penonton.

Umumnya, anak-anak yang bermasalah atau sering melakukan tindakan buruk di sekolah berawal dari tidak hadirnya sosok orang tua dalam mendidik  mereka.

Bukan tanpa alasan, saya sudah lama mengamati bagaimana efek didikan orang tua pada anak. Terkhusus, ketika orang tua memberi contoh dan mengajak anak untuk berbuat baik. 

Sayangnya, pola interaksi orang tua bersama anak yang semakin pudar membuat sosok ayah hilang dalam identitas diri anak. Akhirnya, mereka menjalani hidup tanpa panduan bak kapal tanpa nahkoda.

Kehadiran sosok ayah sangat penting dalam memberi nilai ketegasan dan menanamkan percaya diri pada anak sejak dini. Tanpa percaya diri, anak condong lemah dan mudah dipermainkan orang.

Khususnya bagi anak laki-laki, penting bagi seorang ayah untuk memberi contoh bagaimana seharusnya lelaki bersikap, bertutur kata, dan memperlakukan wanita. 

Anak perempuan juga perlu belajar arti ketegasan dari didikan seorang ayah. Sosok ayah bagi anak perempuan memiliki makna tersendiri, bukan hanya sekedar memberi jajan, lalu diam tanpa kata. 

Jauh dari itu, tanamkan percaya diri yang kuat dalam diri anak dan katakan "anak perempuan ayah akan selalu kuat dan tegar"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Parenting Selengkapnya
Lihat Parenting Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun