Mohon tunggu...
Ahmad Indra
Ahmad Indra Mohon Tunggu... Swasta

Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini ingin itu banyak sekali

Selanjutnya

Tutup

Balap Pilihan

Rossi atau Marquez, Siapa Lebih Unggul?

4 Juli 2019   20:35 Diperbarui: 12 Juli 2019   13:19 0 1 1 Mohon Tunggu...
Rossi atau Marquez, Siapa Lebih Unggul?
Kolase Marquez - Rossi | Diolah dari motogp.com

Valentino Rossi bisa dibilang pebalap gaek yang masih bertanding di lintasan Motogp. Bagaimana tidak. Dia kini sudah berusia 40 tahun dan masih saja beradu cepat dengan para pebalap muda yang umurnya berkisar 20 hingga 30 tahunan. 

Jika ada pebalap lain yang bisa menyamai rekornya, jumlahnya tak genap dihitung dengan jari tangan. Apalagi di usianya yang sudah berkepala empat, Rossi masih mampu bertarung di lini depan meski hanya sesekali. Itupun tak murni disebabkan oleh performanya semata namun juga merupakan imbas dari performa tunggangannya.
Lihat saja Maverick Vinales yang usianya 16 tahun lebih muda. Sementara ini dia masih berada 2 tingkat di bawah Rossi di klasemen. Rossi berada di posisi 5 dengan 72 poin, lebih unggul 7 poin dari rekan setimnya itu.
Sementara itu dari angkatan muda, terpampanglah nama juara bertahan Marc "Baby Alien" Marquez. Pebalap berpaspor Spanyol itu kini menjadi lambang supremasi pabrikan berlambang sayap, Honda. 
Pemuda kelahiran 17 Pebruari 1993 itu telah menunjukkan superioritasnya sejak pertama kali menapakkan kakinya di kelas utama. Dia tercatat sebagai pengukir rekor juara dunia kelas utama termuda yakni 20 tahun 63 hari. Dia pun masih memiliki kesempatan besar untuk mempertahankan superioritas. Seperti memburu rekor Rossi yang meraih 7 kemenangan beruntun pada 1 sirkuit. Jika pada pekan depan Marquez menang di Sachsenring maka dia dapat menyamai rekor Rossi yang memenangkan 7 kali balapan di Mugello dari 2002 hingga 2008. 
Pebalap muda lain, Jorge Lorenzo yang meraih 3 gelar juara dunia Motogp bersama Yamaha, hingga kini belum menunjukkan kemajuan di atas jok Honda. 
Rossi versus MarquezMembandingkan performa Rossi dan Marquez secara apple to apple tentu bukan hal yang mungkin. Disamping karena usia yang terpaut jauh, mereka juga bukan berasal dari tim yang sama sehingga perbedaan performa motor pasti memiliki pengaruh.

Rossi vs Kenny Roberts, Jr memperebutkan mahkota juara dunia GP500 pada 2001 | Foto www.formulapassion.it
Rossi vs Kenny Roberts, Jr memperebutkan mahkota juara dunia GP500 pada 2001 | Foto www.formulapassion.it
Rossi adalah representasi dari seorang pebalap yang mampu menjadi hebat di 2 era berbeda. Era motor 2 tak dan 4 tak. Melalui tim non pabrikan, Rossi dengan bendera Nastro Azzuro Hondanya mampu merebut kembali gelar yang direnggut Suzuki pada 2000 dari tim pabrikan Honda yang digawangi oleh juara bertahan, Alex Criville.
Rossi menjadi juara dunia terakhir yang menggunakan motor 2 tak sekaligus juara dunia pertama yang mengendarai motor 4 tak. Yakni di tahun 2001 dengan NSR 500 dan 2002 dengan RC211V.
Sementara Marquez datang ke Motogp berbekal kemampuannya dalam menjinakkan mesin Moto2 yang merupakan transformasi dari GP 250. Dibekali dengan mesin 600cc 4 langkah, Moto2 merupakan penjenjangan bagi para pebalap untuk melaju ke kelas utama yang dihuni oleh motor-motor berkapasitas 1000 cc. 
Adaptasi pebalap 26 tahun itu terbilang cepat. Sebab di tahun pertamanya, dia sudah mampu merebut gelar yang lepas dari Honda karena perbuatan Jorge Lorenzo yang membesut Yamaha YZR M1 pada 2012.
Dari sini bisa dibilang Rossi dan Marquez memiliki kemampuan adaptasi yang cepat dan baik. Atau justru Rossi lebih baik karena karakter mesin 500 cc 2 tak tentu berbeda jauh dengan mesin 1000 cc 4 tak. Siapa tahu.
Sosok Pengembali SupremasiRossi datang ke Yamaha di saat mereka kehilangan momen menjadi yang terbaik sejak 1993. Wayne Rainey adalah pebalap Yamaha terakhir yang menjadi juara dunia sebelum Rossi kembali mengeklaim gelar bagi pabrikan garputala pada 2004.

Rossi menjadi juara dunia 2004 bersama Yamaha setelah 10 tahun pabrikan berlambang garputala mengalami paceklik gelar. Di tahun itu, Dani Pedrosa menjadi pemuncak di GP 250 dan Andrea Dovizioso menjadi jawara di GP 125 | Foto www.motorcycleusa.com
Rossi menjadi juara dunia 2004 bersama Yamaha setelah 10 tahun pabrikan berlambang garputala mengalami paceklik gelar. Di tahun itu, Dani Pedrosa menjadi pemuncak di GP 250 dan Andrea Dovizioso menjadi jawara di GP 125 | Foto www.motorcycleusa.com
Manajer Yamaha Factory saat itu, Davide Brivio --kini manajer Suzuki Motogp--, Masao Furusawa (Direktur Teknis pengembangan YZR M1) dan Rossi menjadi ramuan mujarab untuk mengembalikan supremasi Yamaha. Mundurnya Brivio pada 2010 dan Furusawa pada 2011 dipandang memiliki andil dalam kemunduran Yamaha. Pada kurun waktu antara 2011 hingga 2018, Yamaha hanya 2 kali menjadi pemuncak, yakni di tahun 2012 dan 2015 melalui Jorge Lorenzo.
Hingga kini pun, Yamaha masih berada di bawah bayang-bayang Honda dan Ducati, bahkan Suzuki. 
Marquez, meski berada di pabrikan elit MotoGP sejak pertama kali turun di kelas para raja, bukan berarti dengan mudah melenggang menjadi juara. Sebelumnya, Honda hanya bisa mencuri-curi kesempatan menjadi juara setelah Rossi hengkang darinya pada 2003. Tim orange hanya mampu menjadi juara saat dihuni oleh Nicky Hayden dan Casey Stoner. Hayden meraih gelar pada 2006 sementara Stoner menjadi kampiun pada 2011.
Dani Pedrosa yang selama 13 tahun menghuni tim yang disponsori raksasa pelumas Spanyol itu paling banter menduduki posisi runner up. 
Rossi dan Marquez di Mata Pebalap LainMarquez adalah pebalap yang cepat dan cerdik. Pendapat itu dilayangkan bukan oleh pebalap lain melainkan Valentino Rossi. Hal itu dikatakannya saat jelang GP Catalunya beberapa pekan lalu. Rossi menyebut Marquez selalu berupaya untuk mempelajari lawannya. Pun saat melihat pebalap Yamaha Petrona SRT, Fabio Quartararo yang cukup mengesankan. Rossi bahkan mengatakan bahwa Marquez sengaja mengalah saat kualifikasi demi kemenangan di Catalunya.
Cal Cruthlow yang menjadi andalan LCR Honda pun mengatakan hal positip mengenai Marquez. Kepada autosport.com, pebalap berkebangsaan Inggris itu menilai Marquez adalah sosok yang palibg bekerja keras di antara pebalap Honda lainnya. Sehingga tak ayal, dia adalah pemakai RC213V paling tak bermasalah di atas lintasan.

Max Biaggi, pemegang rekor juara dunia GP 250 sebanyak 4 kali yang menjadi rival bebuyutan Rossi di GP 500 hingga Motogp | Foto www.republika.com
Max Biaggi, pemegang rekor juara dunia GP 250 sebanyak 4 kali yang menjadi rival bebuyutan Rossi di GP 500 hingga Motogp | Foto www.republika.com
Mengenai Rossi, mantan pebalap semua kelas GP motor yang pernah menjadi musuh bebuyutan pemakai nomor 46 itu justru kini memujinya sebagai pebalap yang berani. Dia adalah Max Biaggi yang pernah menjadi rival Rossi semenjak GP 500 hingga era 4 tak. Pebalap berjuluk Roman Emperor itu tahun lalu bahkan sempat menyatakan bahwa Rossi masih mampu menjadi juara, kendati kenyataan berkata lain.
Legenda hidup asal Itali, Giacomo Agostini justru menyarankan Rossi untuk segera pensiun. Dia beralasan bahwa akan sangat sulit bagi seorang juara yang tak menemukan lagi kemenangan. Bercermin pada yang dialaminya, Ago berpendapat Rossi akan mengalami trauma psikis jika terus memaksanakan diri untuk mencapai kemenangan. 
So, siapa yang lebih baik, Rossi ataukah Marquez?
Bagi para penggemar Valentino Rossi, bagaimanapun kondisinya, Rossi masih yang terbaik. Demikian pula bagi para fans Marquez, tentu menganggap sang spaniard yang terbaik.
Namun bagi penggemar Motogp, keduanya adalah pebalap terbaik.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x