Mohon tunggu...
Maria G Soemitro
Maria G Soemitro Mohon Tunggu... Ibu 4 anak, pelaku zero waste lifestyle

Kompasianer of The Year 2012; Founder #KaisaIndonesia; Member #DPKLTS ; #BJBS (Bandung Juara Bebas Sampah) http://www.maria-g-soemitro.com/

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Kisah Lain Buku Jokowi

5 Oktober 2013   21:27 Diperbarui: 24 Juni 2015   06:56 294 11 16 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kisah Lain Buku Jokowi
13809815141852860091

siap promosi buku (dok. Maria G)

“Selamat mama!! Hebat:D” demikian isi SMS balasan dari Abey, anak bungsu saya, sesaat setelah mengirim kabar gembira bahwa dua tulisan mamanya diterbitkan dalam buku kumpulan tulisan Kompasianer Jokowi (Bukan) Untuk Presiden. Abey dan saya memang biasa berkirim kabar lewat SMS karena dia tinggal di Bandung sedangkan saya di Pekalongan. Berkirim SMS membantu kami bercerita panjang lebar tanpa mengganggu kegiatannya yang padat.

[caption id="attachment_366437" align="aligncenter" width="456" caption="sms-an dengan anak tersayang (dok. Maria G. Soemitro)"]

14132956051928538197
14132956051928538197
[/caption]

Rasanya terbang ke langit ketujuh membaca pujian anak perempuan saya satu-satunya yang tentu saja paling cantik sedunia tersebut. Bukan karena selama ini dia pelit memuji, oh tanpa terucappun saya tahu bahwa setiap dia membawa macaroni schotel mamanya, dia memuji diam-diam. Iyalah jika masakan tersebut keasinan atau gosong, pastinya dia tidak mau memamerkannya di depan teman-teman. Malu pastinya.

Tapi ketika anak-anak dan suami memuji masakan, saya berpendapat bahwa sudah seharusnya seorang ibu/istri memasak sebaik mungkin. Menyiapkan masakan adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar. Ibu/istri wajib memperhatikan nutrisi keluarganya. Seperti kewajiban suami/ayah memenuhi nafkah bagi keluarganya. Pujian bagi kewajiban merupakan bonus bagi kesungguhan melaksanakan kewajiban tersebut.

Beda halnya dengan pujian kali ini. Pujian saya dapat setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang. Sementara anak PAUD yang baru melek huruf dengan lancarnya bisa mengendalikan cursor, saya harus mengalahkan ‘kegagapan teknologi’. Belajar membuat tulisan, mempostingnya, membaca berulang kali, mengedit, membacanya lagi hingga dirasa ‘cukup’.

Bisa menulis adalah cita-cita saya sejak duduk di sekolah dasar. Semenjak melek buku, berimajinasi dan berusaha menuangkannya kata demi kata. Bukan tanpa sebab saya memilih bergabung dengan Kompasiana. Karena disini serasa sudah menjadi penulis ‘resmi’mengingat ribuan orang akan membaca tulisan kita. Saya membandingkannya dengan menulis di blog pribadi yang hanya dikunjungi 1 atau 2 pembaca. Atau mengirimkannya ke media cetak yang mungkin harus mengalami puluhan atau bahkan ratusan tulisan yang ditolak. Terlebih tulisan saya umumnya tidak sexy, hanya menulis seputar lingkungan dan kegiatan sehari-hari.

Ketika bulan Februari 2013 pengelola Kompasiana menawarkan kepada para Kompasaner untuk mengirimkan tulisan bertemakan pak Jokowi, gubernur DKI Jakarta yang baru terpilih dan menjadi media darling, tanpa tanya saya langsung mengirimkan beberapa tulisan.

Jika ada tulisan yang terpilih, itu merupakan prestasi baru. Ibarat naik kelas sesudah bertahun-tahun menulis dengan nyaman di dalam ‘rumah’ Kompasiana, menerbitkan sebuah buku adalah impian. Dan impian itu bisa diraih dengan berbagai cara, menerbitkan sendiri dengan risiko gagal. Tidak balik modal/rugi atau sebaliknya.

Saya memilih cara aman yaitu menjalaninya langkah demi langkah. Seperti awal mula menulis. Tidak ada yang mengenal. Banyak tulisan saya yang minim pembaca, minim komentar dan minim penilai. Sehingga, jika kini saya ‘berani’menerbitkan buku, kemungkinan besar tidak laku dan tidak balik modal karena saya belum memiliki branding. Terlebih saya baru saja mengubah nama pena saya.

Karena itu betapa bahagianya saya ketika mendapat hadiah pujian dari Abey: ‘Selamat mama. Hebat!!! …… Dia tahu, saya bukan satu-satunya penulis di buku Jokowi (Bukan) Untuk Presiden, tapi dia juga tahu bahwa 2 tulisan saya tersebut hasil lolos seleksi ketat dari ratusan atau mungkin ribuan tulisan lainnya. Dan dia juga tahu bahwa buku antologi ini merupakan awal yang mendorong mamanya untuk menulis lebih baik.

Ada banyak kesan, ada banyak pendapat/komentar kompasianer yang tulisannya terpilih dalam buku Jokowi (Bukan) Untuk Presiden maupun yang tidak. Semua pendapat dan komentar sah-sah saja. Tetapi saya sangat keberatan ketika kompasianer Johan Wahyudi berpendapat bahwa tulisan kompasianer yang terpilih adalah tulisan usang, seolah tidak layak diabaca.

Karena setiap menulis selalu saya lakukan dengan sungguh-sungguh. Berdasarkan data dan fakta, jika perlu menyertakan foto sebagai bukti bahwa isi tulisan saya bisa dipertanggungjawabkan. Saya juga berusaha menulis yang memiliki nilai inspiratif dan atau manfaat.

Seperti tulisan Jokowi tentang banjir dan rusun kampung deret, merupakan tulisan hasil wawancara dengan para pakar tata ruang dan lingkungan, googling di internet dan mengaitkannya dengan permasalahan yang sama di kota urban, Bandung. Kedua tulisan terse but mungkin masih akan relevan hingga 10 – 20 tahun kemudian mengingat crowded-nya permasalahan di kota metropolitan. Bahkan tidak berlebihan jika saya meragukan Jokowi bisa menguraikan permasalahan sesudah 2 periode masa jabatan sebagai Gubernur DKI Jakarta. Berlebihan? Sama sekali tidak, jika anda terbiasa blusukan maka akan paham betapa kompleksnya permasalahan yang dihadapi Jokowi.

Akhirul kata, saya sangat berterimakasih pada pengelola Kompasiana karena tulisan yang saya buat dengan serius dan penuh dedikasi tersebut terpilih untuk dibukukan bersama puluhan tulisan hebat lainnya. Terimakasih juga karena mengantarkan saya kekelas baru, dunia baru dimana dengan bangga saya bisa mengatakan: “Di buku Jokowi (Bukan) Untuk Presiden ada 2 tulisan saya lho.” Terlebih berkat buku ini, anak bungsu saya memuji: “Selamat mama. Hebatt!!! Aduh, tak terasa air mata mengalir.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x