Mohon tunggu...
Mas Imam
Mas Imam Mohon Tunggu... Karyawan Swasta -

..ketika HATI bersuara dan RASA menuliskannya..

Selanjutnya

Tutup

Vox Pop Artikel Utama

Sangat Berharap Hujan, Lupa Bersiap Banjir

2 November 2015   05:13 Diperbarui: 12 April 2016   15:36 2220
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.


".. 5 jenis kejadian bencana dengan frekuensi tertinggi di tahun 2014 adalah banjir (88 kejadian ; 19%). Biaya kerugiaan akibat banjir juga tidak tanggung-tanggung, Jakarta saja, tahun 2014 kerugian ditaksir 5 triliun, sedangkan tahun 2013 7,5 triliun!"

_____________________________

Dapat dikatakan semua warga negara Indonesia kini semua merindu hujan. Doa dan berbagai upaya terus dilakukan berharap hujan segera turun mengakhiri musim kemarau. Maklum, kemarau tahun 2015 ini terbilang sangat panjang, diprediksi hingga penghujung tahun. Dampak dimunculkan dari kemarau panjang juga sudah melebar di berbagai bidang, dan meluas mereta di berbagai daerah. Jika musim penghujan tiba maka pasokan air akan melimpah, tentu akan meniadakan masalah-masalah yang ditimbulkan kekeringan tersebut.

Namun, apakah dengan datangnya musim penghujan menyelesaikan semua masalah? Jelas tidak. Akan datang masalah baru yang mengiringi. Masalah yang mengancam itu adalah bencana banjir. Lantas apakah selama ini kita telah berusaha mencegah, setidaknya telah bersiap untuk menanganinya? 

---

Ketika bencana kekeringan dan asap melanda, semua energi bangsa ini bergerak satu ke masalah tersebut. Belum terdengar berita yang mengabarkan kesungguhan dalam antisipasi banjir. Padahal menurut data (frame dampak terhadap kesehatan), 5 jenis kejadian bencana dengan frekuensi tertinggi di tahun 2014 adalah banjir (88 kejadian ; 19%). Biaya kerugiaan akibat banjir juga tidak tanggung-tanggung, hanya sebatas Jakarta saja, tahun 2014 kerugian ditaksir 5 triliun, sedangkan tahun 2013 7,5 triliun!. Jika mampu ditanggulangi dengan baik tentu akan mendatangkan 'keuntungan potensial' yang luar biasa besar.

Penanganan banjir melibatkan banyak sektor, dan harus dilihat secara utuh sebagai sebuah rangkaian panjang. Mulai dari  pencegahan banjir, kesiapan dan kesigapan kala banjir terjadi, dan upaya perbaikan pasca bencana banjir. Beberapa lembaga pemerintah sudah bergerak mempersiapakan datangnya musim penghujan atau banjir, namun jelas terlihat apa yang dilakukan masih berjalan sendiri-sendiri. Langkah-langkah persiapan menghadapi banjir masih berbeda tersekat dalam kotak-kotak daerah masing-masing dan bidang masing-masing. Jelas, hal tersebut tidak optimal hasilnya kelak.

Pemerintah semestinya sudah mulai maju kedepan untuk memangku komando instruksi langkah-langkah bersama. Semisal yang mudah dilihat, perbaikan saluran resapan atau buang  (sungai) mulai diberi perhatian untuk pembersihannya, jika sudah maka dapat dipercepat penyelesaiannya. Kekuatan tanggul-tanggul sungai tidak boleh ditinggalkan untuk diperiksa. Pohon-pohon yang berpotensi rubuh terkena angin ribut segera dipangkas, kabel-kabel listrik yang kurang tertatat dan mengancam keselamatan juga secepatnya dibereskan. Aparatur atau Tim-tim Khusus penanganan banjir sudah waktunya dikumpulkan dan merapatkan barisan. Antisipasi hunian-hunian pengungsi banjir dan perencanaan dapur umum alangkah baik jika sudah dipersiapkan, karena bencana banjir adalah keniscayaan yang sulit untuk tidak sama sekali terjadi melihat kondisi yang sekarang ada. Pemerintah tentu lebih tahu langkah lain yang bisa dipersiapka jauh-jauh hari.   

Demikian pula masyarakat, dalam lingkup yang lebih sempit, juga sudah dapat memulai langkah persiapan banjir. Dapat memulai dengan memastikan lahan resapan pada rumah atau kampung masing-masing dalam kondisi terbuka, saluran-saluran got dibersihkan guna lebih menjamin luapan air hujan mengalir lancar, koordinasi-rapat di level RT/RW/Kampung tentu akan lebih menguatkan persiapan antisipasi maupun kekompakan langkah ketika banjir benar terjadi, dsb.

----

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Vox Pop Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun