Mohon tunggu...
Marcello Dinesh Asyela
Marcello Dinesh Asyela Mohon Tunggu... Pelajar Sekolah - Pelajar

Hobi menulis

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud Pilihan

Warisan Budaya Patriarki

21 Mei 2024   03:55 Diperbarui: 21 Mei 2024   04:03 506
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Pengertian

‘Patriarki’ pada awalnya merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut keluarga yang  segala otoritasnya dipegang oleh laki-laki. Sekarang patriarki secara general diartikan sebagai sistem yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang peran utama (mendominasi) dalam setiap aspek kehidupan di masyarakat. 

Indonesia merupakan negara yang dapat dikatakan cukup lekat dengan praktik budaya patriarki. Budaya tersebut sudah secara turun temurun diwariskan yang tersiratkan melalui tradisi budaya yang mengandung nilai-nilai  dominasi laki-laki. 

Seperti contohnya budaya Batak Toba yang menempatkan istri sebagai subordinasi di bawah suami. Dalam setiap acara kekeluargaan saudara perempuan seringkali ditempatkan di bagian dapur sebagai pelayan. Tidak hanya pada suku batak toba, masih banyak suku lain yang melakukan praktek patriarki seperti yang telah disebutkan. 

Asal Mula

Munculnya budaya patriarki bisa kita temukan dalam pembelajaran sejarah di sekolah. Tepatnya di masa peperangan masih menjadi hal yang lazim. Dalam sejarah untuk mendapatkan kekuasaan, otoritas, dan kontrol, kekerasan seolah-olah diizinkan. Hingga pada saat itu laki-laki disimbolkan sebagai pahlawan atas keberhasilannya dalam menguasai  ini dan itu. 

Masih dalam konteks sejarah, berbeda dengan masa sekarang pada masa zaman awal peradaban manusia pekerjaan fisik lebih mendominasi seperti berburu, membangun tempat tinggal, dan mengumpulkan makanan. Sehingga otomatis peran laki-laki akan lebih mendominasi karena secara biologis laki-laki memiliki kapabilitas secara fisik yang lebih kuat dibandingkan perempuan. Sedangkan perempuan ditempatkan untuk menjaga tempat tinggal dan mengurus anak. Budaya tersebut berkembang hingga menjadi sistem dan ideologi. 

Masalah yang Timbul

Memang budaya dan praktek patriarki bila ditelaah dari pengertiannya bukanlah sesuatu yang mengancam keberlangsungan hidup masyarakat. Jadi, apakah perlu dientaskan? Jawabannya adalah YA. Budaya patriarki menjadi masalah karena merambat pada kekerasan dan domestikasi yang berbasis pada gender. 

Kekerasan dan Pelecehan Seksual

Kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan berakar dari stigma bahwa laki-laki sebagai pihak dominan sementara perempuan hanya sebagai subordinasi dari laki-laki. Hal ini menyebabkan perempuan dianggap sebagai individu yang lemah dan ‘wajib’ patuh pada laki-laki. 

Pada akhirnya laki-laki atas dasar emosional dan hawa nafsu menggunakan ‘otoritas’-nya untuk mengeksploitasi perempuan. Ditambah perempuan tidak memiliki kekuatan untuk melawan karena seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa secara biologis laki-laki memiliki kapasitas fisik yang lebih dibanding perempuan. Hal tersebut menambah kesempatan seorang laki-laki untuk melakukan tindak kekerasan tanpa perlawanan dari perempuan. Sangat kejam bukan?

Tidak berhenti sampai disitu perempuan sering menjadi korban pemaksaan kontrasepsi, sterilisasi, dan perkawinan oleh sebab fungsi reproduksi pada perempuan. 

Pada era modern ini pelecehan seksual juga terformasi dari ujaran-ujaran dalam kolom komentar pada sosial media yang seringkali kita temukan. Coba saja teman-teman bandingkan isi kolom komentar influencer perempuan dan laki-laki. Berbeda?

Stereotip Gender

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun