Mohon tunggu...
Roni Ramlan
Roni Ramlan Mohon Tunggu... Freelancer, Guru - Pembelajar bahasa kehidupan

Pemilik nama pena Dewar alhafiz ini adalah perantau di tanah orang. Silakan nikmati pula coretannya di https://dewaralhafiz.blogspot.com dan https://artikula.id/dewar/enam-hal-yang-tidak-harus-diumbar-di-media-sosial/.

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Tuan Muda Corona

17 Juli 2020   11:32 Diperbarui: 17 Juli 2020   11:26 60
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Tuan muda Corona pada akhirnya betah berlama-lama
Apalagi leluasa melenggang kaki dari ujung sini ke sana
Hilir-mudik tak habis-habisnya berpangku tangan membusung dada
Tertawa terbahak-bahak membopong bahagia

Sembari menatap tajam ke arah semua
Dagunya terlalu asyik ditopang alur cerita
Mendengar kawanan manusia meremehkan segalanya
Bebalnya akut tak terkira
Di pojokan warung kopi itu ia menyembunyikan gelak tawa

Sesekali ia ilfill bercampur taruhan curiga
Melihat keengganan warga dikarantina
Mengetahui khalayak ramai diam-diam kelayapan seperti biasa
Menggorong-gorong di jalan raya

Tapi tak apa,
Nyatanya kecerdasan mereka menipu mata melonjak satu hasta
Dan semakin piawai memperdaya
Menerka-nerka muara anekdot melawan fakta

Ah, manusia tetap saja tidak pernah benar-benar percaya
Pikirnya, percaya pada keadaan yang abstrak hanyalah sia-sia
Kesia-siaan itu telah terlanjur menjadi luka
Luka dalam yang wujudnya lambat-laun memupus geliat jiwa

Masalahnya, bagaimana mungkin jiwa-jiwa itu akan mampu mengandeng hampa
Bertahan hidup dalam kesemuan fatamorgana
Sementara rumah-rumah Tuhan itu disegel aparatur negara
Tanpa kompromis, siapapun tak boleh mengunjunginya

Mesjid-mesjid itu tak lagi bernyawa
Surau-surau itu telah lama kehilangan nafas panjang kehidupannya
Musholla-musholla itu kering kerontang tak ada lagi fungsinya
Satu-satunya hamba yang taat bersujud hanyalah Corona

Oh tuan muda ciptaan Tuhan  yang sedang merana
Pun tuan muda melulu dipandang sebagai cerita fiktif belaka
Paparan isu-isu strategis media, diasumsikan sekadar sugesti prasadar umat manusia
Bagaimanapun kepercayaan itu tidak jauh lebih penting dibanding urusan perutnya
Bahkan jauh berada di bawah dengkulnya

Kamu lihat, mereka menangis bukan karena dahaga
Mereka menguntit bukan serta-merta tak mampu membaca
Jeritnya bukan karena takut diliput duka
Melainkan, kusutnya wajah tak mampu beli Kouta

Ya, itu yang kusebut gila alias ketidakwarasan nyata
Hampir setiap inci harapan bergantung pada kuota
Di mana bilik-bilik pemuja kemalasan bercongkol kuat di dalam hatinya
Semarak berpendidikan loyo terjerat kasus amnesia
Kreativitas tersandung batu pijakan awal yang mulai sirna

Tulungagung, 17 Juli 2020

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun