MomAbel
MomAbel Wife and Mom of 2

Menulis untuk berbagi... #wisatakeluarga

Selanjutnya

Tutup

Film

Film "Koki-koki Cilik", Ketika Anak Laki-laki Hobi Masak

12 Juli 2018   23:15 Diperbarui: 13 Juli 2018   09:02 244 7 5
Film "Koki-koki Cilik", Ketika Anak Laki-laki Hobi Masak
Sumber : Instagram Film Koki-koki Cilik

Begitu muncul iklan dan trailer film ini, saya sudah merasa "wajib" mengajak anak saya nonton. Judul filmnya saja sudah cocok untuk anak-anak, tentulah bagus. Apalagi untuk mengisi liburan yang panjang ini.

Singkat cerita hari Minggu (8/6), kami sekeluarga nonton film ini. Kami berempat menikmati film ini. Banyak cerita lucu yang membuat kami tertawa. Anak-anak menikmati film ini sampai selesai.

Di awal cerita memang syahdu dengan adegan Bima dan ibunya yang susah payah mendaftar Cooking Camp. Dengan berjalannya cerita, kita jadi tahu bahwa Bima memang punya hobi sekaligus bakat memasak. Cita-citanya pun menjadi chef terkenal dan membangun restoran.

Disini saya tidak bermaksud membuat resensi film. Namun sekedar berbagi kesan dan pesan yang saya dapat dari film tersebut. Rasanya saya semacam "dicolek" untuk kembali sadar bahwa tiap anak punya bakat kemampuan dan juga passion masing-masing.

Pernah suatu kali di hari Minggu sepulang gereja, anak perempuan saya (7 tahun) mengatakan : "Mom... Dad... I want to be barista". Sontak saya kaget tapi berusaha menutupinya dengan tersenyum. Begitu juga suami saya. Anak saya malah ngambek : "kenapa mama sama papa ketawain aku?" Duh, garuk-garuk kepala deh!

Padahal sebenarnya sederhana, dia sedang membaca buku berjudul Instant Expert. Ada bagian yang menjelaskan bagaimana menjadi barista berikut cara dan takaran kopi, susu, gula dan seterusnya untuk berbagai jenis minuman kopi. Karenanya, dia ingin menjadi barista. Sesuatu yang wajar untuk anak seusianya.

Hmmm.... mungkin kami ini generasi jadul yang masih kaku ya? Meskipun berusaha fleksibel dan demokratis terhadap anak, tapi tetap saja kids jaman now bikin kita gumun dan ujungnya terbengong-bengong. Stereotip cita-cita jaman dulu itu ya dokter, pilot, polisi, dan atau tentara.

Cerita yang sama di tahun kemarin saat memilih mata pelajaran elective di sekolah (semacam ektrakurikuler). Anak saya memilih cooking, padahal banyak elective lain yang bagus menurut kami. 

Dari bahasa Mandarin, keyboard, dancing, violin, atau painting. Dia keukeuh sekali ingin cooking. Saya mikirnya kalau cooking bisa di rumah dengan saya. Tapi ya sudah, setahun dijalani ya dia happy. Saya selalu hafal tiap hari Rabu, pulang sekolah selalu ceria karena habis cooking di sekolah.

Kembali ke film Koki-koki Cilik, bagaimana Bima bisa bercita-cita menjadi chef. Sebenarnya tidak lepas dari peran almarhum bapaknya. Bima ingin meneruskan cita-cita bapaknya dan mendirikan rumah makan. Ibunya pun mendukung hobinya. Buku resep warisan bapaknya diberikan kepada Bima. Bahkan sang ibu mau bersusah payah mengumpulkan uang sebesar 12,5 juta untuk Cooking Camp.

Jadi, apakah memasak hanya urusan perempuan? Apakah anak laki-laki tidak boleh masuk ke dapur? Sepertinya sudah tidak jaman seperti itu. Sudah selayaknya kita memberi kesempatan yang sama untuk anak-anak belajar apapun sesuai minatnya tanpa melihat gender.

Nah, di film ini Bima bersaing dengan Audrey, anak cewek yang merupakan juara bertahan Cooking Camp. Bertolak belakang dengan Bima, Audrey sebenarnya tidak hobi masak. Dia hanya sekedar menuruti kemauan sang mommy yang otoriter dan ambisius. Ibarat robot, Audrey belajar memasak untuk menjadi juara. Hobi Audrey yang sebenarnya adalah modern dancing.

Dari tokoh Bima dan Audrey ini, kita bisa membandingkan sekaligus belajar bagaimana menyikapi minat dan bakat anak. Akankah seperti mommy Audrey yang memaksakan keinginannya kepada anak atau ibu Bima yang mendukung bakat dan minat Bima dalam memasak?

Jika kita menonton filmnya, kita akan tahu bahwa anak lebih bahagia ketika melakukan sesuatu sesuai minat dan bakatnya. Bisa saja hasil masakan sama, tapi kebahagian dan kepuasan batin ada pada anak yang melakukannya dengan riang tanpa beban.

Selain itu, karakter anak akan terbentuk dengan sendirinya ketika merasa bahagia dan dicintai. Solidaritas, kepedulian, kejujuran, dan kebaikan akan terpancar dengan sendirinya. Lagi-lagi film ini mengulik arti seorang juara seperti film anak umumnya.

Orangtua yang ikut menonton akan paham konsep juara yang sebenarnya. Namun dalam kehidupan nyata tidak gampang juga menerapkan. Tidak mudah memang menjadi orangtua yang demokratis. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Apalagi kids jaman now yang notabene generasi milenial ini kritis dan cara berpikirnya out of the box.

Tapi kalau kita telaah lebih jauh, bukankah kita ingin anak-anak yang ceria dan bahagia? Di akhir film, Bima bahagia menjadi chef dan membuka restoran. Sedangkan Audrey bahagia bisa menari sesuai hobinya dan menjadi juara. Masing-masing menemukan kebahagiaan sesuai bakat dan minatnya. 

Setelah nonton film ini, saya serasa diingatkan untuk mendukung minat dan bakat anak, memberinya kesempatan, dan juga menyayangi sepenuh hati. Bagaimanapun anak akan menjadi juara yang terbaik di hati kita. Sama seperti kita di hati mereka.

Cikarang, 12 Juli 2018