Mohon tunggu...
Siti Marwanah
Siti Marwanah Mohon Tunggu... "Abadikan hidup melalui untaian kata dalam goresan pena"

"Tulislah apa yang anda kerjakan dan kerjakan apa yang tertulis"

Selanjutnya

Tutup

Novel

Rasa (21) Gejolak

22 Januari 2021   16:40 Diperbarui: 22 Januari 2021   16:46 69 3 0 Mohon Tunggu...

Kring...kring...kring
Dering panggilan masuk dari ponselnya membuat Aisyah terjaga dari tidur siang. Diraihnya gawai yang tergeletak di kasur. Tidak ada nama tertera, hanya deretan nomer asing yang masuk. Merasa tidak mengenal nomer tersebut dia membiarkan ponsel itu terus berdering hingga panggilan itu terhenti. Tidak berapa lama gawai itu kembali berbunyi, ternyata nomer yang sama memanggil lagi.
Setengah enggan Aisyah menerima panggilan itu.
"Hallo," Terdengar suara seorang laki-laki. Setelah mengucapkan salam. Pria itu langsung membuka percakapan.
"Apakah benar ini nomer saudara Aisyah Larasati?" Pertanyaan terlontar dari seberang sana.
"Ya betul!" Ini siapa?" Tanya Aisyah balik Dengan suara sedikit parau, maklum baru bangun tidur.
"Fadli!"

Jantung Aisyah berdetak kencang, napasnya tertahan, suaranya terasa tersekat di kerongkongan, dia tidak bisa berbicara saat dia tahu lelaki yang menelpon adalah pria yang sedang bermain di benaknya dari tadi.
Dia menarik napas panjang berusaha menguasai diri.
"Hallo," suara Fadli menyadarkan Aisyah dari ketegangan yang dia rasakan.
Hallo, pak dokter," jawab Aisyah dengan nada kaget. " Darimana pak dokter tahu nomor saya?"
Tanpa menjawab pertanyaan Aisyah, Fadli balik bertanya.
"Bagaimana keadaan kakimu, apakah masih terasa nyeri?"
"Alhamdulillah, sudah lumayan membaik walau masih terasa nyeri." Ucap dengan nada bergetar.
"Kapan pak dokter ada waktu, ada yang ingin saya bicarakan," ajak Aisyah.

Fadli tidak membuang kesempatan atas ajakan Aisyah, dia langsung mengatakan "Bagaimana kalau sekarang, sekalian saya ingin melihat kondisi kakimu. Biar saya yang ke rumahmu, kamu kirim saja alamatnya. lewat whatshapp.
Belum sempat Aisyah menolak, namun ponsel sudah dimatikan. Akhirnya dengan berat hati dia mengirim alamat bengkel sang bapak agar lebih mudah ditemukan.

Disambarnya handuk yang tergantung di tali, dia langsung menuju kamar mandi. Dia ingin terlihat fress di depan Fadli saat dia datang.
Aisyah mematutkan diri di depan cermin yang tergantung di tembok kamar. Gamis hijau muda bermotif ceria menambah kesegaran di wajah gadis dengan polesan make up seadanya.

Mobil Jazz metalik langsung melaju di jalanan yang padat menuju alamat yang tertera di ponsel. Tidak sulit mencari alamat tersebut karena berada di jalan utama. Fadli memarkir mobilnya sedikit menjauh dari bengkel yang dicari. Dia berjalan menghampiri dan terdengar seseorang memanggil namanya.
"Pak dokter, mau kemana, mungkin saya bisa bantu.?" Suara lelaki tua langsung bangkit dari duduknya, begitu melihat pria berpenampilan rapi berjalan ke arahnya.
"Bukannya bapak, orang tua dari Aisyah?" Tanya Fadli memastikan ingatannya.
"Betul, saya pak Sukri, bapaknya Aisyah yang pak dokter rawat dulu," jawab lelaki itu sembari membungkuk dan menyilangkan kedua tangannya sejajar dengan lutut.

Lelaki berpenampikan rapi itu pun menyampaikan maksudnya untuk bertemu Aisyah. Setelah minta ijin kepada pelanggan pak Sukri mengantar Fadli ke rumahnya yang tidak terlalu jauh. Mereka pun berjalan beriringan, sesekali terdengar percakapan antara keduanya.
"Ais, ada tamu yang mencarimu, panggil lelaki paruh baya itu setelah dia sampai di depan rumahnya. Setelah mempersilahkan tamunya duduk, Pria tua berambut putih itu pun berlalu mencari putri sulungnya di dalam.

Pandangannya di arahkan ke sekeliling rumah sederhana ini. Ada rasa haru berkecamuk di batin Fadli melihat rumah gadis yang diimpikan selama ini. Tidak pernah terbayang dan terbersit dalam pikirannya kondisi tempat tinggal keluarga ini yang seadanya.

Fadli langsung berdiri saat melihat Aisyah berjalan dengan kaki tertatih keluar sembari membawa nampan yang berisi dua gelas teh ingin membantu namun dengan lembut gadis itu menolak
"Tidak apa-apa silahkan duduk," ucapnya sambil meletakkan cangkir di depan Fadli.
Mereka duduk berhadapan.
"Silahkan di minum, maaf hanya ada teh!" Suara gadis itu kembali merendah.
Saat keduanya sedang asyik berbicara, Pak Sukri pamit kepada tamunya untuk melanjutkan pekerjaannya di bengkel.

"Katanya ada yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Fadli mengingatkan Aisyah.
"Oh, ya. Ada hal yang ingin saya tanyakan. Sejak keluar dari rumah sakit ada satu hal yang mengganggu pikiran saya. Waktu itu saya langsung mencari tahu namun hasilnya nihil. Hingga akhirnya jawabannya saya dapatkan hari ini."
Tampak wajah Fadli kebingungan belum bisa menebak arah pembicaraan Aisyah, namun dia tidak ingi menyela maupun memotong pembicaraan. Dia tetap diam mendengar penuturan gadis yang duduk di depannya.
"Satu hal yang saya harapkan dari pak dokter yaitu kejujuran." Ucap Aisyah penuh penegasan.

Gadis itu mengeluarkan beberapa kertas dari saku gamisnya dan memperlihatkannya kepada Fadli.
"Bukankah ini tanda tangan pak dokter yang ada di surat keterangan istirahat yang saya minta beberapa hari yang lalu?"
"Ya, betul," jawab Fadli disertai anggukan.
Aisyah kembali membuka kertas yang satunya lagi.
"Silahkan pak dokter amati kedua tanda tangan yang ada di depan pak dokter, bukankah itu sama?" Sembari memberi kode dengan jarinya.

Lelaki itu sudah bisa menebak arah pembicaraan  Aisyah. Dia sempat melihat nominal uang di kertas kedua yang disodorkan Aisyah. Bibirnya bisu tidak tahu apa yang harus diucapkan, rasa bersalah menggeroti hatinya.
"Apakah pak dokter yang membayar biaya rumah sakit saya, dan apa alasannya?" Tanya Aisyah dengan nada kecewa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x