Mohon tunggu...
Fathan Muhammad Taufiq
Fathan Muhammad Taufiq Mohon Tunggu... Administrasi - PNS yang punya hobi menulis

Pengabdi petani di Dataran Tinggi Gayo, peminat bidang Pertanian, Ketahanan Pangan dan Agroklimatologi

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

Akhirnya Kuputuskan Menjatuhkan "Talak Tiga" Untuknya

19 November 2020   13:40 Diperbarui: 21 November 2020   18:30 631
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar 2, Rokok adalah keseharianku dimanapun dan apapaun aktifitasku (Doc. FMT)

Seiring dengan waktu, penghasilanku sebagai PNS juga mulai meningkat sedikit demi sedikit, apalagi kemudian isteriku juga menyusul diangkat menjadi PNS, membuatku lebih leluasa untuk mengatur belanja rokokku.

Akibatnya, sehari aku bisa menghabiskan 2 sampai 3 bungkus rokok, dan seperti sangat sulit untuk mencegah mulut ini agar tidak dijejali asap bernikotin ini.

Pakaianku sampe bolong-bolong terkena percikan api rokok, dan meja kerjaku sering penuh dengan puntung rokok, begitu juga di rumah, nyaris tidak pernah kosong asbak yang kesediakan di meja.

Meski isteriku sering mengingatkanku tentang bahaya meroko, apalagi di dalam rumah, namun 'warning' itu nyaris tidak pernah ku gubris. Toh belanja rumah tanggaku tidak pernah terganggu, begitu prinsipku waktu itu, karena selain gaji, aku juga sering mendapat honor dari media yang memuat tulisanku, karena memang sejak diangkat jadi PNS, aku mulai eksis menulis di media, terutama di media pemerintah.

Terkadang aku juga kerja sampingan melayani pembuatan spanduk kain, dan sering mendapat order membuat spanduk dari kawan-kawan dari instansi lain, karena waktu itu masih serba manual, dan butuh keterampilan tertentu untuk bisa membuat spanduk, belum ada mesin digital printing seperti saat ini.

Hasilnya lumayan lah, bisa mem'back up" kecanduan rokokku tanpa mengganggu belanja rumah untuk anak istri. Terkait dengan aktifitas menulis, waktu itu akau malah sampai punya semboyan 'nggak bisa nulis kalo nggak merokok', belakangan akau menyadari, bahwa inspirasi menulis sama sekali nggak ada hubungannya sama rokok.

Pernah aku mencoba untuk berhenti merokok, tapi paling hanya bisa bertahan selama sebulan, dan selanjutnya malah makin 'parah' kecanduanku. Banyak teman-teman yang kemudian memutuskan berhenti merokok setelah dilarang oleh dokter, karena pernah dirawat akibat penyakit dalam yang lumayan parah.

Tapi Alhamdulillah, sangat jarang aku mengalami sakit yang sampe ke dokter atau rumah sakit, paling-paling Cuma ke mantri atau Puskesmas karena penyakit ringan seperti masuk angin, flu atau batuk. Mungkin inilah yang menyebabkan aku tetap merasa nyaman dan aman untuk terus menjadi pengisap nikotin ini.

Tapi mungkin sudah menjadi hukum alam, seperti rumus kimia, reaksi apapun akan mengalami titik jenuh pada masanya. Begitu juga yang terjadi pada diriku, sudah lebih 35 tahun dalam belenggu nikotin yang menjeratku, akhirnya aku pada keputusan untuk berhenti merokok.

Awalnya kau mengira ini sebuah keputusan yang sulit, tapi ternyata tidak, padahal sebelumnya aku sudah nyaris 'tidak bisa hidup tanpa rokok' Aku sendiri membayangkan, aku dihantui kegelisahan luar biasa saat jariku tidak lagi menjepit sebatang rokok, menyelipkan di bibir  dan mulutku tidak mengepulkan asap lagi.

Pengalaman sebelumnya yang sudah membuktikan bahwa aku memang tidak memapu menghentikan aktifitas merokokku, membuat ada semacam ganjalan psikis untuk mengambil keputusan ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun