Mas Gagah
Mas Gagah

Lecturer, Reseacher, Writer, and Runner Pernah Sinau di Magister Kajian Budaya, Media, dan Islam (UIN Ciputat) https://dosenbaper.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ruang Digital dan Terkikisnya Budaya Timur Beradab Menjadi Tak Beradab

7 Juli 2018   17:05 Diperbarui: 7 Juli 2018   19:04 370 1 0
Ruang Digital dan Terkikisnya Budaya Timur Beradab Menjadi Tak Beradab
http://pontianak.tribunnews.com

Masuk dalam ruang serba digital, tentu memiliki berbagai kemudahan. Meskipun ada beberapa tata nilai sosial yang hilang. Ruang media digital memungkinkan semua orang berinteraksi secara daring. Masalahnya kemudian menjadi rumit dan pelik ketika interaksi sosial yang seharusnya dilakukan secara luring (luar jaringan) terpaksa menjadi daring (dalam jaringan).

Benar bahwa hidup era digital memberikan banyak keuntungan, tetapi tetap saja ada banyak kerugian jika kita tidak bijaksana memanfaatkan ruang digital. Budaya yang dikonstruksi oleh ruang digital memungkinkan dua efek yaitu positif dan negatif. Pada tulisan ini saya menggunakan paradigma kritikal untuk menggugat pergeseran nilai sosial budaya yang disebabkan oleh konstruksi makna di ruang-ruang digital.

"Saya dibodohi oleh google map mas..."

Salah seorang mahasiswa berujar pada saya sebuah pagi. Wajahnya nampak penuh kekecewaan. Tapi ia tidak tahu harus marah pada siapa.  Ia hendak bertemu saya di sebuah kampus untuk menyelesaikan tugas akhirnya. Sebab belum pernah ke tempat ini, ia memilih naik motor dengan menggunakan google map.

Ia menuruti begitu saja apa yang dilihat pada google map. Ke tempat saya seharusnya tidak lebih dari satu jam jika mengetahui jalannya. Sebab, goolge map salah memberikan informasi, maka sang mahasiswa itu berputar-putar ke jalan yang jauh. Alhasil jadi terlambat menemui saya.

Apa yang hilang dengan peta digital dan android mahasiswa pada kasus ini?

Interaksi sosial dengan manusia itulah yang hilang. Saling sapa dalam ranah sosial dunia nyata kini digantikan oleh google map. Pergi kemanapun tempat, orang lebih mengandalkan bertanya pada peta digital. Semua serba mudah dan sangat instan, tetapi dampaknya ialah interaksi sosial yang mati.

Saat saya kecil belum ada peta digital, jika pergi jauh dan tersesat, maka harus bertanya pada orang lain. Mau tidak mau harus menyapa orang dengan segala interaksinya untuk bertanya alamat. Sebab bertemu orang itulah kita harus menjaga sopan santun. Dan, kita harus berkata dengan lembah lembut dan dengan suara penuh penghormatan. 

Dengan menyapa dan bertemu orang lain itulah interaksi sosial kita dengan orang baru menjadi penuh makna dan sangat mengasyikkan. Saat inilah kondisi tersebut digantikan oleh mesin digital. Amat jarang kita bertanya sapa pada orang lain saat bepergian. Maka telah hilang budaya sopan santun yang selama ini kita junjung tinggi di masyarakat.

Contoh lain misalnya di dunia pendidikan. Internet memungkinkan penyebaran berbagai informasi audio dan video maupun buku digital. Saat membantu mahasiswa mengerjakan skripsi sering saya temukan mereka hanya sekedar copy paste dari internet. Mahasiswa yang mau membaca dari buku-buku teks yang tebal. Untuk menyelesaikan skripsi mereka hanya tinggal klik dan pindahkan dengan copi paste.

Budaya literasi ini kemudian digantikan oleh budaya copy paste dari internet. Budaya kejujuran dalam karya ilmiah akhirnya hilang digantikan dengan kemudahan menyontek dari buku digital. Jadilah kita orang-orang yang hidup dengan cara instan yang miskin nilai kerja keras.

Kita berbeda dengan orang-orang terdahulu yang harus menulis dengan menggunakan mesin ketik manual. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana orang dahulu misalnya yang hidup pada tahun 1930, mereka mampu menulis hingga ratusan hingga ribuan halaman buku. Bagaimana usaha mereka membaca berjilid-jilid buku, sebab waktu itu tidak ada buku digital. Bahkan mungkin saat itu bahan bacaan sangat terbatas, tidak ada perpustakaan digital seperti sekarang ini.

Budaya mereka itu dapat disebut dengan budaya orang-orang cerdas dan pekerja keras. Setelah membaca berjlid-jilid buku, kemudian mereka harus mengetik dengan mesin ketik manual. Begitu susahnya mereka meskipun hanya untuk menghasilan satu hingga tiga paragraf tulisan.

Lebih jauh lagi, bagiamana orang-orang dahulu menulis dengan tinta dan bulu burung. Jaman itu pun belum ada lembaran buku-buku seperti sekarang. Mereka menulis dalam batu-batu, lembaran kulit, di batu, pelepah kurma dan lain-lain. Budaya literasi mereka menghasilkan jilid-jilid ilm pengetahuan yang kita nikmati saat ini.

Mari kita bandingkan dengan budaya literasi dan budaya tulis saat ini. Sudah ada internet, sudah ada laptop, sudah ada buku-buku digital, tetapi apakah kita bisa menyamai orang-orang terdahulu yang hidup tanpa internet?

Untuk  sekedar menulis skripsi enam puluh halaman saja, kita seperti tertimpa beban sangat berat. Maka, saat media digital ini ada, kita justru miskin makna. Kita tidak belum menghasilkan apapun untuk membangun bangsa ini. Kita hanya menjadi orang yang gandrung dengan media sosial digital.

Tertawa lepas kemudian di upload di youtube, agar orang melihat kita. Konstruksi makna di ruang digital itu menjadikan kita hilang budaya malu. Meminta follower yang jumlahnya ribuan, tapi kita miskin makna hidup. Nilai sosial budaya kita telah bergeser begitu jauh. Budaya sosial yang merupakan representasi orang Timur beradab digantikan budaya Barat kapitalistik yang tak beradab.