Maman A Rahman
Maman A Rahman Peneliti, Penulis Lepas

Alumnus Filsafat dan Mistisisme IAIN Jakarta dan Mengkaji Islam dan Psikologi di UI. Menyukai sastra. Tinggal di Jakarta.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Si Penari Sintren

10 Oktober 2018   14:30 Diperbarui: 12 Oktober 2018   08:09 3768 10 6
Cerpen | Si Penari Sintren
Foto: nuansasupranatural.blogspot.com

Malam mulai merangkak. Gelap menyelimuti. Rembulan mengintip di balik pohon mangga yang rimbun. Suara jangkrik mengikik menghibur malam.

Sayup-sayup terdengar nyanyian.

Turun turun sintren

Sintrene widadari

Nemu kembang yun ayunan

Nemu kembang yun ayunan

Kembange putri mahendra

Widadari temurunan

Nyanyian itu sebagai pertanda pertunjukan sintren sudah dimulai. Suara sinden lirih mengundang warga untuk mendatanginya. Irama buyung berpadu serasi dengan bumbung, tutukan dan kecrek. Menghadirkan suara musik khas seni sintren.  

Warga kampung Belut, di pesisir pantai utara Jawa Barat:  tua-muda, laki-perempuan berdatangan ke pelataran rumah H. Sulaeman. Mereka ingin menyaksikan pertunjukan sintren. Jarang sekali warga bisa menikmati pertunjukan ini. Pertunjukan yang unik dan berbau mistis.

Hampir setiap musim panen padi tiba, rombongan itu mendatangi kampung itu. Ketika bulan bersinar terang, mereka menggelar pertunjukan tari sintren.

Pertunjukan malam itu segera dimulai.  

Seorang perempuan muda berparas ayu, khas pantura,  membawa buntelan kain terlihat dipegang oleh dua orang laki-laki berpakaian serba hitam. Perempuan muda itu disyaratkan harus masih perawan untuk bisa menjadi penari sintren. Konon sintren itu berarti "dia seorang putri."

Di depan perempuan  muda itu seorang laki-laki dengan kumis dan jenggot yang panjang sedang memegang tempat kemenyan yang terbuat dari tanah liat. Asap kemenyan mengepul menyebar ke segala arah dan baunya memburu setiap lubang hidung. Suasana mistis sangat terasa.

Nyanyian Turun turun sintren Sintrene widadari  terus dialunkan oleh para sinden seakan meminta agar sintren agar cepat beraksi.  Ranggan atau kurungan ayam  sudah siap dengan kain yang menutupinya. Tikar pandan disiapkan untuk membungkus penari sintren yang siap masuk kurungan. Mantra-mantra mengundang roh Dewi Lanjar atau Rr. Rantamsari, Ibunda R. Sulandono yang konon biasa mempertemukan roh anaknya dengan pacarnya, Sulasih, terus dilapalkan oleh ki dalang.  

Gadis itu berdiri. Kain bercorak batik dibungkuskan ke tubuhnya. Kemudian para laki-laki itu mengikatnya dengan tambang dari kaki sampai leher. Laki-laki berjenggot kemudian menebarkan asap kemenyan ke sekitar tubuh dan wajah gadis itu dan mengusapkan tangannya ke mukanya.

Seketika itu juga, si gadis pingsan terjatuh disangga para lekaki dan membaringkannya di tikar pandan yang sudah disiapkan. Kemudian orang yang berjenggot sebagai dalangnya membukus gadis itu dengan tikar pandan dan memasukannya ke ranggan atau kurungan ayam.

Nyanyian terus dilantunkan dengan iringan musik khas sintren.

Selasih Selasih Sulandana

Menyangkuti ragae sukma

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6