Mohon tunggu...
FX Aris Wahyu Prasetyo Saris
FX Aris Wahyu Prasetyo Saris Mohon Tunggu... Penulis - Menikmati menulis dan membaca dalam bertualang makna kehidupan menuju kebijaksanaan abadi.

Penulis, Pembaca, Petualang, dan Pencari Makna.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Merdeka Belajar: Belajar Edupreneurship, Membangun Habitus Baik

30 November 2022   09:45 Diperbarui: 30 November 2022   10:00 144
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Illustrasi. www.universitas123.com

Para miliarder tidak suka menunda pekerjaan, tapi orang biasa selalu mengerjakan banyak hal sehingga sering menunda pekerjaan.

Leo Babauta, penulis Zen Habits mensinyalir bahwa kebiasaan menunda pekerjaan sebagian besar lahir dari rasa takut. Rasa takut tersebut bisa beraneka ragam turunannya, seperti takut hasil pekerjaan tidak cukup baik, takut karena merasa diri bukan orang yang tepat untuk mengerjakan suatu pekerjaan, takut karena merasa tidak mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang memadai, dan masih banyak ketakutan lain yang pada akhirnya mendorong orang untuk menunda pekerjaan.

Pendidikan sejati sudah pasti mengarah pada pembentukan kebiasaan (habit) baik yang dilakukan terus-menerus dan berkesinambungan. Anak-anak mulai datang ke sekolah, belajar, dan akhirnya kembali ke rumah merupakan sebuah proses pembiasaan yang membentuk karakter mereka menjadi anak-anak yang bermanfaat dan berdaya guna ampuh untuk diri dan sesama. Berbagai terobosan pendidikan sudah selayak dan sepantasnya diusahakan terus-menerus sesuai perkembangan anak dan zaman sehingga pendidikan tidak ketinggalan zaman.

Membangun habitus baik dalam dunia pendidikan adalah kewajiban yang harus terinternalisasi dalam setiap pemangku kebijakan dan pendidik. Memanusiakan manusia sebagai tujuan utama pendidikan sejatinya menuntut setiap manusia yang ada di dalamnya siap untuk belajar dan belajar setiap saat dari segala sumber belajar yang ada. Pendidikan seharusnya dinamis, tidak statis apalagi jatuh pada stagnasi pendidikan yang hanya mengandalkan nama besar atau masa lalu. Pendidikan dengan semangat edupreneurship sejatinya selalu militan dan sinergis dalam mengusahakan keluhuran dan kebajikan dalam komunitas pendidikan.

Sebuah fakta keseharian, penelitian yang dilakukan oleh Dr. James Roberts dari Baylor's Hankamer School of Business, Amerika Serikat, menemukan bahwa rata-rata orang membuka handphone sebanyak 60 kali setiap harinya. Begitu banyak waktu yang digunakan oleh setiap orang untuk sibuk dengan handphonenya. Celakanya, seringkali banyak orang membuka handphone bukan untuk hal-hal yang utama dan penting, namun sekadar cek status, buka medsos, browsing, game, dan banyak lagi aktivitas yang seringkali membuat pekerjaan utama tertunda.  

Pembiasaan dalam habitus baik di sekolah dan keluarga menjadi pondasi yang ampuh dalam menuntut orang bijak dalam segala aktivitasnya, mampu membuat priorotas dalam hidup. Proses pembelajaran di sekolah diarahkan pada esensi belajar yang kontekstual dan reflektif, bukan beban belajar yang begitu banyak dan menyita banyak waktu. Segala kegiatan di sekolah juga terarah pada pengolahan pribadi yang holistik, yang mencakup pengembangan akal, hati, dan komitmen baik. Tradisi-tradisi di sekolah diolah untuk pembiasaan dan pengolahan semangat belajar yang evaluatif dan reflektif sehingga setiap pribadi mampu menemukan makna, bukan sekadar melakukan rutinitas dari masa ke masa. Dan, keluarga pun menjadi mitra belajar yang sinergis dalam menumbuhkan, mengembangkan, dan menginternalisasikan segala nilai-nilai baik untuk pembentukan karakter.

Akhirnya, pendidikan dengan semangat edupreneurship memberikan kesempatan dan kekuatan bagi dunia pendidikan dan keluarga dalam mengusahakan kualitas pendidikan bagi anak-anak melalui pembiasaan habitus baik. Membangun habitus menjadi senjata ampuh dalam menjalani hidup dengan segala rintangan dan tantangannya. Habitus baik yang kuat menjadikan pribadi kokoh dalam mengusahakan segala tujuan hidup dengan kreatif, inovatif, dan reflektif. Habitus baik harus segera dimulai sekarang, saat ini dan di sini.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun