Mohon tunggu...
Roni Ramlan
Roni Ramlan Mohon Tunggu... Freelancer, Guru - Pembelajar bahasa kehidupan

Pemilik nama pena Dewar alhafiz ini adalah perantau di tanah orang. Silakan nikmati pula coretannya di https://dewaralhafiz.blogspot.com dan https://artikula.id/dewar/enam-hal-yang-tidak-harus-diumbar-di-media-sosial/.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Yang Untung Kala Musim Hujan Telah Tiba

28 September 2020   22:20 Diperbarui: 28 September 2020   22:39 178
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Curah hujan tepat di sepuluh hari penghujung bulan September ini menandakan musim penghujan telah tiba. Satu musim yang sejak lama sudah tidak menentu kehadirannya. Pergantian di antara musim yang kian tidak jelas pembagiannya.

Meski tidak karuan, kehadiran musim penghujan ini secara pasti disambut suka cita oleh semua orang, terlebih lagi setiap personal dapat merasakan dampaknya. Entah itu para petani, pedagang, pegawai kantoran, pelajar dan profesi lainnya akan berusaha melakukan adaptasi dalam menghadapi perubahan musim ini.

Para petani di satu sisi akan berjingkrak ria, karena masuknya musim penghujan ini adalah waktu yang tepat untuk bercocok tanam di sawah dan ladangnya. Tidak menutup kemungkinan, intensitas curah hujan ini menjadi motivasi tersendiri untuk lebih giat lagi dalam bekerja.

Sebaliknya, mungkin akan berbeda cerita tatkala musim penghujan ini justru menjadi salah satu biang keladi di balik gagalnya panen raya yang diidam-idamkan oleh para petani. Bagaimanapun jenis tanaman seperti padi, tomat, cabai dan tanaman rambat lainnya akan mudah membusuk dikala buahnya terendam air terlalu lama.

Lain halnya dengan tanaman yang memiliki struktur pohon yang lumayan tinggi, sehingga kemungkinan membusuk buahnya sangat sedikit. Di antaranya seperti jagung, tebu dan lain sebagainya.

Dua kutub yang bertolakbelakang sebagai akibat dari pergantian musim itu juga turut dirasakan oleh para pedagang. Di satu sisi, ada sebagian pedagang yang merasa bersyukur atas datangnya musim penghujan. Sementara di sisi lain terdapat sekelompok pedagang yang menyesalkan perubahan keadaan terlalu cepat.

Para penjual gorengan, bakso, mie ayam, varian soto, pentol, mie rebus dan goreng, nasi goreng, jagung rebus dan bakar, kacang rebus, ronde serta varian makanan dan minuman lainnya yang disajikan tatkala panas dan hangat termasuk sebagian mereka yang bersyukur.

Mengapa demikian? Karena seiring limpahan curah hujan itu; warung-warung, kedai-kedai, kios-kios, angkringan dan tempat bentuk lain banyak laris diserbu para pelanggan. Bahkan tidak menutup kemungkinan rezekinya lebih mudah dari hari biasanya.

"Ya, kini Dewi Fortuna sedang berbaik hati kepada mereka", pecinta ramalan Yunani kuno itu memungkas kata. Begitu halnya  kalangan muslim yang juga percaya, Mika'il sebagai malaikat penebar rezeki memang benar-benar telah memberkati sebagian yang lain sesuai waktunya.

Sedangkan para penjual makanan dan minuman yang berbahan dasar varian es, juz dan rujak buah (petis) tidak menutup kemungkinan tergolong sebagai segelintir orang yang berusaha menerima keadaan sembari diam-diam menggerutu dan menghardik keadaan.

Kata serampangan sebagai wujud kekesalan tak ragu dilontarkannya. Rasa iri telah genap memenuhi dada sebagian manusia.  Manusia memang gemar melupa bahwa setiap orang membawa tiap-tiap rezeki bagiannya.

Setiap yang bernyawa memiliki kadaritas rezeki dengan jalan dan waktu yang berbeda-beda. Lantas mana mungkin kehendak tamak manusia berhasil melupakan hakikat kalau-kalau dirinya hanyalah papa.

Roda kehidupan terus berputar meniti sumbu yang tidak sama namun dalam haluan yang tak dapat dikatakan berbeda. Meskipun demikian, manusia tetap saja manusia yang selalu kekeh dengan pandangannya. Merasa benar dengan banalitas pemahamannya. Merasa 'wah' dengan secuil pengetahuannya.

Hingga akhirnya sampailah kita pada satu pemahaman, bahwa pola itu berjalan dengan kadaritas hikmah yang dikandungnya. Hikmah yang hanya dapat diambil oleh orang-orang yang mau berpikir dan memerhatikan keagungan Tuhannya.

Bagaimanapun, dengan mata yang terbelalak dan kesadaran penuh manusia harus mulai memahami bahwa pengkategorian dan pemilahan kebutuhan hidup itu disebabkan oleh pergantian musim yang pada kenyataannya berpengaruh besar pada penghasilan harian sebagian profesi.

Bahkan tidak dapat dipungkiri pula, terdapat beberapa profesi yang terpaksa harus gulung tikar atau memilih banting setir untuk beradaptasi dengan situasi. Tetap berdagang namun mengganti produk yang dijajakan di lapaknya.

Tidak hanya berimbas pada komoditas pertanian, pola konsumtif dan transaksi jual-beli, kenyataannya musim hujan juga kerap menjadi tantangan tersendiri bagi para pegawai kantoran, pelajar dan profesi lainnya. Hal itu dibuktikan dengan tersendatnya masalah waktu dan kebutuhan tersier yang memang bertansformasi menjadi kebutuhan sekunder tatkala itu.

Kehadiran penjajak jas hujan dan payung menjadi intensitas yang terus diburu. Bahkan penggunaan payung dan jas hujan di musim penghujan telah menjadi polarisasi candu. Candu yang kehadirannya mengalahkan kedekatan langit biru dan awan yang nampak  abu-abu.

Sadar ataupun tidak, profesi musiman itu yang sering kita abaikan dan bangkrut mendadak seiring pergantian musim yang tidak menentu. Tapi masalahnya, apa kita benar-benar yakin bahwa mereka lebih pandai mengeluh masalah rezeki dan keadaannya? Bahwa mereka yang penghasilannya tidak menentu lebih suka menggerutu dan memalingkan wajahnya dari karunia Tuhan-Nya?

Tentu kita di sini bukan hendak menghakiminya. Membanding-bandingkan antara kehidupan sehari-hari kita yang begitu mudah dengan jari-jemari onak yang menjadi kawan setia rutinitas mereka. 

Tentu kita telah keliru banyak jika kita menilai dari sekian mentereng pulasan fisiknya. Ah, jangan sampai kita lupa bahwa rupawan mudah untuk di poles tapi kejernihan dan kedamaian hati sumber Kehidupan sentosa.

Adakalanya manusia dilimpahkan rezeki yang tak terhingga namun ia sama sekali tak pernah mampu menikmatinya. Ada pula manusia, yang bertubi-tubi ditimpakan ujian namun ia tetap tegar tersenyum dalam menghadapinya. Mengapa demikian? Karena mereka telah mengerti banyak perihal  menjalani kehidupan di dunia. Kelapangan, keikhlasan dan rasa syukur tidak lain adalah kuncinya.

Lantas masih mau, memaki hujan sebagai ketidakpedulian Tuhan atas atas makhluk-Nya? Menghardik terik sebagai keadaan yang kian mencekik?

Jika semua keadaan di mata kita selalu salah, tidak menyenangkan dan dijalani penuh dengan keterpaksaan, jangan-jangan cara pandang kita saja yang telah nyaman menyalahkan? 

Hobi mencari-cari kambing hitam atas ketidakmapanan diri menangkap makna-makna yang hendak di sampaikan Tuhan melalui tanda-tanda perubahan alam dan lingkungan.

Akhir kata, bagaimanapun beberapa becana alam (red; longsor, banjir, abrasi dan lain sebagainya) yang terjadi seiring turun curah hujan tidak lain banyak dipengaruhi oleh faktor ulah kejahilan tangan manusia sendiri. Atas dasar demikian mari kita saling membahu dan berbenah diri untuk menjaga alam sebagai lingkungan hidup kita.

Tulungagung, 28 September 2020

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun